JAKARTA, Bisnistoday – Diperkirakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (24/4), masih konsisten dengan kebijakan untuk menahan BI Rate pada Level 6%. Hal ini mempertimbangkan kondisi global masih rentan gejolak ekonomi karena faktor konflik geopolitik
“Perkiraan hasil RDG BI besuk dan lusa:
BI Rate diperkirakan akan bertahan di 6% karena faktor geopolitik eksternal yang sejauh ini tidak mendukung bank sentral untuk melonggarkan lebijakannya,” ujar Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia di Jakarta, Selasa (23/4).
Terlebih, lanjut Ryan, The Fed juga masih menunda penurunan FFR, dari awalnya Juni bergeser ke September, bahkan mungkin di tahun depan. Malah jika inflasi di AS masih membandel (stubburn inflation) di atas target yang 2%, boleh jadi The Fed malah menaikkan fed fund rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 5,5-5,75%.
Ryan menambahkan, selain itu, secara umum level suku bunga acuan di Eropa rata-rata masih berkisar 4,5-5,5%. Hal itu semua karena target inflasi 2% masih belum dicapai. “Inflasi di kelompok negara maju masih membandel di level 4-4,5% hingga saat ini. ”
Karenanya, menurut Ryan, untuk kepentingan melanjutkan upaya stabilisasi ekonomi dan moneter di dalam negeri (yaitu inflasi terkendali dan nilai tukar rupiah tidak fluktuatif secara ekstrim atau bahkan makin melemah), pilihan terbaik yang tersedia: pertahankan BI rate.
“Apa ada opsi BI menaikkan BI Rate setidaknya 25 bps? Jawabannya ada, jika Fed menaikkan bunga acuan dan jika inflasi di Indonesia cenderung naik mendekati 3,5-4,0% secara persisten,” tuturnya.
Namun, untuk jangka pendek ini, Ryan berpendapat, langkah mempertahankan BI Rate di level 6% merupakan langkah yang baik, reasonable, presisi dan antisipatif. //









































