www.bisnistoday.co.id
Minggu , 19 Juli 2026
Home LIFESTYLE Sport & Health Sulitnya Memberantas Rasisme di Sepak Bola
Sport & Health

Sulitnya Memberantas Rasisme di Sepak Bola

Perundungan berbau rasial juga terkadang datang dari sesama pemain. Di era media sosial, pemain sepak bola bahkan lebih rentan terhadap pelecehan daring.

Cristiano Ronaldo membawa plakat kampanye antirasis (dok:UEFA)
Cristiano Ronaldo membawa plakat kampanye antirasis (dok:UEFA)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Usai Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 di babak 16 besar Piala Dunia pekan lalu, Kylian Mbappe, pemain yang mencetak gol tunggal di laga itu, mendapat perlakuan rasis dari Celeste Amarilla.

Dalam beberapa unggahannya di media sosial, anggota senator Paraguay dari Partai Liberal Radikal Otentik itu, menyebut Mbappe, yang memiliki darah Kamerun dan Aljazair dari ayah dan ibunya, sebagai orang jajahan. Dia juga mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut Mbappe berguru pada simpanse.

Mbappe membalas komentar awal senator tersebut dalam sebuah unggahan di X. “Nyonya Celeste Amarilla, Anda adalah wanita yang hina dan tidak layak menduduki posisi Anda,” tulis pesepakbola itu dalam sebuah unggahan yang menyertakan foto senator tersebut.

“Anda tidak mewakili Paraguay, negara yang telah berjuang dengan semangat dan kehormatan sepanjang kompetisi. Melalui kecerobohan dan rasisme Anda yang terang-terangan, seluruh dunia telah melupakan perjalanan dan upaya bersejarah yang dilakukan para pemain Paraguay selama Piala Dunia ini. Saya tidak akan pernah membiarkan orang-orang seperti Anda bebas menyebarkan kebencian dan rasisme mereka di seluruh dunia,” tambah Mbappe.

Di kolom komentar, ratusan penggemar Mbappe juga menyerang Amarilla. Setelah mendapat berbagai kecaman dari berbagai kalangan, pada Senin (6/7/2026) malam, Amarilla memposting surat terbuka dalam bahasa Prancis dan Spanyol, untuk meminta maaf kepada Mbappe.

Dia mengaku telah  menghapus unggahannya dan menyesal mengeluarkan pernyataan itu.  Dia sendiri mengaku sebagai orang berdarah campuran. Namun, dia juga menuduh Mbappe melakukan “kekerasan berbasis gender” terhadapnya dalam tanggapannya terhadap penghinaan tersebut, dan menuntut permintaan maaf serta mengancam akan mengambil tindakan hukum.

Para politisi di Prancis mendukung Mbappe dan mengutuk pernyataan Amarilla. Presiden Emmanuel Macron, yang saat ini sedang mengunjungi Suriah, mendukung tanggapan pesepakbola tersebut terhadap penghinaan itu. “Satu gol lagi untuk Kylian Mbappe. Kali ini melawan rasisme,” tulis Macron di X.

Di platform yang sama, Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari menulis: “Dengan menargetkan Kylian Mbappe, senator tersebut menyerang segala sesuatu yang diwujudkan oleh kapten kita dan segala sesuatu yang diperjuangkan negara kita: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.”

“Dalam tiga kata, itu menjijikkan, memalukan, dan skandal,” kata asisten pelatih Prancis Guy Stephan, dikutip Al Jazeera.

Bukan kali pertama

Rasisme telah lama menjadi noda yang sering terjadi dalam sepak bola, baik dari penonton di stadion maupun dari ranah politik.

Baca juga : Manuver Politikus Sayap Kanan yang Memalukan

Pemain sepak bola keturunan Afrika, khususnya, kerap menjadi sasaran. Perundungan berbau rasial juga terkadang datang dari sesama pemain. Di era media sosial, pemain sepak bola bahkan lebih rentan terhadap pelecehan daring.

