www.bisnistoday.co.id
Senin , 3 Agustus 2026
Home LIFESTYLE Rona & Film Beragama Belum Tercermin Dalam Etika Kehidupan
Rona & Film

Beragama Belum Tercermin Dalam Etika Kehidupan

ETIKA
ILUSTRASI Etika dalam kehidupan sehari-hari./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Negara yang paling mampu membuat warganya bahagia, populasi di negara itu cenderung menganggap agama tak lagi penting dalam kehidupan mereka jika diukur dari religiosity index dan bahkan menganggap agama tak lagi penting dalam kehidupan.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Peneliti di bidang Ilmu Sosial, Budaya dan kajian agama BRIN dalam Kajian Etika dan Peradaban ke-26 Paramadina Institute for Ethics and Civilizations (PIEC), bertajuk “Beragama Maslahat: Pengaruh Spiritual dan Kemajuan Sosial Ekonomi”.

Acara diselenggarakan di Hotel Ambhara, Jakarta, baru-baru ini. Najib berpandangan bahwa di negara yang masyarakatnya didominasi oleh mayoritas beragama dan menyatakan agama merupakan sesuatu yang penting cenderung pemerintahannya korup.

“Maka dari itu agama dikaitkan dengan perekonomian, pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya. Sehingga dengan ini ada korelasi atau ke bersinggungan antara agama dan kehidupan” tegasnya.

Di beberapa daerah, pembangunan sekolah yang terpinggirkan, tidak dilakukan oleh pemerintah. Biasanya dilakukan oleh ormas keagamaan, diantaranya dari Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya.

Ia juga memberikan contoh bahwa Uni Emirat Arab dan negara Islam lainnya di kawasan Timur Tengah saat ini memiliki kenaikan perekonomian dan juga seimbang dengan nilai keagamaannya. “Ini merupakan potret dari kesuksesan di akhirat, merupakan hasil dari kesuksesan di dunia” imbuhnya.

“Makna Min Atsaris Sujud tidak bisa dalam bentuk fisik seperti diri kita, seharusnya dari dalam diri, lalu doktrin Al-Ma’un di mana kita bisa hidup dengan nyaman dan membiarkan kaum miskin, sakit dan lain sebagainya hidup di sekitar. Sudah seharusnya kita dapat saling membantu satu sama lain.” tambah Prof. Ahmad Najib.

Kontroversi Agama dan Etika

Pipip A. Rifai Hasan, Ph.D. (Ketua PIEC) mengungkapkan satu paradoks kontroversi antara agama dan etika sangat menarik perhatian. “Sebagai  contoh bahwa dalam agama-agama di India mempraktikkan ajaran etika untuk berlaku secara etis dalam pekerjaan, tetapi korupsi, penyuapan, nepotisme sangat merajalela,” ungkapnya.

Kegairahan agama yang sangat kuat di India, banyak berlaku di Indonesia juga. Contoh mudahnya saat Pemilu Februari 2024 lalu. “Religuitas dan spiritualitas berbasis agama bisa mendukung perilaku yang tidak etis, kemudian bisa mempengaruhi cara seseorang dalam bersikap terhadap lingkungan kerja” kata Pipip.

“Tiap individu yang berperilaku tidak sesuai dengan etika keagamaan yang diklaim, bisa jadi dilakukan karena eksternal. Seperti halnya di Indonesia, korupsi tersebut bukan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki uang melainkan karena keserakahan dari orang yang melakukan tindakan tersebut” tuturnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Caption foto: Sesi konferensi pers resmi di Habitat Park SCBD, Jakarta, Jumat (31/7/2026) 
Rona & Film

Pengalaman Musik Spektakuler di Tengah Hutan Pinus Cikole Mengapa Forestra 2026 Wajib Dikunjungi

JAKARTA, Bisnistoday,- ​Penyelenggaraan pertunjukan orkestra hutan terbesar di Indonesia kembali menyapa para...

Rona & Film

Twilite Orchestra Siap Gelar Konser 35 tahun di Jakarta dengan Kolaborasi Musisi Lokal dan Internasional

JAKARTA, Bisnistoday,- Panggung musik klasik Indonesia kembali menjadi sorotan utama menyusul persiapan...

Rona & Film

Showcase Dongker di Pasupati Jadi Awal Album Kedua

BANDUNG, Bisnistoday - Band punk asal Bandung, Dongker, sukses menggelar showcase bertajuk...

Rona & Film

Padi Reborn Gebrak Industri Musik Lewat Sinema Konser Dua Delapan di XXI

JAKARTA, Bisnistoday- ​Grup musik legendaris Padi Reborn kembali menghadirkan gebrakan baru yang...