BANDUNG, Bisnistoday – Di tengah menjamurnya berbagai pilihan kuliner modern, Nasi Liwet Bu Lita tetap bertahan sebagai salah satu pilihan makanan tradisional khas Bandung yang digemari masyarakat.
Usaha yang dirintis Lita sejak 2012 itu bermula dari gerobak sederhana di kawasan Jalan Ambon, tepatnya di sekitar GOR Saparua, Kota Bandung.
Saat memulai usaha, Lita melihat masih minimnya pilihan makanan khas Bandung di kawasan tersebut. Kondisi itu mendorongnya menghadirkan nasi liwet sebagai alternatif bagi warga maupun wisatawan yang ingin mencicipi kuliner tradisional Sunda.
“Melihat potensi makanan khas Bandung waktu itu masih jarang, terutama di Jalan Ambon, saya berpikir wisatawan yang datang ke Bandung perlu punya pilihan untuk mencicipi makanan tradisional,” ujar Lita.
Pada awal berjualan, menu yang ditawarkan tidak banyak, sebatas ayam goreng dan gepuk sapi. Seiring waktu, usahanya terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi menu, termasuk nasi bakar dengan beragam varian isian yang kini menjadi salah satu andalan.
Dari sisi harga, Nasi Liwet Bu Lita juga tetap berupaya menjaga keterjangkauan. Jika pada awal usaha satu porsi nasi komplit dijual sekitar Rp13 ribu, kini harganya berkisar antara Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per porsi.
Usaha yang awalnya hanya beroperasi di satu titik kini telah berkembang ke beberapa lokasi di Kota Bandung, di antaranya kawasan Saparua, Arcamanik Endah, dan Jalan AH Nasution. Perkembangan tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi sejumlah karyawan.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada beberapa titik dan bisa membantu memberikan pekerjaan bagi empat karyawan,” katanya.
Namun perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda, Lita mengaku sempat menghentikan operasional selama sekitar empat bulan. Pada masa itu, usaha hanya bertahan melalui pesanan yang dibawa pulang karena aktivitas jual beli langsung sangat dibatasi.
Selain tantangan pandemi, kenaikan harga bahan baku juga menjadi persoalan yang hingga kini masih dirasakan pelaku usaha kuliner. Untuk menekan biaya produksi, Lita memilih membeli bahan baku langsung ke pasar induk atau pusat grosir.
“Kalau bahan baku hampir selalu naik. Karena itu kami mencari langsung ke grosir atau pasar induk supaya harganya lebih terjangkau,” ujarnya.
Tak hanya beradaptasi dalam pengelolaan usaha, Lita juga mengikuti perkembangan transaksi digital. Menurutnya, penggunaan QRIS menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari karena semakin banyak konsumen yang memilih bertransaksi secara non-tunai.
“Awalnya memang harus beradaptasi, tapi sekarang transaksi digital sangat membantu karena pelanggan banyak yang tidak membawa uang tunai,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan pelaku UMKM agar tetap teliti dalam memeriksa transaksi digital. Pengalaman unik pernah dialaminya ketika seorang pelanggan kembali datang setelah beberapa minggu untuk mengonfirmasi pembayaran QRIS yang ternyata belum berhasil masuk ke rekening.
Beruntung pelanggan tersebut bersikap jujur. Dari pengalaman itu, Lita semakin rutin melakukan pengecekan transaksi dan mencocokkan pembayaran yang masuk dengan catatan penjualan.
“Sebagai pelaku usaha kita harus teliti. Walaupun sedang sibuk, transaksi tetap harus dicek dan dicocokkan supaya tidak ada yang terlewat,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran QRIS memberikan banyak manfaat, mulai dari mempercepat transaksi hingga mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian dalam jumlah besar.
Bagi pelaku UMKM lain, Lita berpesan agar tidak ragu mengikuti perkembangan digitalisasi, namun tetap mengedepankan kehati-hatian dalam setiap transaksi.
“Digitalisasi memang penting karena mengikuti perkembangan zaman. Tetapi kita juga harus tetap teliti dan rutin mengecek setiap transaksi yang masuk,” tuturnya.
Lebih dari satu dekade menjalankan usaha, Lita meyakini konsistensi menjadi salah satu kunci utama mempertahankan bisnis kuliner. Baginya, menjaga cita rasa dan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan.
“Yang penting konsisten melayani pembeli dan menjaga makanan supaya tetap cocok di lidah pelanggan,” pungkasnya.E2










































