www.bisnistoday.co.id
Rabu , 8 Juli 2026
Home LIFESTYLE Sport & Health Sulitnya Memberantas Rasisme di Sepak Bola
Sport & Health

Sulitnya Memberantas Rasisme di Sepak Bola

Perundungan berbau rasial juga terkadang datang dari sesama pemain. Di era media sosial, pemain sepak bola bahkan lebih rentan terhadap pelecehan daring.

Cristiano Ronaldo membawa plakat kampanye antirasis (dok:UEFA)
Cristiano Ronaldo membawa plakat kampanye antirasis (dok:UEFA)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Usai Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 di babak 16 besar Piala Dunia pekan lalu, Kylian Mbappe, pemain yang mencetak gol tunggal di laga itu, mendapat perlakuan rasis dari Celeste Amarilla.

Dalam beberapa unggahannya di media sosial, anggota senator Paraguay dari Partai Liberal Radikal Otentik itu, menyebut Mbappe, yang memiliki darah Kamerun dan Aljazair dari ayah dan ibunya, sebagai orang jajahan. Dia juga mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut Mbappe berguru pada simpanse.

Mbappe membalas komentar awal senator tersebut dalam sebuah unggahan di X. “Nyonya Celeste Amarilla, Anda adalah wanita yang hina dan tidak layak menduduki posisi Anda,” tulis pesepakbola itu dalam sebuah unggahan yang menyertakan foto senator tersebut.

“Anda tidak mewakili Paraguay, negara yang telah berjuang dengan semangat dan kehormatan sepanjang kompetisi. Melalui kecerobohan dan rasisme Anda yang terang-terangan, seluruh dunia telah melupakan perjalanan dan upaya bersejarah yang dilakukan para pemain Paraguay selama Piala Dunia ini. Saya tidak akan pernah membiarkan orang-orang seperti Anda bebas menyebarkan kebencian dan rasisme mereka di seluruh dunia,” tambah Mbappe.

Di kolom komentar, ratusan penggemar Mbappe juga menyerang Amarilla. Setelah mendapat berbagai kecaman dari berbagai kalangan, pada Senin (6/7/2026) malam, Amarilla memposting surat terbuka dalam bahasa Prancis dan Spanyol, untuk meminta maaf kepada Mbappe.

Dia mengaku telah  menghapus unggahannya dan menyesal mengeluarkan pernyataan itu.  Dia sendiri mengaku sebagai orang berdarah campuran. Namun, dia juga menuduh Mbappe melakukan “kekerasan berbasis gender” terhadapnya dalam tanggapannya terhadap penghinaan tersebut, dan menuntut permintaan maaf serta mengancam akan mengambil tindakan hukum.

Para politisi di Prancis mendukung Mbappe dan mengutuk pernyataan Amarilla. Presiden Emmanuel Macron, yang saat ini sedang mengunjungi Suriah, mendukung tanggapan pesepakbola tersebut terhadap penghinaan itu. “Satu gol lagi untuk Kylian Mbappe. Kali ini melawan rasisme,” tulis Macron di X.

Di platform yang sama, Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari menulis: “Dengan menargetkan Kylian Mbappe, senator tersebut menyerang segala sesuatu yang diwujudkan oleh kapten kita dan segala sesuatu yang diperjuangkan negara kita: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.”

“Dalam tiga kata, itu menjijikkan, memalukan, dan skandal,” kata asisten pelatih Prancis Guy Stephan, dikutip Al Jazeera.

Bukan kali pertama

Rasisme telah lama menjadi noda yang sering terjadi dalam sepak bola, baik dari penonton di stadion maupun dari ranah politik.

Pemain sepak bola keturunan Afrika, khususnya, kerap menjadi sasaran. Perundungan berbau rasial juga terkadang datang dari sesama pemain. Di era media sosial, pemain sepak bola bahkan lebih rentan terhadap pelecehan daring.

