www.bisnistoday.co.id
Selasa , 18 Agustus 2026
Home EDITOR'S VIEW Ritual Budaya dalam Sepak Bola
EDITOR'S VIEW

Ritual Budaya dalam Sepak Bola

Nyanyian, koreografi, busana tradisional, alat musik, hingga berbagai ritual kolektif, kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman menikmati sepak bola.

Viking Row, aksi Suporter Norwegia (dok: NBC)
Viking Row, aksi Suporter Norwegia (dok: NBC)
Social Media

Jika Anda penggemar sepak bola dan pernah nonton langsung pertandingan Timnas Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), mungkin suatu kali pernah melihat ribuan suporter tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kedua tangan, lalu kembali duduk secara bergantian. Gerakan yang dilakukan secara serempak itu menciptakan efek visual menyerupai gelombang yang mengelilingi stadion.

Gerakan koreografi itu bukan ciptaan Jakmania atau Bonek, melainkan dipopulerkan oleh pendukung Meksiko ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 1986. Oleh karena itu, gerakan ini dikenal sebagai Mexican Wave. Hingga kini gerakan itu masih menjadi bagian dari tradisi suporter di berbagai stadion di dunia, termasuk di GBK.

Kini, pada Piala Dunia 2026—yang kembali melibatkan Meksiko sebagai salah satu tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada—aksi ini sesekali masih terlihat di tribun penonton. Selain Mexican Wave, aksi yang dilakukan suporter Norwegia dengan gerakan seperti orang mendayung perahu, juga mewarnai Piala Dunia kali ini . Gerakan yang kini viral itu disebut Viking Row, mengacu pada tradisi maritim Bangsa Viking, nenek moyang bangsa-bangsa di kawasan Skandinavia.

Ruang Kreativitas

Fenomena ini menarik karena atmosfer di dalam stadion bukan lagi semata diwarnai rivalitas antarpemain, tapi juga kreativitas penonton. Stadion bukan sekadar arena olahraga, tapi juga ruang produksi budaya yang dapat dipertukarkan.

Nyanyian, koreografi, busana tradisional, alat musik, hingga berbagai ritual kolektif, kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman menikmati sepak bola.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara mendukung sebuah tim bukan sekadar luapan emosi spontan. Di baliknya terdapat ekspresi budaya yang mencerminkan identitas, sejarah, dan rasa kebersamaan.

Budaya memang tidak semestinya hanya dipahami sebagai karya seni semisal patung atau lukisan, tetapi juga mencakup praktik keseharian masyarakat, termasuk cara orang dalam mendukung tim sepak bola.

Sepak bola sebagai bagian dari budaya popular, menjadi ruang pembentukan identitas. Suporter bukan sekadar penonton pasif, melainkan juga aktor yang memproduksi makna melalui berbagai ekspresi kolektif.

Mexican Wave menjadi contoh yang menarik. Meskipun berasal dari Meksiko, tradisi itu kini telah menjadi bagian dari budaya sepak bola dunia. Fenomena itu menunjukkan bagaimana sebuah praktik lokal dapat diterima oleh masyarakat global, dan memperoleh makna baru di berbagai tempat.

Kita juga mungkin masih ingat aksi seorang anak dalam tradisi Pacu Jalur di Riau yang beberapa waktu lalu viral di media sosial. Gerakannya kemudian ditiru oleh atlet hingga tokoh terkenal dari berbagai negara. Baik Mexican Wave maupun aksi bocah dalam arena Pacu Jalur itu, memang tidak secara langsung menentukan hasil pertandingan atau perlombaan. Namun, keduanya memiliki kekuatan simbolik yang mampu membangun rasa kebersamaan di antara ribuan, bahkan jutaan orang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan kebangsaan yang berbeda.

Stuart Hall, sosiolog Inggris berdarah Jamaika, mengatakan identitas budaya bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Ia terus dibentuk, diproduksi, dan direproduksi melalui berbagai bentuk representasi. Tradisi seperti Viking Row, misalnya, menunjukkan bagaimana simbol sejarah dapat dihidupkan kembali untuk memperkuat identitas nasional dalam panggung olahraga internasional seperti Piala Dunia.

Dengan bantuan media sosial, proses itu kini semakin mudah. Tradisi yang awalnya hanya dikenal di satu negara, kini dapat dengan gampang diadopsi oleh komunitas suporter di belahan dunia lain, melalui siaran televisi dan unggahan di berbagai platform digital.//

oleh: Adiyanto, wartawan Bisnis Today.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Bawang
EDITOR'S VIEW

Pengupas Bawang dan Krisis Kepercayaan: Ketika Rakyat Mulai Menguji Setiap Kata Presiden

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia...

Bendungan
EDITOR'S VIEW

Kemarau Tidak Menunggu Agenda Rapat Kabinet

MASYARAKAT merasa ironi dalam kondisi masih terjaga, Indonesia memiliki ancaman El Nino,...

Maulid Nabi
EDITOR'S VIEW

Tahun Baru Islam :  Tauladan Hijrah yang Relevan Ditengah Tantangan Zaman

MEMASUKI  1 Muharam 1448 atau tahun baru Islam atau dikenal dalam masyarakat...

Hewan Kurban
EDITOR'S VIEW

Ketulusan Nabi Ibrahim dan Relevansi Keikhlasan di Zaman Modern

KISAH pengorbanan Nabi Ibrahim AS menjadi salah satu pelajaran terbesar tentang ketulusan...