Mbappe bukanlah orang pertama yang mendapat perlakuan itu. Pada 2014, seorang penonton melempar pisang ke arah  Dani Alves, pemain Afro-Brasil, yang bermain untuk Barcelona.

Respons Alves adalah dengan tenang mengambil pisang tersebut dan memakannya sebelum melanjutkan pertandingan. Namun, penonton tersebut menghadapi banyak kecaman secara online, dan insiden tersebut memicu kampanye anti-rasisme di media sosial.

Romelu Lukaku, striker Belgia yang bermain untuk SSC Napoli di Serie A Italia, juga pernah mengalami beberapa perlakuan rasis sepanjang kariernya. Pendukung tim lawan sering kali memberi isyarat provokatif atau membuat suara seperti monyet ketika ia menggiring bola di lapangan.

Pada April 2023, saat bermain untuk Inter Milan melawan Juventus, beberapa orang di tribun meneriakkan nyanyian rasis kepadanya dan membuat suara seperti monyet. Namun, Lukaku diskors karena merayakan dengan jari telunjuk di bibirnya, membungkam penonton setelah ia mencetak gol penalti di menit-menit akhir. Wasit mengklaim Lukaku “memprovokasi” penonton. Hukuman skorsingnya kemudian dibatalkan, dan Juventus terkena sanksi tampil tanpa penonton.

Pada Mei 2023, penyerang Real Madrid dan Brasil, Vinicius Junior, mendapat ejekan rasis dari penonton di Stadion Mestalla, Valencia. Tindakan tersebut berujung pada hukuman pidana bagi para pelaku. Namun, itu hanyalah salah satu dari sekian banyak kejadian, di mana Vinicius akhirnya terdorong untuk bersuara tentang perlakuan rasis terhadapnya.

Suatu kali, sebuah manekin hitam yang mengenakan bajunya digantung di jembatan. Baru-baru ini, pada Februari 2026, ia melaporkan hinaan rasial di tengah pertandingan dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang menyebabkan pertandingan dihentikan selama 10 menit, dalam ajang Liga Champions.

Meskipun Prestianni membantah tuduhan tersebut, rekan-rekan setim Vinicius, termasuk Mbappe, sangat mendukungnya. Prestianni terkena hukuman larangan bermain enam pertandingan setelah penyelidikan atas hinaan homofobik.

Semua pihak

Insiden tersebut mendorong Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional untuk memberlakukan kebijakan baru sebelum Piala Dunia 2026: pemain yang menutupi mulut mereka saat berbicara dengan lawan akan mendapat kartu merah.

Mengatur pemain di lapangan mungkin mudah, namun sulit mengawasi tribun penonton, apalagi mengontrol pengguna media sosial. Kendati demikian, kampanye untuk menggugah kesadaran agar saling menghormati, harus terus bergaung dan melibatkan siapa saja, tidak cuma FIFA. //

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kapten Timnas Inggris Harry Kane (dok:x.com/Fabrio Romano)
Sport & Health

Piala Dunia 2026 : Inggris Ganjal Kiprah Timnas Prancis dengan Mengunci Gol Skor 6-4 di Akhir Laga

JAKARTA, Bisnistoday – Timnas Inggris akhirnya meraih peringkat ketiga setelah membungkam kiprah...

Suporter Portugal (dok: Unsplash/Omar Ramadan)
OPINISport & Health

Melihat Sepak Bola dari Kacamata Ilmu Budaya

PADA umumnya, masyarakat memandang Piala Dunia sebatas rivalitas antarnegara.  Yang ingin orang...

Kylian Mbappe (10) bersama timnas Prancis (dok:FFF/Iconsport)
Sport & Health

Duel Inggris-Prancis, Ajang Pembuktian Terakhir Mbappe

JAKARTA, Bisnistoday –Tidak ada satu tim pun yang menargetkan untuk menjadi juara...

Piala Dunia 2026 (Unsplash/Anthony Maw)
GagasanSport & Health

Menguji Konsistensi FIFA

SEPAK bola bukan cuma pentas unjuk kelihaian para pemain. Olahraga ini seringkali...