JAKARTA, Bisnistoday – Stadion Dallas, Amerika Serikat, dini hari nanti, akan menjadi panggung pertunjukkan dua tim penuh bakat, Prancis dan Spanyol, di semifinal Piala Dunia 2026. Selain sejarah rivalitas, mereka juga membawa harapan jutaan orang yang menjagokan kedua tim tersebut.
Bagi Prancis, semifinal ini merupakan kesempatan lain untuk mengukuhkan era yang sudah menjadi salah satu era terhebat negara itu. Sementara bagi Spanyol, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kesabaran, kontrol, dan kekompakan, masih dapat menaklukkan tim dengan serangan paling agresif di dunia.
Sejauh ini, Prancis tampil penuh percaya diri. Kylian Mbappe, masih menjadi tumpuan dan kini menjadi calon kuat untuk meraih Sepatu Emas dengan delapan gol dalam lima pertandingan. Selain dia, Ousmane Dembele juga tak kalah garang dengan menyumbangkan lima gol.
Bradley Barcola telah menambahkan dimensi lain dalam daya gempur Prancis, sementara Michael Olise lihai mengatur sebagian besar kreativitas Prancis dengan lima assist. Dengan sebagian kekuatan ini, Les Bleus, memang layak diunggulkan.
Namun Mbappe mengingatkan rekan-rekannya untuk tidak jemawa. Meskipun memenangkan Piala Dunia pada 2018 dan menjadi runner-up empat tahun kemudian, kapten Prancis itu menegaskan bahwa tim ini masih memiliki sesuatu untuk dibuktikan.
“Saya ikut merasakan juara pada 2018 dan runner-up Piala Dunia pada tahun 2022, tapi tim ini belum mencapai apa pun,” kata Mbappe.
“Namun, ini adalah tim dengan potensi terbesar. Ada begitu banyak kualitas dalam skuad ini; itu memungkinkan Anda untuk bermimpi,” imbuhnya.
Sejauh ini, mimpi-mimpi itu telah membawa Prancis menjalani petualangan yang nyaris sempurna. Mereka melaju mulus di babak penyisihan grup dengan menaklukkan Norwegia, Senegal, dan Irak, sebelum membantai Swedia 3-0 di babak 32 besar.
Kemenangan 1-0 yang diraih dengan susah payah atas Paraguay menguji kesabaran mereka, sebelum kemenangan meyakinkan 2-0 melawan Maroko untuk mengamankan tiket ke semifinal.
Baca juga: Mengemas Hasrat sebuah Tontonan
Kini, sejarah bersiap untuk ditulis. Kemenangan atas Spanyol akan membawa Mbappe dkk ke final Piala Dunia ketiga berturut-turut, menjadikan mereka negara Eropa kedua setelah Jerman Barat yang mencapai prestasi luar biasa tersebut.
Namun, jalan ke arah itu tidaklah mudah. Jika Prancis mengandalkan kecepatan dan kreativitas serangan, Spanyol mengandalkan disiplin, ketenangan, dan penguasaan bola yang tak kenal lelah. Gawang mereka hanya kebobolan sekali sepanjang turnamen, sementara barisan gelandang mereka: Rodri, Pedri, dan Dani Olmo, lihai bak Matador, yang membuat lawan frustrasi untuk merebut bola.
Perjalanan mereka di turnamen ini pun sama meyakinkannya. Spanyol memuncaki grup setelah menang atas Arab Saudi dan Uruguay, sebelum mengalahkan Austria 3-0 untuk memulai babak gugur. Gol dramatis di menit-menit akhir melawan Portugal mengakhiri derbi Iberia yang penuh emosi, sebelum gol telat lainnya memastikan kemenangan 2-1 atas Belgia di perempat final.
Keyakinan Fuente
Bagi pelatih Luis de la Fuente, semifinal ini memiliki bobot yang sama dengan final itu sendiri.”Bukan berlebihan untuk menggambarkan pertandingan ini sebagai final sebelum final. Kami adalah salah satu tim yang mampu mencapai final. Mulai sekarang, kami sepenuhnya fokus pada Prancis.”
Pelatih Spanyol itu bahkan sangat percaya diri. “Kami menyadari potensi mereka yang luar biasa, tetapi kami juga tahu bahwa kami adalah satu-satunya tim yang telah mengalahkan mereka di dua semifinal.”
Baca juga: Ritual Budaya dalam Sepak Bola
Kemenangan di semifinal Piala Eropa 2024 dan semifinal Liga Bangsa-Bangsa (Nation League) pada 2025, menjadi bukti bahwa Spanyol telah menemukan cara untuk membuat Prancis frustrasi.
Namun, prestasi dan reputasi tidak memberi garansi apapun di pertandingan dini hari nanti. Di fase krusial ini, hasil akhir kadang ditentukan bukan oleh banyaknya gol. Kesalahan dan kecerobohan kecil, tak jarang ikut menentukan sejarah yang akan dikenang bertahun-tahun kemudian.
Bagi para pendukung, semifinal ini lebih dari sekadar pertemuan antara dua raksasa Eropa. Ini adalah benturan idealisme sepak bola, kecerdasan menyerang Prancis yang tak kenal lelah melawan kesabaran Spanyol.
Sayangnya, cuma satu yang akan berkesempatan mengangkat trofi. Yang lainnya akan meninggalkan turnamen ini dengan membawa pelajaran bahwa di Piala Dunia, bahkan perjalanan sebuah tim yang luar biasa sekalipun, dapat berakhir di satu fase sebelum mencapai kejayaan.//








































