www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 25 April 2026
Home EKONOMI Mendag Optimistis Ekspor Tahun 2021 Tumbuh 4 persen
EKONOMI

Mendag Optimistis Ekspor Tahun 2021 Tumbuh 4 persen

Menteri Perdagangan M Lutfi saat memberikan paparan kepada media, di Jakarta, belum lama ini. (Foto:BToday)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis bahwa kinerja ekspor Indonesia akan tumbuh 4 persen tahun ini guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5-5,5 persen, sesuai target yang dipatok pemerintah.

“Saya berkeyakinan itu bakal terjadi karena ada yang disebut namanya supercycle daripada komoditi,” ungkap Mendag saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, Jumat (19/3).

Mendag menyampaikan, melihat perhitungan lembaga rating dunia, seperti IMF (Dana Moneter Internasional) dan OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) keduanya melakukan koreksi terhadap perekonomian dunia dengan menyebutkan angkanya akan naik.

Baca juga : Kemendag Lakukan Tahap Pertama Pendampingan Ekspor

“Kalau kita lihat daripada lembaga rating dunia terutama IMF, OECD memberikan update daripada perekonomian dunia, yang naik. Jadi, artinya dikoreksi tetapi bukan koreksi turun, tapi koreksinya naik,” ungkap Mendag.

Sedangkan, RI membidik perekonomian tumbuh 5-5,5 persen tahun ini, di mana untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, maka nilai ekspor harus tumbuh 4 persen, pertumbuhan impor tidak boleh lebih dari 2 persen, konsumsi rumah tangga harus naik 5 persen, dan investasi perlu tumbuh 13,7 persen.

Terkait hal tersebut, dari sisi perdagangan, Mendag menyampaikan dua hal yang bersinggungan langsung yakni ekspor dan impor.Meskipun kenaikan ekspor harus mencapai 4 persen, namun Kemendag merancang strategi agar ekspor tumbuh 6,3 persen.

Optimisme Mendag tersebut didukung oleh tren adanya supercycle komoditi, yakni komoditas yang harganya naik kencang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di antaranya harga minyak mentah, harga LNG, beras, iron ore, dan copper.

“Beberapa harga komoditas utama dunia mencatatkan rekor kenaikan sangat signifikan di 2020, yang memicu spekulasi adanya supercycle komoditi di tahun 2020-2021 yang diakibatkan oleh stimulus ekonomi di negara maju, nilai tukar dolar yang kian melemah, dan permintaan yang naik drastis di RRT dan negara industri di Asia,” tambahnya./Ant

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Siapkan Pembiayaan PLTS untuk Percepat Elektrifikasi Desa

JAKARTA, Bisnistoday – Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi menegaskan komitmennya untuk...

Meta bakal Pangkas Ribuan Karyawan (unsplash/julio-lopez)
EKONOMIEkonomi & BisnisOtomotif & Tekno

Meta dan Microsoft bakal Pangkas Ribuan Karyawan

JAKARTA, Bisnistoday - Perusahaan teknologi raksasa, Meta dan Microsoft bakal memangkas jumlah...

Perang Iran Pengaruhi Harga Obat (unsplash/roberto sorin)
EKONOMIHumanioraSport & Health

Gejolak di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Obat

JAKARTA, Bisnistoday - Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran  telah memicu...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Berpengalaman 75 Tahun, Kemenkop Gandeng CDF Canada Kembangkan Koperasi di Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Koperasi (Kemenkop), bersama Co‑operative Development Foundation (CDF) of...