www.bisnistoday.co.id
Kamis , 30 April 2026
Home GLOBAL Blokade di Selat Hormuz Ganggu Distribusi Bantuan Kemanusiaan
GLOBAL

Blokade di Selat Hormuz Ganggu Distribusi Bantuan Kemanusiaan

Save the Children memperkirakan setiap kenaikan US$5 per barel minyak menyebabkan badan amal tersebut mengeluarkan biaya tambahan US$340.000 per bulan untuk biaya pengiriman, bahan bakar, makanan, dan persediaan medis di atas anggaran yang telah direncanakan pada awal tahun.

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Perang yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan volatilitas harga minyak global. Hal ini juga berdampak buruk bagi pengiriman bantuan kemanusian di sejumlah negara lantaran meningkatya biaya logistik.

Guardian mewartakan, sejumlah organisasi bantuan internasional kini menyerukan pembukaan “koridor kemanusiaan” melalui Selat Hormuz.

Bob Kitchen, wakil presiden bidang darurat di Komite Penyelamatan Internasional (IRC), menyerukan pembicaraan serius dan segera tentang koridor kemanusiaan melalui Selat Hormuz. “Agar setidaknya kita dapat mengirimkan pasokan yang saat ini tertahan di pusat-pusat kemanusiaan melalui selat tersebut,” ujarnya.

Akibat gangguan pengiriman ini, IRC harus mengeluarkan ongkos yang lebih besar untuk mengangkut bantuan yang tertahan di Dubai. Bantuan obat-obatan ini, kata dia, dibutuhkan oleh 20.000 orang di Sudan.

Di Nigeria dan Ethiopia, penjatahan minyak pemerintah menyebabkan badan bantuan darurat harus membatasi penggunaan generator di klinik-klinik kesehatannya. “Di beberapa bagian rumah sakit, kami harus mematikan listrik agar hal-hal yang lebih penting tetap berjalan,” kata Kitchen.

Ia mengatakan akibat konflik di Timur Tengah ini, anggaran sejumlah organisasi bantuan jadi cepat habis. “Biaya bahan bakar untuk menjalankan operasi kami, memindahkan komoditas, dan memindahkan personel di banyak negara di Afrika sub-Sahara, menjadi lebih mahal,” katanya.

Cecile Terraz, direktur di Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, mengatakan: “Kenyataannya adalah 100% pasti bahwa kenaikan harga minyak memengaruhi kehidupan masyarakat dan juga operasi kami.”

Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, harga minyak telah berfluktuasi, mencapai puncaknya hampir US$120 per barel, naik dari US$60 pada awal tahun, karena AS dan Iran bergantian menutup dan memblokade jalur pelayaran Selat Hormuz.

Pembatasan jumlah kapal kargo yang melewati jalur selebar 5 km tersebut telah berdampak luar biasa secara global, mengurangi pasokan minyak, makanan, pupuk, dan obat-obatan di seluruh dunia, serta mendorong kenaikan harga barang. Biaya minyak saat ini, sebagai sumber bahan bakar utama, hampir mencapai US$111 per barel.

Makin terpukul

Lembaga-lembaga bantuan besar, yang masih terdampak akibat pemotongan pendanaan dari AS dan Eropa, kini semakin terpukul, karena harus mengirimkan bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan dari di India dan Dubai ke komunitas yang membutuhkan, yang sebagian besar berada di Afrika.

Save the Children memperkirakan setiap kenaikan US$5 per barel minyak menyebabkan badan amal tersebut mengeluarkan biaya tambahan US$340.000 per bulan untuk biaya pengiriman, bahan bakar, makanan, dan persediaan medis di atas anggaran yang telah direncanakan pada awal tahun.

“Jumlah Itu setara dengan bantuan selama satu bulan untuk hampir 40.000 anak,” kata direktur pasokan global lembaga tersebut, Willem Zuidema. “Jika harga minyak tetap sekitar US$100 selama sisa tahun 2026, itu akan menelan biaya tambahan US$27 juta,” katanya.

Menurut Program Pangan Dunia (WFP) gangguan distribusi tersebut menyebabkan 45 juta orang lagi bisa kelaparan, di samping 318 juta orang yang sudah dianggap rawan pangan sebelum perang itu dimulai.

“Kami tertekan dari kedua sisi. Sementara para pemimpin dunia memangkas anggaran bantuan, konflik meningkatkan biaya setiap pengiriman, setiap bungkus makanan, setiap perlengkapan medis yang kami kirim,” kata Zuidema.

AS memangkas bantuan luar negerinya sebesar 57% pada tahun 2025, sementara bantuan Inggris tahun lalu berada pada titik terendah sejak 2008. Norwegia, Jerman, dan Prancis semuanya juga telah memangkas anggaran bantuan mereka.

Di Yaman, di mana, setelah lebih dari satu dekade dilanda perang saudara, hampir setengah dari populasi membutuhkan bantuan, biaya pengiriman barang telah meningkat hingga 20%, karena biaya bahan bakar, menurut perkiraan Save the Children. Harga pangan di sana telah naik 30%.//

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Menlu Iran Abbas Aragachi (Dok: Xinhua)
GLOBALKawasan Global

Batal Beruding dengan AS, Menlu Iran Kunjungi Rusia

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Luar Negeri Iran Diplomat Abbas Araghchi mengnjungi Rusia....

Presiden AS Donald J Trump.
GLOBALKawasan Global

Trump dkk Diyakini jadi Target Terduga Pelaku Penembakan

JAKARTA, Bisnistoday - Pihak berwenang Amerika Serikat meyakini pria bersenjata yang mencoba...

Presiden AS
GLOBALHEADLINE NEWSKawasan Global

Trump Mengaku Sebagai Sasaran Insiden Penembakan di Acara Makan Malam

JAKARTA, Bisnistoday – Insiden penembakan terjadi di dekat sebuah hotel di Washington...

Partai Gelora
GLOBALKawasan Global

Mahfuz Sidik Ingatkan Kawasan Indo Pasifik Bakal Jadi Spot Perang Baru

JAKARTA, Bisnistoday-Ketua Komisi I DPR RI 2010-2017 Mahfuz Sidik memprediksi kawasan Indo...