Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer, 21 Agustus lalu, terasa seperti kejutan yang bikin publik menoleh.
Immanuel, atau Noel, bukan nama asing. Ia dulu dikenal sebagai pendukung garis keras Jokowi lewat Joman, lalu berbalik arah mendukung Prabowo di Pilpres 2024.
Ditangkapnya Noel lagi-lagi menimbulkan tafsir: apakah ini sinyal Prabowo sedang menegaskan kemandiriannya, melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi?
Kejadian ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, KPK memanggil mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait dugaan korupsi kuota haji. Nama Nadiem Makarim juga ikut terseret dalam perkara pengadaan laptop dan Chromebook saat ia masih menjabat Mendikbudristek. Keduanya dikenal sebagai loyalis Jokowi.
Di sisi lain, Prabowo justru memberikan abolisi kepada Thomas Lembong, sosok yang selama ini dianggap sebagai “antitesis” Jokowi.
Jika disusun seperti puzzle, potongan-potongan ini membentuk gambar besar: ada pola yang seolah menunjukkan Prabowo sedang membangun jarak politik dari pendahulunya.
Ada harapan besar yang menyeruak tentang idealisme kepemimpinan. Namun, politik Indonesia jarang lurus-lurus saja. Di saat publik mulai bermimpi tentang kekuasaan yang berpihak pada rakyat, rasa kecewa juga datang dari arah lain.
Bagaimana Prabowo berapi-api soal pemotongan fasilitas para komisaris BUMN yang hidup bagaikan sultan. Di saat hampir bersamaan pendapatan para anggota DPR malah dinaikkan. dengan tunjangan rumah hingga Rp50 juta per bulan.
Ironisnya, saat rakyat kesusahan dengan beragam pungutan pajak yang mencekik, para anggota dewan yang terhormat berjoget-joget di depan publik karena ratusan juta yang mereka terima bebas pajak. Ketika masyarakat menjerit karena kurangnya lapangan pekerjaan, para elite berpesta merayakan rangkap jabatan.
Kontras ini membuat emosi publik naik-turun. Harapan yang sempat melambung karena gebrakan efisiensi, seketika menukik karena privilese elite yang tetap terjaga.
Roller coaster politik ini membuat rakyat gamang: apakah kita terlalu cepat berharap, atau memang harus lebih sabar menunggu langkah catur Prabowo?
Di sinilah ujian terbesar seorang presiden. Independensi sejati tidak cukup dibuktikan dengan siapa yang ditangkap atau siapa yang diberi abolisi.
Independensi diuji ketika kekuasaan berani konsisten, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, memangkas privilese elite tanpa tebang pilih, dan merancang kebijakan yang benar-benar menyentuh rakyat.
Jika Prabowo mampu menjaga konsistensi itu, ia akan dikenang sebagai presiden yang benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri, bukan di bawah bayang siapa pun. Tapi jika tidak, roller coaster harapan rakyat hanya akan terus berputar: naik sesaat, lalu terjun bebas dalam kekecewaan yang sama. Entahlah!
PENULIS : Dhany Bagja (Wartawan Senior)


