JAKARTA, Bisnistoday – Kinerja ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadikannya sebagai capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa angka tersebut melampaui capaian pertumbuhan triwulan I pada periode sebelumnya. “Jika melihat tren sejak 2021 hingga 2026, pertumbuhan 5,61 persen ini merupakan yang paling tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Secara historis, ekonomi Indonesia sempat mengalami kontraksi pada triwulan I 2021 sebesar minus 0,69 persen akibat dampak pandemi. Namun, sejak itu pertumbuhan terus membaik, yakni 5,03 persen pada 2022, 5,04 persen pada 2023, 5,11 persen pada 2024, dan 4,87 persen pada 2025.
Meski tumbuh kuat secara tahunan, secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025. Hal ini dinilai sebagai pola musiman yang lazim terjadi setelah lonjakan aktivitas ekonomi di akhir tahun.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi sebesar 2,94 persen. Peningkatan mobilitas masyarakat selama libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri menjadi faktor pendorong utama.
Selain itu, berbagai stimulus pemerintah turut menjaga daya beli masyarakat, mulai dari diskon tiket transportasi, pencairan tunjangan hari raya (THR), hingga kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 4,75 persen.
Investasi juga menunjukkan kinerja solid. Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen, didorong oleh proyek strategis nasional serta partisipasi sektor swasta. Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak signifikan sebesar 21,81 persen, seiring peningkatan belanja pegawai dan program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perkuat Belanja Pemerintah
Menghadapi triwulan II 2026, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat belanja negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa strategi fiskal akan difokuskan pada peningkatan belanja pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi.
“Belanja pemerintah akan menjadi penopang utama, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah minimnya faktor musiman,” kata Airlangga.
Sejumlah stimulus telah disiapkan, termasuk pencairan gaji ke-13 ASN senilai sekitar Rp55 triliun, percepatan bantuan pangan bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, serta keberlanjutan subsidi energi sebesar Rp356,8 triliun dalam APBN 2026.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan dan perumahan, seperti revitalisasi sekolah dan program pembangunan tiga juta rumah melalui skema FLPP.
Dengan kombinasi konsumsi yang kuat, investasi yang tumbuh, serta dukungan kebijakan fiskal, pemerintah optimistis laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap terjaga sepanjang 2026, meski di tengah tantangan global yang dinamis./Ant/


