www.bisnistoday.co.id
Rabu , 22 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Korporasi Volatilitas Global Meningkat, Koreksi Pasar Menjadi Peluang Investasi
Korporasi

Volatilitas Global Meningkat, Koreksi Pasar Menjadi Peluang Investasi

GEDUNG BEI
Papan Pemantau Digital Pasar Saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Tekanan terhadap pasar keuangan global dan domestik terus meningkat sepanjang kuartal kedua 2026. Eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia mendorong volatilitas pasar semakin tinggi. Di tengah kondisi tersebut, investor dinilai perlu lebih selektif dan defensif dalam menentukan strategi investasi.

“Volatilitas bukan sekadar risiko, tetapi juga peluang bagi investor yang disiplin dan berpengetahuan. Melalui Media Day ini, kami berharap investor dapat memahami peta risiko Q2 dengan lebih baik dan mengambil keputusan investasi secara terukur,” ungkap Head of Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina.

Hal tersebut diungkapkan Martha dalam Media Day PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bertajuk “The Q2 Blueprint: Turning Volatility into Value” pada Rabu, (20/5). Ia memaparkan perkembangan ekonomi dan pasar terkini serta strategi investasi yang dinilai relevan menghadapi volatilitas pasar saat ini.

Lebih lanjut Martha Christina menyoroti tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan. Hingga 19 Mei 2026, IHSG berada di level 6.371 atau melemah 26,3% secara year-to-date (YTD), menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk global berdasarkan ranking YTD IECMD Bursa Efek Indonesia.

Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang terjadi secara konsisten sejak awal tahun, yakni Rp13,3 triliun pada Januari, Rp5,7 triliun pada Februari, Rp10,5 triliun pada Maret, Rp16,8 triliun pada April, dan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei 2026.

Meski demikian, Martha menilai masih terdapat peluang investasi menarik, khususnya di sektor perbankan. Empat bank besar nasional yakni BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif secara tahunan. BMRI mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,8% YoY berdasarkan kinerja empat bulan pertama 2026, sementara BBRI, BBCA, dan BBNI masing-masing tumbuh 13,7%, 3,8%, dan 5,2% YoY pada kuartal pertama 2026.

“Valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik secara historis karena Price-to-Book Value (PBV) telah mengalami koreksi signifikan mendekati titik terendah multi-tahun,” jelas Martha.

Dinamika Ekonomi Global

Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Adityo Nugroho menjelaskan, dinamika ekonomi global masih dibayangi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak Brent melampaui USD100 per barel. Gangguan distribusi minyak akibat menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut meningkatkan tekanan inflasi global dan ketidakpastian pasar keuangan.

Adityo Nugroho mengutarakan, di Amerika Serikat, inflasi April 2026 tercatat 3,8% dengan rata-rata harga BBM nasional mencapai USD4,515 per galon. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Fenomena bond vigilante juga kembali muncul, tercermin dari yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di level 4,661% dan UK 10Y sebesar 5,126%.

Dari sisi domestik, Adityo menyampaikan pandangan Mirae Asset Sekuritas dari sudut pandang yang berbeda dari konsensus pasar terkait kebijakan Bank Indonesia. Menurut analis Mirae Asset, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada RDG Mei 2026, meskipun pasar sebelumnya mengantisipasi kenaikan menjadi 5,0%.

“Kenaikan suku bunga memiliki efektivitas terbatas dalam merespons tekanan struktural terhadap rupiah. Di sisi lain, ruang pengetatan juga dipengaruhi oleh beban fiskal pemerintah yang cukup besar,” ujar Adityo.

Meski rupiah melemah ke kisaran Rp17.700 per dolar AS, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif stabil di level 12,72% per 13 Mei 2026. Selain itu, melambatnya inflasi domestik di tengah kenaikan inflasi AS dinilai dapat memperlebar gap real interest rate yang berpotensi menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

AcaraMedia Gathering bersama Editor of Financial & Economics Club di Jakarta, Minggu (19/7/2026). (Adi/Bisnistoday)
Korporasi

LPS Pastikan Persiapan Implementasi Penjaminan Polis sesuai Tahapan

JAKARTA, Bisnistoday – Sebagai bagian dari pelaksanaan amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan...

Dirut Jasa Marga
Korporasi

Jasa Marga Jadi Mentor Pengelolaan Command Center dalam Marketing Center of Excellence Danantara Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday- PT Jasa Marga (Persero) Tbk didapuk sebagai mentor untuk Command...

DIrut JM
Korporasi

Selaras Arah Transformasi Danantara Indonesia, Jasa Marga Perkuat Penciptaan Nilai Berkelanjutan

JAKARTA, Bisnistoday - PT Jasa Marga (Persero) Tbk terus memperkuat transformasi bisnis...

Rangkaian Kereta Api
Korporasi

Tahun 2025, KAI Catatkan Laba Sebesar Rp2,28 Triliun

JAKARTA, Bisnistoday - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja keuangan konsolidasian...