www.bisnistoday.co.id
Minggu , 19 Juli 2026
Home OPINI Indepth Ekonomi Kian Bergolak, INDEF Memberikan Sejumlah Saran Pemerintah
Indepth

Ekonomi Kian Bergolak, INDEF Memberikan Sejumlah Saran Pemerintah

Asosiasi Pertekstilan Indonesia
Sejak dua tahun lalu industri TPT mengurangi hampir 100 ribu pekerjanya.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ekonomi global maupun nasional sedang tidak menguntungkan bagi pemerintah Indonesia. Ditengah tekanan ekonomi dari berbagai penjuru dunia ini, pemerintah dinilai memiliki modal yang cukup baik untuk mengelolanya. Didalam diskusi tengah tahun 2026, INDEF menyarankan sejumlah solusi bagi pemerintah.

INDEF berpandangan, bahwa Indonesia memiliki modal untuk bertahan menghadapi guncangan global, namun juga diperlukan komitmen yang kuat untuk mengubah krisis energi menjadi peluang untuk transisi energi bersih agar mengurangi ketergantungan energi berbasis fosil. Sementara, keterbatasan ruang fiskal, ketergantungan pada impor energi, bahan baku produksi, lemahnya daya saing dan diversifikasi ekspor, serta tingginya sensitivitas terhadap sentimen global menjadi kerentanan utama yang harus segera dibenahi.

Hal tersebut mengemukan saat Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 yang diselenggarakan INDEF bertempat di Aryaduta Hotel mengangkat tema “Menavigasi Guncangan Global Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim” baru-baru ini.

INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II-2026 akan melambat ke kisaran 5 persen secara tahunan. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi perlu bergerak dari pendekatan responsif menuju pendekatan transformasional. Dalam arti, bahwa bergerak dari sekadar meredam gejolak menuju membangun ketahanan ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Berdasarkan analisis kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan, INDEF memberikan rekomendasi kebijakan strategi ketahanan ekonomi, diantaranya; pertama, memperkuat stabilisasi makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiscal, kedua melindungi daya beli masyarakat dan memperkuat kelas menengah, ketiga mereformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran dan produktif.

Selanjutnya keempat, mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM, kelima, membangun sistem ketahanan pangan yang berbasis produksi, distribusi, dan adaptasi iklim, keenam memperkuat struktur industri dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan ketujuh mendorong diversifikasi ekspor dan integrasi rantai pasok regional.

Ujian Berat Ketahanan Ekonomi Nasional

Dalam dialog para pakar INDEF, menyatakan, pada semester 1-2026, ketahanan ekonomi Indonesia benar-benar diuji. Indonesia menghadapi tantangan bagi ketahanan ekonomi domestik, semakin sempitnya ruang fiskal, daya beli masyarakat hingga ke daya saing sektor riil.

Sejak awal tahun, bayang-bayang ketidakpastian global masih cenderung tinggi, mulai dari konflik geopolitik yang meluas melibatkan AS-Iran telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, dampak dari penilaian MSCI pada pasar keuangan, kemudian disusul dengan outlook pemeringkat rating investasi yang memberi sinyal negatif, ditambah sinyal The Fed yang akan meningkatkan suku bunga acuan, membuat tekanan pada pasar keuangan.

Di tengah tekanan ini, pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen namun angka itu menyimpan kerapuhan. Sumber pertumbuhan tersebut banyak ditopang konsumsi Lebaran, efek basis rendah, dan melonjaknya pertumbuhan belanja pemerintah di awal tahun. Sementara itu, daya beli masyarakat mulai melemah, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang menurun dan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil yang turun, bahkan negatif.

Volatilitas harga pangan global dan disparitas harga antardaerah yang mencapai hampir empat kali lipat juga turut menggerus daya beli rumah tangga. Sementara itu, ruang fiskal juga semakin sempit, realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp203,7 triliun atau 45,6 persen pagu APBN hanya dalam lima bulan, dengan sebagian manfaat masih dinikmati kelompok mampu akibat skema subsidi berbasis komoditas sehingga terdapat inclusion error.

Saat ini sektor industri juga menanggung beban berat. Dengan bahan baku yang menyumbang 86,7 persen dari total biaya produksi, seperempat di antaranya masih impor, kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok lantas terus menekan margin. Terlebih pada sektor alat angkutan, tekstil, elektronik, dan industri berbasis energi fosil paling rentan dan tertekan akibat tingginya harga energi dan gangguan rantai pasok.

Di sisi neraca perdagangan, melemahnya produktivitas dan daya saing juga tercermin pada surplus perdagangan yang merosot ke US$ 0,09 miliar pada April 2026, angka ini terendah sejak Mei 2020. Jika tekanan tingginya biaya ini terus berlanjut dan mempengaruhi margin usaha, risiko PHK tidak dapat dihindari.

Jakarta, 27 Juni 2025

Sumber : Keterangan resmi INDEF

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Topan Bavi melanda Tiongkok (dok:AP/Southchinamorning)
Indepth

Topan Bavi Terjang Asia, Bukti Krisis Iklim di Depan Mata

JAKARTA, Bisnistoday -  Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang...

Kebakaran hutan (dok:Unsplash/Matt-Palmer)
IndepthLingkungan

Mengantisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, Bisnistoday - Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya...

Timnas Prancis yang didominasi keturunan imigran (dok:FFF)
IndepthSport & Health

Manuver Politikus Sayap Kanan yang Memalukan

JAKARTA, Bisnistoday – Pada 16 Juni 2026 lalu, di tengah udara gerah...

Didier Deschamps (dokLInstagram/FFF)
IndepthSport & Health

Sang Legenda yang tak Pernah Kehilangan Cinta

JAKARTA, Bisnistoday - Sebelum melakoni laga melawan Norwegia, para pemain Prancis dan...