JAKARTA, Bisnistoday – Pakar kesehatan khususnya penyakit kusta mengharapkan adanya penerimaan masyarakat bagi para penyandang kusta agar lebih mandiri dalam mengarungi kehidupanya lebih layak. Sekarang ini, masih ada stigma dan diskriminasi bagi warga pasca panyandang kusta.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Herbuwono dalam sambutanya Hari Kusta Sedunia, di Jakarta, Senin (31/1) mengatakan, setiap hari minggu terakhir bulan Januari, diperingati sebagai hari kusta dunia. Kusta merupakan penyakit komplek dan saat ini ada enam provinsi yang masih belum bebas kusta. Tema peringatan kusta nasional adalah “Mari Bersama Hapuskan Stigma & Diskriminasi Kusta.”
Lebih lanjut Dante menuturkan, penyakit kusta cukup komplek penangannya. Saat ini tercatat 6 provinsi yang masih belum bebas kusta, seperti Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara dan Sualwesi Barat. “Di wilayah ini, masih ada penyandang kusta denan perbandingan 1/10.000 jiwa. Dalam waktu setahun tercatat 7021 penderita kusta.Mereka diantara ada yang cacat permanen.” terangnya.
Menurut Dante, kusta harus disembuhkan dengan pengobatan. Apabila sudah terlanjut maka berakibat adanya stigma masyarakat, berdampak kehidupan ekonomi serta sosial lingkungan. “Masih ada 101 Kabupaten/kota di seluruh Indonesia, dan diharapkan tuntas pada tahun 2024 mendatang.”
Penderita kusta, seperti layaknya Covid-19, harus diakukan testing, trasing dan treatment yang benar. Penanggulangan penyakit kusta menyangkut berbagai aspek, sehingga menjadi tanggungjawab bersama pemerintah pusat dan daerah.
Terkait penyakit kusta, Dante mengatakan, pemerintah telah memiliki pedoman sebagai acuan para tenaga kesehatan dalam penangan kusta. Tantangan cukup banyak, terutama stigma sulit diobati, keterbatasan tenaga kesehatan, butuh komitmen bersama, baik anggaran pemda maupun pusta, promosi kesehatan juga terbatas.

“Selain itu, juga mendorong media sosial melalui berbagai akun artis misalnya membantu memviralkan bagaimana mengangkat penderita kusta bercerita. Ini butuh dukungan medsos, dan masyarakat luas untuk menghapus stigma dan diskriminasi,” terangnya.
Menurut Dante, juga penyakit kusta bukan terjangkit pada warga ekonomi lemah. Demikian juga kusta dapat disembuhkan dan harus dapat diketahui sejak dini. Tentang kusta, masyarakat harus mendapat informasi semasif mungkin, untuk merubah pandangan negative.
“Untuk dapat terhindar dari stimatisasi dam tereliminasi dari kusta merupakan tugas besar. Ini semua agar penderita kusta dapat kembali ke masyarakat dengan baik. dan bisa mandiri tanpa ketergantungan orang lain.”
Diterima Masyarakat
Sementara, Afrizal Hasan, Direktur RSUP Dr. Sitanala (RS Kusta) menuturkan, untuk merubah stigma dan diskriminasi dapat dimulai dari insan kesehatan. Ini penting, agar penderita kusta mempunyai kehidupan sendiri dan diterima masyarakat. Di RSUP Sitanala, ada pasien yang dalam pengawasan hingga 25 tahun.
“RSUP Sitanala ini, terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan pasien kusta khususnya di wilayah Kota Tangerang,” tuturnya.
Siti Nadia Tarmizi, Jubir Menteri Kesehatan mendorong semua elemen masyarakat berperan dalam penanganan kusta. Pemerintah mengajak swasta, asosiasi profesi, media semua terlibat dalam menanggulangi penyakit kusta.
“Peran media begitu penting, untuk memberikan informasi komperhensif tentang kusta agar masyarakat dapat informasi dengan benar.Jangan takut terhadap kusta, karena dapat disembuhkan dan tidak menular.”







































