JAKARTA, Bisnistoday- Setiap tanggal 25 Maret, masyarakat di seluruh penjuru dunia menggelar Global Climate Strike atau Jeda Iklim Global yang merupakan unjuk rasa dengan mengangkat permasalahan krisis iklim.
“Krisis iklim telah datang lebih cepat dari semua perkiraan yang ada,” ujar Firdaus Cahyadi, pegiat lingkungan dari Indonesia Team Leader 350.org, “Ini adalah ancaman nyata bagi seluruh penduduk bumi.”
Upaya menghentikan penggunaan energi kotor batu bara, lanjut Firdaus Cahyadi, merupakan sebuah keharusan agar krisis iklim dapat diatasi. “Global Climate Strike adalah momentum bagi kita semua untuk kembali menyuarakan bahwa darurat iklim telah terjadi, penghentian penggunaan energi kotor batu bara tidak dapat ditunda lagi,” ujarnya.
Berita Terkait : Krisis Iklim, BNI Menuai Petisi karena Masih Danai Batu bara
“Semua pihak harus mendukung upaya penghentian penggunaan energi batu bara ini, termasuk perbankan,” tambahnya.
Di Indonesia, lanjut Firdaus Cahyadi, beberapa bank masih saja mendanai energi kotor batu bara, salah satunya adalah BNI. “Pada April 2021, misalnya, BNI menjadi bagian dari bank yang memberikan kredit sindikasi pada Adaro,” jelas Firdaus Cahyadi.
“Padahal, Adaro sendiri merupakan produsen batu bara terbesar kedua di Indonesia yang memiliki cadangan sebesar 1,1 miliar ton. Bayangkan berapa emisi gas rumah kaca (GRK), penyebab krisis iklim, bila seluruh cadangan batu bara itu dibakar.”
Para CEO bank yang masih mendanai energi kotor batu bara, lanjut Firdaus Cahyadi, harus mendengarkan suara-suara anak muda yang menginginkan mereka stop danai batu bara. “Jika mereka mengabaikan, siap-siap saja ditinggalkan nasabah mudanya,” paparnya./









