Mbappe bukanlah orang pertama yang mendapat perlakuan itu. Pada 2014, seorang penonton melempar pisang ke arah  Dani Alves, pemain Afro-Brasil, yang bermain untuk Barcelona.

Respons Alves adalah dengan tenang mengambil pisang tersebut dan memakannya sebelum melanjutkan pertandingan. Namun, penonton tersebut menghadapi banyak kecaman secara online, dan insiden tersebut memicu kampanye anti-rasisme di media sosial.

Romelu Lukaku, striker Belgia yang bermain untuk SSC Napoli di Serie A Italia, juga pernah mengalami beberapa perlakuan rasis sepanjang kariernya. Pendukung tim lawan sering kali memberi isyarat provokatif atau membuat suara seperti monyet ketika ia menggiring bola di lapangan.

Pada April 2023, saat bermain untuk Inter Milan melawan Juventus, beberapa orang di tribun meneriakkan nyanyian rasis kepadanya dan membuat suara seperti monyet. Namun, Lukaku diskors karena merayakan dengan jari telunjuk di bibirnya, membungkam penonton setelah ia mencetak gol penalti di menit-menit akhir. Wasit mengklaim Lukaku “memprovokasi” penonton. Hukuman skorsingnya kemudian dibatalkan, dan Juventus terkena sanksi tampil tanpa penonton.

Pada Mei 2023, penyerang Real Madrid dan Brasil, Vinicius Junior, mendapat ejekan rasis dari penonton di Stadion Mestalla, Valencia. Tindakan tersebut berujung pada hukuman pidana bagi para pelaku. Namun, itu hanyalah salah satu dari sekian banyak kejadian, di mana Vinicius akhirnya terdorong untuk bersuara tentang perlakuan rasis terhadapnya.

Suatu kali, sebuah manekin hitam yang mengenakan bajunya digantung di jembatan. Baru-baru ini, pada Februari 2026, ia melaporkan hinaan rasial di tengah pertandingan dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang menyebabkan pertandingan dihentikan selama 10 menit, dalam ajang Liga Champions.

Meskipun Prestianni membantah tuduhan tersebut, rekan-rekan setim Vinicius, termasuk Mbappe, sangat mendukungnya. Prestianni terkena hukuman larangan bermain enam pertandingan setelah penyelidikan atas hinaan homofobik.

Semua pihak

Insiden tersebut mendorong Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional untuk memberlakukan kebijakan baru sebelum Piala Dunia 2026: pemain yang menutupi mulut mereka saat berbicara dengan lawan akan mendapat kartu merah.

Mengatur pemain di lapangan mungkin mudah, namun sulit mengawasi tribun penonton, apalagi mengontrol pengguna media sosial. Kendati demikian, kampanye untuk menggugah kesadaran agar saling menghormati, harus terus bergaung dan melibatkan siapa saja, tidak cuma FIFA. //

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Prediksi Argentina vs Mesir (OptaAnalyst/Aljazeera)
Sport & Health

Argentina dan Kolombia lebih Diunggulkan

JAKARTA, Bisnistoday – Pukul 23.00 WIB malam ini, Argentina bakal menghadapi Mesir...

Cristiano Ronaldo dan Aymeric Laporte. (Dok:MundoDeportivo/Julio Cortez/Ap-LaPresse)
Sport & Health

Rekam Jejak Ronaldo di Piala Dunia

JAKARTA, Bisnistoday – Portugal gagal melangkah ke babak 8 besar Piala Dunia...

Sport & Health

Didimax Berhasil Himpun 115 Kantong Darah serta Layani 280 Peserta Cek Kesehatan Gratis

JAKARTA, Bisnistoday,- Didimax kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui...

Mikel Mireno (dok: PFA/Facebook)
Sport & Health

Gol Mikel Merino di Menit Akhir Pupus Impian Portugal

JAKARTA, Bisnistoday – Gol Mikel Merino di masa injury time membawa Spanyol...