www.bisnistoday.co.id
Rabu , 22 April 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Sukses Bangunkan Lahan Tidur, Produksi Gabah Petani Capai 8 Ton per Ha
Ekonomi & Bisnis

Sukses Bangunkan Lahan Tidur, Produksi Gabah Petani Capai 8 Ton per Ha

Panen Padi
COUNTRY GM Syngenta Indonesia, Kazim Hasnain dan Rice Business Head PT WPI Saronto, dalam Panen Padi Swa Kelola./
Social Media

SIDOARJO, Bisnistoday – PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) berhasil melakukan pendampingan kepada petani mengolah lahan tidak produktif seluas 6 hektare (ha) di Desa Kedung Rawan, Sidoarjo, Jawa Timur. Kesuksesan itu terbukti dengan  produksi gabah yang mencapai 8 ton per ha pada musim tanam (MT) ketiga.

Selain WPI, program pendampingan tersebut juga didukung oleh PT wilmar Chemical Indonesia yang memproduksi Pupuk Mahkota dan Syngenta yang menyediakan pestisida.

Rice Business Head PT WPI Saronto menjelaskan, dalam program pendampingan yang telah berlangsung sejak 2023, pihaknya berhasil mendampingi petani menghidupkan kembali lahan tidak produktif tersebut. Pada MT ketiga itu  petani mampu mencapai produksi gabah hingga 8 ton per ha.

“Keberhasilan ini bisa menunjukkan ke petani,  kalau dikelola dengan baik hasilnya akan bagus,” kata Saronto di sela Panen Padi Swa Kelola di Desa Kedung Rawan, Rabu (8/5) lalu.

Pendampingan Petani

Sesuai komitmen awal, pendampingan perusahaan hanya dilakukan hingga tiga kali musim tanam. Setelahnya, lahan akan dikembalikan ke masyarakat untuk dikelola secara mandiri.

Meski demikian, WPI akan tetap memberikan pendampingan teknis hingga mereka mampu mengelola sendiri. Perusahaan juga membangun pintu air khusus untuk lahan tersebut  di saluran irigasinya. “Kemitraan ini tetap berlanjut karena kami menyerap hasil panen petani,” ujar dia.

Awalnya, lahan tidak produktif tersebut sudah 10 tahun tidak digarap petani karena termasuk ke dalam daerah banjir. Lahan itu kemudian ditawarkan ke Wilmar agar memberikan pendampingan ke petani.

Saronto menjelaskan,  menghidupkan lahan tidur tidak mudah. Pada MT satu, pengelolaan lahan dapat dikatakan gagal karena masih lahan banyak gulma yang tumbuh dan menelan biaya cukup besar. Saat panen  hasilnya juga hanya 1,6 ton per ha dari target 6 ton per ha.

Belajar dari MT satu, perusahaan mulai menganalisa kembali dan melakukan perbaikan pada pengelolaan lahan. Pada MT dua, selain biaya dapat ditekan, hasil panen melonjak hingga 6 ton per ha.

Saronto menambahkan, pengelolaan lahan tidur bertujuan untuk mendukung peningkatan produksi pangan melalui lahan yang sudah ada. WPI telah berencana kembali melakukan pendampingan lahan tidak produktif lainnya. Salah satunya ada di Mojokerto seluas 20 ha.

“Kendalanya adalah biayanya besar dan potensi gagal pada MT satu, itu yang menyebabkan lahan tidur banyak yang dibiarkan,” tutur Saronto.

Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Abriyani Susilowati mengatakan, kemitraan antara pemerintah, perusahaan dan petani dinilai seperti gayung bersambut karena adanya bantuan bagi kebutuhan petani.

Saat ini semakin banyak petani berusia lanjut sehingga tenaganya berkurang. Sementara, kebutuhan pangan terus meningkat yang dibarengi dengan luas lahan yang berkurang. “Kami menyambut baik kerjasama ini, dengan harapan dapat membantu petani dan mendapatkan hasil yang lebih baik,” kata Abriyani.

Pihaknya berharap, peningkatan produksi pangan di Sidoarjo dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sendiri, karena selama ini wilayah tersebut belum dikenal sebagai lumbung pangan. Kenaikan harga beras juga akan berdampak terhadap inflasi.

Ketua Kelompok Tani Suko Tani Imam Baihaqi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi karena mendapat pendampingan dari perusahaan dan dinas pertanian daerah dalam menghidupkan lahan tidak produktif.

Petani juga tidak perlu keluar modal karena sarana produksi telah disediakan perusahaan. Mereka juga berkomitmen untuk meneruskan metode yang diajarkan dalam pendampingan tersebut. “Jaman sekarang petani harus maju agar tidak dipandang sebelah mata,” ujar Baihaqi.

Selain itu, petani juga dapat menjual hasil panennya ke WPI, sehingga tidak perlu lagi tergantung tengkulak. Mereka juga akan mengajak petani lainnya untuk bergabung dalam program tersebut. /

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Utang Negara
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Bayang-Bayang “Debt Wall” 2026: Ujian Berat Fiskal Indonesia Saat Gejolak Global

JAKARTA, Bisnistoday - Indonesia menghadapi tantangan fiskal yang tidak ringan menjelang tahun...

Jalan Nasional
Ekonomi & Bisnis

Menteri Dody Ungkapkan Peran Penting Penilik Jalan Berlubang di Pantura Jawa

JAKARTA, Bisnistoday -  Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan peran penilik...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop dan Green X Buat MoU Terkait Pembangunan PLTS Untuk KDKMP di Wilayah 3T

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menjalin kerja sama dengan PT Energy...

PALMEX 2026
Ekonomi & Bisnis

Pelaku Industri Kelapa Sawit Global Bakal Semarakkan PALMEX Jakarta 2026

JAKARTA, Bisnistoday– PT Fireworks Indonesia akan menggelar PALMEX Jakarta edisi ke-16. Pameran...