JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (15/9) ditutup melemah 18,87 poin ke posisi 6.110,23. Sementara indeks LQ45 turun 4,17 poin ke posisi 866,13. Rilis BPS yang menyatakan bahwa neraca perdagangan Agustus mengalami surplus tak mampu mengairahkan investor.
“Rilis data neraca perdagangan yang mencatatkan surplus, belum mampu membawa IHSG ditutup dalam zona hijau,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (15/9).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Agustus 2021 mengalami surplus sebesar 4,74 miliar dolar AS dengan nilai ekspor 21,42 miliar dolar AS dan impor 16,68 miliar dolar AS.
Dibuka melemah, IHSG terus terkoreksi hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih tak mampu beranjak dari zona merah sampai penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor meningkat dengan sektor energi naik paling tinggi yaitu 0,85 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik masing-masing 0,64 persen dan 0,49 persen.
Sedangkan enam sektor terkoreksi dengan sektor perindustrian turun paling dalam yaitu 0,9 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor keuangan primer masing-masing turun 0,76 persen dan 0,62 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp94,86 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.389.173 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26 miliar lembar saham senilai Rp11,57 triliun. Sebanyak 256 saham naik, 255 saham menurun, dan 149 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 158,39 poin atau 0,52 persen ke 30.511,71, Indeks Hang Seng turun 469,02 poin atau 1,84 persen ke 25.033,21, dan Indeks Straits Times terkoreksi 21,76 poin atau 0,71 persen ke 3.058,61.
Rupiah Menguat
Sementara di pasar uang, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat, dipengaruhi rilis data inflasi AS yang dirilis Selasa (14/9) malam.
Rupiah ditutup menguat 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.243 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.248 per dolar AS.
“Data inflasi AS memang menunjukkan sedikit penurunan pertumbuhan. Efeknya pun cukup lumayan membuat nilai dolar AS sedikit melemah hari ini,” kata Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Nikolas Prasetia seperti dikutif Antara.
Consumer Price Index (CPI) AS tumbuh 0,3 persen (mom) atau 5,3 persen (yoy) pada Agustus, sedikit lebih rendah dibandingkan Juli 0,5 persen (mom) atau 5,4 persen (yoy).
Salah satu komponen yang mendorong penurunan CPI tersebut adalah harga mobil bekas dan truk yang turun 1,5 persen, mengakhiri kenaikan selama lima bulan beruntun.
Nikolas menyampaikan meski ada harapan tapering dari sejumlah pejabat The Fed minggu lalu, tetap saja arah bank sentral AS saat ini masih mempertahankan kebijakan stimulus moneternya.
“Jadi dengan data inflasi yang rilis semalam yang sedikit lebih lambat dari periode sebelumnya, cukup memberikan koreksi pada dolar AS dan menyumbang sedikit penguatan pada IDR (rupiah),” ujar Nikolas.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.254 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.240 per dolar AS hingga Rp14.265 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menguat ke posisi Rp14.252 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.257 per dolar AS./







































