www.bisnistoday.co.id
Minggu , 9 Agustus 2026
Home GLOBAL Presiden Nepal Mundur Setelah PM KP Sharma Oli Lepas Jabatan di Tengah Kerusuhan
GLOBALKawasan Global

Presiden Nepal Mundur Setelah PM KP Sharma Oli Lepas Jabatan di Tengah Kerusuhan

Presiden Nepal
PRESIDEN NEPAL, Ram Chandra Poudel./AFP
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Situasi politik Nepal memasuki babak genting. Presiden Nepal Ram Chandra Poudel mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa (9/9), hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri KP Sharma Oli melepaskan jabatannya. Langkah dramatis ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran yang berujung ricuh, bahkan memicu pembakaran rumah sejumlah pejabat tinggi negara.

Unjuk rasa yang bermula dari tuntutan reformasi ekonomi dan pemberantasan korupsi itu kian memanas dalam beberapa hari terakhir. Ribuan warga turun ke jalan-jalan utama Kathmandu dan kota besar lain, menyerukan perubahan menyeluruh dalam kepemimpinan.

“Saya memilih mundur demi menjaga persatuan bangsa. Negara tidak boleh terjebak dalam konflik yang semakin memperdalam perpecahan,” ujar Presiden Poudel dalam pidato singkat yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Nepal.

Sebelumnya, PM KP Sharma Oli sudah lebih dulu menyatakan pengunduran diri setelah tekanan publik dan partai koalisi kian tak terbendung. “Saya menerima aspirasi rakyat. Demi stabilitas, saya melepaskan jabatan ini,” kata Oli kepada awak media di kantor perdana menteri.

Kerusuhan Meluas

Kericuhan meletus pada Senin malam (8/9) ketika massa demonstran bentrok dengan aparat keamanan. Beberapa bangunan pemerintahan dirusak, dan sejumlah rumah pejabat senior dibakar massa. Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 12 orang terluka, termasuk aparat keamanan.

“Kami berusaha mengendalikan situasi, tetapi amarah massa sangat sulit diredam,” ungkap Juru Bicara Kepolisian Kathmandu, Hari Prasad Sharma, seraya menambahkan bahwa pasukan tambahan telah dikerahkan untuk menjaga fasilitas publik vital.

Kekhawatiran Krisis Politik Berkepanjangan

Pengunduran diri Presiden dan Perdana Menteri secara beruntun menimbulkan kekhawatiran terjadinya kekosongan kekuasaan. Parlemen Nepal dijadwalkan segera menggelar sidang darurat untuk menentukan mekanisme transisi pemerintahan.

“Ini adalah momen paling kritis dalam sejarah politik Nepal modern. Jika tidak ada langkah cepat, krisis bisa semakin dalam,” kata analis politik dari Tribhuvan University, Sushil Koirala, kepada media lokal.

Para pengunjuk rasa menegaskan bahwa gerakan mereka tidak akan berhenti hanya dengan pergantian pemimpin. “Kami ingin sistem yang bersih dan benar-benar berpihak pada rakyat, bukan sekadar ganti orang,” ujar salah satu demonstran di Kathmandu.

Dengan situasi yang masih tegang, komunitas internasional menyerukan ketenangan dan dialog inklusif. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinannya dan menawarkan dukungan mediasi jika diperlukan./BBC news, dan berbagai sumber lainnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Wamenperin
Kawasan Global

Forum BRICS TMM : Wamenperin Sampaikan Pentingnya Kolaborasi Industri Internasional Ditengah Disrupsi Teknologi

JAKARTA, Bisnistoday - Ketahanan industri global kini tidak lagi ditentukan semata oleh...

Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed (Dok:Reuters)
GLOBAL

Kemenangan El-Sayed Permalukan Kubu Pro-Israel

JAKARTA, Bisnistoday – Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan dalam pemilihan pendahuluan Partai...

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
GLOBAL

AS Mengklaim Perundingan Selat Hormuz Mengalami Kemajuan

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan pihaknya secara...

Demo Antiperang (dok:Unsplash.comev-Mz6vYiI8CSA)
GLOBAL

Babak Baru Perundingan AS-Iran Dimulai Hari Ini

JAKARTA, Bisnistoday - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran...