MEMASUKI 1 Muharam 1448 atau tahun baru Islam atau dikenal dalam masyarakat yang menganut kalender Jawa, sebagai malam 1 Suro, menjadi hari special dalam masyarakat khususnya orang Jawa. Di berbagai tempat, tahun baru Islam dimeriahkan dengan dengan kirab, renungan, maupun ritual budaya lainnya. Walau peringatan 1 Suro ini beragam, substansinya peristiwa hijrah menjadi substansi dasar lahirnya kalender Hijriah menjadi perhatian masyarakat Islam.
Hingga kini, rasanya peristiwa hijrah yang ditauladani Nabi Muhammad SAW, tetap relevan ditengah tantangan kehidupan modern. Makna hijrah sebagai pedoman dalam menghadapi perubahan zaman yang kian penuh tantangan.
Seperti diketahui, bahwa Kalender Hijrah ditetapkan masa Khalifah Umar bin Khtattab, yang berpedoman bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammas SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun Islam. Bukan tanpa alasan, peristiwa hijrah merupakan satu peristiwa penting serta monumental dalam sejarah Islam, karena sebagai titik balik perjuangan Rasullulah dan sahabat, untuk membangun masyarakat lebih adil, beradab dan berlandasrkan nilai Islam.
Perjalanan hijrah sebagai peristiwa penuh tantangan, dan disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa Rosullulah dan Abu Bakar Ash-Shiddig mesti meninggalkan kampung tercinta, guna menyelamatkan dakwah Islam dari tekanan kaum Quraisy.
Pada saat bersembunyi di Gua Tsur, Rosullulah hendak menenangkan Abu Bakar yang begitu khawatir terhadap keselamatan bersama, yang kemudian diabadikan dalam surat At-Taubah ayat 40. “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Terlihat kalimat sederhana namun mengandung pelajaran besar tentang optimisme, keteguhan hati dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT, ditengah situasi krisis sulit sekalipun.
Secara fisik hijrah dalam dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun lebih dari itu, bahwa hijrah sebagai wujud transformasi mental, spiritual, dan sosial menuju keadaan yang lebih baik. Oleh sebab itu, sebagai esensial hijrah adalah kemauan untuk berubah, memperbaiki diri, dan meninggalkan perilaku yang tidak bermanfaat.
Hanya saja, makna yang mendasar ini seringkali tenggelam dalam berbagai simbol dan tradisi seremonial. Tidak sedikit masyarakat yang juga menjadikanya sebagai momentum evaluasi kehidupan.
Masih tetap relevan disaat tantangan masyarakat saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi digital telah membawa kemudahan, tetapi juga melahirkan berbagai persoalan baru, mulai dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, polarisasi sosial, hingga menurunnya kualitas interaksi antarmanusia.
Semangat hijrah juga tetap relevan ketika dimaknai sebagai keberanian meninggalkan budaya informasi yang menyesatkan menuju ke literah yang sehata. Begitupun, hijrah bisa dimaknai dengan sikap intoleran menuju penghormatan terhadap perbedaan. Hijrah semestinya juga disikapi dengan meninggalkan perilaku koruptif, manipulatif, dan egoistis menuju integritas, transparansi, serta kepedulian terhadap sesama.
Tradisi malam 1 Suro, sebagai nilai sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk melakukan introspeksi atau muhasabah. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Pesan tersebut mengingatkan bahwa kualitas kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya mengevaluasi diri secara jujur.
Berharap, tahun baru Islam dapat disikapi sebagai titik awal perubahan, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Hijrah seperti yang diajarkan Rosullulah sebagai langkah baru menuju peradaban yang lebih baik. Bisa saja, dalam kehidupan bermasyarakat, tahun baru Islam sebagai kesempatan untuk membangun etika, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kualitas moral ditengah tantangan zaman.
Perubahan selalu diawali dengan keberanian untuk melangkah yang lebih baik yang diyakini akan melahirkan perbaikan diri yang otentik. Inilah warisan sejarah Rasulullah SAW yang tetap relevan, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin membangun kehidupan yang lebih bermakna, berintegritas, dan berkeadaban./
Jakarta, 1 Muharam 1448 H
Tim Redaksi









































