JAKARTA, Bisnistoday – Invasi Israel dengan keterlibatan Amerika Serikat terhadap Iran, menciptakan ketegangan global yang berpotensi merembet ke ranah olahraga.Di saat bersamaan, Meksiko sebagai salah satu tuan rumah menghadapi instabilitas internal yang menguji kesiapan keamanan dan logistik.
Syaiful Amri, pengamat sepak bola, menilai FIFA menghadapi tantangan politis dan moral untuk menjaga netralitas olahraga di tengah dunia yang semakin terpolarisasi.
“Piala Dunia 2026 menjadi cermin zaman, apakah sepak bola tetap mempersatukan dunia atau justru terseret konflik global yang tak terhindarkan,” ujarnya Sabtu (28/2/2026)
Bisa Ditunda atau Dibatalkan?
“Dari sudut pandang FIFA, penundaan atau pembatalan Piala Dunia 2026 sangat kecil kemungkinannya,” ujar Syaiful Amri.Sejarah menunjukkan FIFA cenderung mempertahankan turnamen, bahkan di tengah krisis global, selama tiga prasyarat utama terpenuhi yakni keamanan lintas negara tuan rumah, stabilitas logistik, dan kepastian komersial.
“Secara institusional, FIFA telah mengantisipasi risiko geopolitik dengan model multi-host (Amerika Serikat–Kanada–Meksiko),” kata mantan pengurus PWI Pusat itu.Skema ini memberi fleksibilitas tinggi: pertandingan dapat dialihkan antarnegara tanpa merusak struktur kompetisi.
Pembatalan hanya realistis jika terjadi konflik berskala global yang langsung mengganggu mobilitas internasional dan keselamatan peserta.Dari perspektif publik dunia, sentimen moral memang menguat—terutama bila konflik internasional makin brutal.
Namun sejarah memperlihatkan bahwa tekanan etis jarang berujung pada pembatalan, melainkan pada protes simbolik, boikot terbatas, atau tuntutan sikap politik dari FIFA.
Turnamen ini tidak hanya soal sepak bola, melainkan juga ujian: sejauh mana olahraga global mampu bertahan sebagai ruang netral di dunia yang kian terfragmentasi.”Piala Dunia 2026 hampir pasti tetap digelar, tetapi dengan penyesuaian keamanan dan distribusi lokasi,” ujar Syaiful Amri.//




