www.bisnistoday.co.id
Jumat , 3 Juli 2026
Home EKONOMI Kenaikan BI Rate Tetap Masih Berpeluang 
EKONOMIEkonomi & BisnisPerbankan & Asuransi

Kenaikan BI Rate Tetap Masih Berpeluang 

SUKU BUNGA ACUAN: Pengamat memperkirakan didalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (22/12) bakal kembali menaikkan suku bunga acuan.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Diperkirakan Bank Indonesia (BI) masih membuka peluang adanya kenaikan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kenaikan BI Rate niscaya akan menjadi pilihan jalan keluar guna tetap menjaga kelangsungan perekonomian nasional. 

Menurut Ryan Kiryanto, ekonom dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) mengutarakan, dengan pertimbangan laju inflasi bulanan dan tahunan yang under controlled (terkendali) meskipun masih di atas jangkar inflasi yang 3%, diperkirakan pada RDG BI masih memberi peluang kenaikan BI Rate. 

“Diperkirakan masih akan menaikkan BI7DRRR sebesar 25 – 50 bps menjadi 5,5  – 5,75% supaya laju inflasi lebih terkendali sehingga bisa diarahkan ke target sasaran 3% di semester pertama 2023,” ungkap Ryan Kiryanto dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (22/12). 

Menurut Ryan, kenaikan kisaran 25-50 bps itu untuk mengimbangi kenaikan Fed fund rate yang 50 bps pada FOMC terakhir menjadi 4,25%-4,5%.  “Dengan kenaikan BI Rate sebesar 25-50 bps, maka spread antara BI Rate dgn FFR menjadi tidak terlalu jauh, yakni berkisar 125-150 bps sehingga cukup bisa menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS,” menurut Ryan. 

Didukung kerja keras tim pengendali inflasi, lanjut Ryan Kiryanto, khususnya inflasi pangan, maka efektivitas kebijakan moneter menjadi lebih baik untuk menekan laju inflasi. Hanya saja, dengan kenaikan FFR yang tidak lagi agresif (kenaikan minimal 75 bps), maka BI pilihan lebih longgar untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps atau 50 bps. 

“Saya sendiri condong BI menaikkan BI Rate kali ini sebesar 25 bps menjadi 5,5% sehingga ke depannya BI masih punya ruang untuk mengantisipasi kenaikan FFR dari Januari sampai dengan Maret 2023 sebesar 75 bps menjadi 5-5,25% sebagai puncak tertingginya dan bertahan sepanjang 2023, untuk kemudian melandai mulai awal 2024,” terangnya. 

Kebijakan ‘Pro Growth’

Hal ini juga menurut Ryan, untuk memberikan stance bahwa bank sentral masih memberikan kebijakan yang pro growth karena kalau pun BI Rate naik 25 bps, tidak akan direspon oleh kenaikan bunga simpanan dan kredit secara agresif. 

“Ini lantaran bank-bank juga tidak menghendaki debiturnya mengalami masalah kalau bunga kredit dinaikkan lagi karena beban menjadi bertambah sehingga bisa mengganggu cashflow debitur yang pada akhirnya menekan kemampuan debitur memenuhi kewajibannya kepada bank dan berujung pada kenaikan NPL,” tuturnya. 

Ryan menambahkan, karena itu bank-bank juga harus cermat mengelola likuiditas dan menjaga kualitas kreditnya. Langkah tadi juga penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut di 2023 nanti./ 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop dan Agrinas Palma Bangun Model Kemitraan Koperasi Sawit

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi dan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menjalin...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Digelar Masif, Kemenkop dan Dekopin Gelar Kick Off Bulan Koperasi Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Koperasi (Kemenkop) bersama Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menggelar...

PELABUHAN PRIOK
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Neraca Perdagangan Indonesia Januari-Mei 2026 Catatkan Surplus USD 4,03 Miliar

JAKARTA, Bisnistoday -  Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih menunjukkan ketahanan pada...

Demam Piala Dunia di Bangladesh (dok: EFE/Mundo Deportivo)
EKONOMISport & Health

Bangladesh Kecipratan Cuan Piala Dunia

JAKARTA, Bisnistoday – Bangladesh memang tidak ikut serta di Piala Dunia 2026,...