BANDUNG, Bisnistoday – Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menyoroti berbagai tantangan dan peluang dalam transformasi industri baja menuju net zero emission, mulai dari tingginya emisi karbon, mahalnya biaya teknologi ramah lingkungan, hingga kesiapan energi dan pasar di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Prof. Zulfiadi Zulhan dari Teknik Metalurgi ITB menjelaskan bahwa industri baja menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Rata-rata produksi satu ton baja menghasilkan sekitar 2,4 ton CO2.
Menurutnya, kebutuhan baja terus meningkat sejak Revolusi Industri untuk kendaraan, kapal, infrastruktur, hingga perumahan. Namun, penggunaan batu bara dalam proses produksi juga meningkatkan emisi karbon.
Baca Juga:Masjid Salman ITB Resmikan Program Daur Ulang Air Hujan dan Air Wudhu
Baca Juga:Alumni ITB 80 Dorong Peran Teknologi dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045
“Peralihan dari penggunaan arang kayu ke batu bara memang meningkatkan kapasitas produksi, namun sekaligus menghilangkan unsur netral karbon dalam sistem produksi,” ujar Prof. Zulfiadi, Kamis (7/5)
Ia mengatakan, teknologi blast furnace diperkirakan masih akan digunakan hingga 2050 karena teknologinya sudah matang dan masih menjadi andalan industri.
Meski begitu, industri baja global mulai beralih ke teknologi yang lebih rendah emisi, seperti penggunaan gas alam dan hidrogen.
Prof. Zulfiadi menjelaskan, salah satu jalur transisi yang dinilai realistis adalah penggunaan teknologi DRI dan Electric Arc Furnace (EAF) berbasis gas alam sebelum beralih penuh ke hidrogen.
Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri baja hijau berbasis hidrogen. Namun, tantangan utamanya masih pada biaya energi yang tinggi dan kebutuhan listrik yang besar.
“Implementasi teknologi berbasis hidrogen penuh saat ini belum kompetitif secara ekonomi. Tantangan utama masih terletak pada biaya energi,” ungkapnya.
Selain itu, Indonesia juga dinilai masih bergantung pada teknologi luar negeri dalam pengembangan industri baja rendah karbon.
Menutup diskusi, Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., mengatakan keberhasilan transisi menuju industri baja hijau tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga dukungan kebijakan dan pasar.
“Tanpa insentif pasar yang memadai terhadap produk hijau, adopsi teknologi rendah karbon akan sulit berkembang secara masif,” kata Yudo.E2


