www.bisnistoday.co.id
Jumat , 7 Agustus 2026
Home HEADLINE NEWS Tekanan Global dan Domestik Belum Mereda, Ekonom Menyakini Fundamental Ekonomi Indonesia Relatif Kuat
HEADLINE NEWS

Tekanan Global dan Domestik Belum Mereda, Ekonom Menyakini Fundamental Ekonomi Indonesia Relatif Kuat

Pasar Saham
Tae Yong Shim, Director Samuel Tumbuh Bersama di Jakarta, belum lama ini.Ekonom menyakini fundamental ekonomi domestik relatif kuat, kendati tekanan global belum mereda./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ekonom meyakini kondisi fundamental perekonomian Indonesia relative kuat, ditengah goncangan dinamika geopolitik global dan domestik belum mereda. Hal tersebut terungkap dalam acara Media Connect sebagai wadah diskusi bersama media untuk membahas perkembangan pasar modal, literasi keuangan, serta pandangan dari emiten.

Kali ini, Media Connect menghadirkan Fikrian Naufal H dari Research Division Bursa Efek Indonesia (IDX), Tae Yong Shim, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, serta Edwin Pranata, President Director & Founder RealCo atau PT Abadi Lestari Indonesia Tbk.

“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis seperti 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali. Tantangan memang ada, terutama dari tekanan global dan domestik, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Fikrian dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat (7/8).

Fikrian Naufal H menjelaskan bahwa fundamental Indonesia masih relatif kuat meskipun pasar saham sempat mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan. Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik, risiko inflasi, arah suku bunga global, serta reli saham teknologi berbasis Artificial Intelligence. Dalam materi IDX, harga minyak mentah global disebut meningkat 21% YoY, sementara inflasi Amerika Serikat berada di 3,7% YoY dan core PCE di 3,3% YoY, yang masih mendukung pandangan suku bunga tinggi lebih lama dari The Federal Reserve.

Dari sisi domestik, sejumlah isu juga masih menjadi perhatian pelaku pasar, mulai dari risiko fiskal, pelemahan rupiah, arah kebijakan Bank Indonesia, perkembangan MSCI, hingga rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis. Rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 7,3% secara year-to- date hingga Juli 2026, sementara Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebanyak tiga kali pada Mei–Juni 2026 dengan total kenaikan 100 basis poin menjadi 5,75%.

Sementara itu, Tae Yong Shim menekankan pentingnya literasi dan perencanaan keuangan berbasis siklus hidup atau lifecycle financial planning. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tantangan finansial tidak hanya datang dari pasar, tetapi juga dari faktor-faktor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti inflasi, rendahnya suku bunga, dan pajak.

“Perencanaan keuangan perlu dilakukan sejak awal karena kebutuhan hidup akan terus meningkat. Risiko terbesar bukan hanya salah memilih produk investasi, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan masa depan,” ujar Shim.

Mengelola Pengeluaran dan Investasi

Shim juga menyoroti pentingnya mengelola pengeluaran sebagai bagian dari strategi membangun kekayaan. Dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, formula kekayaan dijelaskan sebagai pendapatan dikurangi pengeluaran, kemudian dikembangkan melalui imbal hasil investasi dalam jangka waktu tertentu. Dengan  demikian, meskipun masyarakat tidak selalu dapat mengendalikan pendapatan maupun return pasar, pengeluaran dan waktu investasi merupakan dua hal yang lebih bisa dikendalikan.

“Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama: pahami kebutuhan, kendalikan pengeluaran, mulai berinvestasi sedini mungkin, dan siapkan proteksi. Dalam perencanaan keuangan, waktu adalah salah satu aset yang paling penting,” jelas Shim.

Perjalanan Bisnis RealCo

Edwin Pranata menguraikan perjalanan RealCo dalam membangun bisnis berbasis sarang burung walet dan produk konsumen kesehatan. RealCo mengusung misi “Better. Healthier. Happier.”, dengan prinsip bahwa setiap bisnis yang dibangun harus dapat memperbaiki sesuatu. Perusahaan berdiri di Bojonegoro, Jawa Timur, dan masih menjalankan kegiatan produksinya dari daerah tersebut.

Edwin menjelaskan bahwa sarang burung walet masih tergolong belum banyak dipahami oleh masyarakat luas. Produk tersebut selama ini lebih sering dikenal sebagai makanan dan minuman, padahal potensinya lebih luas, termasuk sebagai bagian dari produk kesehatan dan wellness. Di sisi lain, Indonesia memiliki posisi penting dalam industri ini karena sekitar 80% pasokan sarang burung walet dunia berasal dari Indonesia, bukan dari China.

“Banyak orang masih awam terhadap sarang burung walet. Selama ini sarang burung walet lebih banyak dikenal sebagai makanan atau minuman, padahal potensinya juga berkaitan dengan kesehatan. Indonesia memiliki posisi yang sangat kuat dalam industri ini karena sebagian besar pasokan dunia berasal dari Indonesia,” ujar Edwin./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Tol Prosiwangi
HEADLINE NEWS

Tol Probolinggo Situbondo Banyuwangi Hampir Rampung, Perluas Konektivitas Wilayah Timur Pulau Jawa

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) siapkan pengoperasian Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi...

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Pertumbuhan Ekonomi Membanggakan, Namun Investor Masih Selektif Pembelian Saham

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia...

PELABUHAN PRIOK
HEADLINE NEWS

BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Sebesar 5,29%

JAKARTA, Bisnistoday – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama periode Kuartal II-2026,...

Menko Airlangga
HEADLINE NEWS

Menko Airlangga Mengajak Investor Berinvestasi ke Teknologi AI

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah mendorong pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) lebih cepat...