JAKARTA, Bisnistoday – Dim-sum, makanan yang di Indonesia mirip Siomay, suatu saat mungkin bakal jadi nama yang menakutkan. Apalagi jika Komite Topan (Typhoon Committee), kelak menyetujui nama tersebut sebagai nama siklon tropis untuk kawasan Asia-Pasifik.
Baru-baru ini, Topan ‘Dim-sum’ termasuk dalam sembilan nama baru yang ditambahkan ke dalam daftar siklon tropis. Setiap usulan nama diajukan oleh satu negara. Nama-nama badai tropis umumnya digunakan kembali secara bergilir, menggantikan nama-nama lama yang pernah digunakan untuk badai yang menyebabkan korban jiwa serius dan kerugian ekonomi besar.
Dim-sum adalah nama yang disumbangkan oleh Hong Kong sebagai salah satu dari sembilan nama siklon tropis baru yang diperkenalkan untuk daftar wilayah Pasifik Barat Laut dan Laut Tiongkok Selatan.
Nama ini merupakan bagian dari “daftar cadangan” nama siklon tropis yang mencerminkan karakteristik suatu kawasan, yang disusun oleh Observatorium Hong Kong dengan melibatkan partisipasi publik pada tahun 2023.
Dim-sum menempati peringkat keempat, sementara “milktea” (teh susu) keluar sebagai pemenang dalam jajak pendapat yang menarik lebih dari 20.000 suara tersebut.
Terdapat 140 nama dalam daftar yang disusun oleh Komite Topan—sebuah badan yang dibentuk bersama oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk membantu negara-negara Asia-Pasifik bersiap menghadapi badai tropis. Siklon tropis juga dikenal dengan sebutan hurricane atau typhoon (topan), tergantung pada wilayahnya.
Sejak tahun 2000, masing-masing dari 14 negara anggota menyumbangkan 10 nama yang diambil dari bahasa dan budaya lokal wilayah mereka.
Perubahan ini diperkenalkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai siklon melalui penggunaan kata-kata yang familier—seperti nama hewan, tanaman, tokoh sejarah, dan makanan yang mudah dikenali oleh penduduk setempat.
Badai pertama yang diberi nama pada tahun 2000 adalah “Damrey”, yang berarti gajah dalam bahasa Kamboja, sementara Amerika Serikat menyumbangkan nama-nama yang berasal dari bahasa Palau, Marshall, dan CHamoru (atau Chamorro).
Sebelum era itu, nama-nama topan selalu berbahasa Inggris. Praktik pemberian nama pada badai bermula selama Perang Dunia II, ketika para ahli meteorologi dari angkatan pertahanan AS menamai badai di Samudra Pasifik dengan nama istri dan kekasih mereka.
Usulan lain
Negara-negara yang nama usulannya sebelumnya telah dipensiunkan bertanggung jawab untuk mengajukan nama baru, namun nama-nama tersebut harus disetujui oleh Komite Topan (Typhoon Committee). Nama-nama tersebut tidak boleh tidak senonoh, memiliki konotasi negatif dalam bahasa lain, ataupun menggunakan nama tokoh publik.
Nama “Dim-sum” diusulkan bersama nama-nama lainnya seperti dari Korea Utara, yaitu “Gaeguri” (berarti katak), “Hoaban” (sejenis bunga dari pegunungan barat laut Vietnam), dan “Tirou” (usulan Mikronesia, sebuah bentuk sapaan hormat dalam budaya Chuuk).
Jepang menyumbangkan dua nama baru: “Hebi” yang berarti ular, dan “Tomo” yang berarti buritan kapal; sementara Kamboja memilih “Koki” (sejenis pohon besar), Republik Korea memilih “Narae” (sayap burung atau serangga), dan Thailand memilih “Burapha” (Timur).
Pada 2005, dua nama usulan dari Hong Kong ditolak. Thailand menolak usulan Hong Kong bernama “Kapok” (sebutan untuk pohon kapuk di Hong Kong) karena bunyinya mirip dengan kata slang Thailand yang merujuk pada bagian intim anatomi pria, sedangkan nama “Tai Chi” ditentang oleh pejabat Jepang karena dianggap terdengar seperti nama anak-anak.//










































