www.bisnistoday.co.id
Kamis , 2 Juli 2026
Home EKONOMI Jangan Terlena Pertumbuhan Semu Kinerja Ekonomi Kuartal II-2021
EKONOMI

Jangan Terlena Pertumbuhan Semu Kinerja Ekonomi Kuartal II-2021

IHSG dan rupiah menguat
IHSG dan kurs rupiah pada perdagangan Jumat (12/07) ditutup menguat
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07 % pada Kuartal II-2021 lebih karena “Low Base Effect.” Angka tersebut diambil dari data pembanding Kuartal II-2020 mengalami kontraksi sebesar – 5,3 %. Meski demikian, pertumbuhan sebesar 7,07 % yang positif di semua sektor dan pengeluaran patut dilihat secara riil di lapangan mengingat saat ini masyarakat dibayang-bayangi pertumbuhan ekonomi yang semu. Hal tersebut diungkapkan oleh Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Indef melalui keterangan persnya, baru-baru ini. 

Menurutnya, angka kasus harian Covid-19 bakal jauh lebih tinggi di Kuartal III-2021, kasus kematian yang semakin banyak, PPKM Darurat dan Leveling masih terus berlanjut. Apalah arti pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun di saat yang sama kasus kematian akibat Covid-19 terus menanjak. 

Dengan beberapa pertimbangan seperti penanganan Covid-19 yang belum terkendali, aktivitas ekonomi melambat, daya beli masyarakat rendah khususnya masyarakat menengah ke bawah, angka vaksinasi masih rendah, keterlambatan penyerapan belanja negara dan faktor-faktor lainnya, maka pada Kuartal- III 2021 INDEF memproyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3%-4%. 

“Ini artinya bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat kembali dan bisa saja akan memburuk apabila pandemi tidak bisa ditangani dengan baik. Berdasarkan hal tersebut maka berikut sejumlah catatan INDEF atas pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2021 dan rekomendasi agar kuartal berikutnya ekonomi dan kesehatan cepat pulih kembali.”

Pertumbuhan Semu 

Direktur Indef ini menjelaskan, pertumbuhan PDB pada Kuartal II-2021 mencatatkan pertumbuhan yang semu karena menggunakan base rendah di tahun 2020 yang mana Kuartal II-2020 masih dilakukan PSBB sementara Kuartal II-2021 terjadi pelonggaran PPKM. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tinggi melebihi rata-rata pertumbuhan kuartalan Indonesia sebesar 5%.

Tentu saja, ekonomi Indonesia masih belum kembali ke kondisi normal. Jika dibandingkan dengan rerata pertumbuhan sebelum pandemi (2018-2019), Kuartal II-2021 hanya tumbuh 3,87%. Negara mitra dagang kita juga sama setelah setahun sebelumnya mengalami kontraksi yang lebih dalam. Bahkan China bisa tumbuh sebesar 18,3 % (QI 2021) dari sebelumnya -6,8 % (Q1 2020), Singapore 14% (Q2 2021) dari sebelumnya -13,3 % (Q2 2020) dan Amerika tumbuh 12,2 % (Q2 2021) dari sebelumnya -9,1 % (Q2 2020). 

“Jadi wajar kalau pertumbuhan karena low base effect (dasar perhitungan rendah) memang menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi kita, sama seperti negara-negara di atas.” 

Pendorong Pertumbuhan 

Tauhid Ahmad dalam keteranganya mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kuartal kedua didominasi oleh sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Di susul oleh sektor perdagangan yang tumbuh melebihi pertumbuhan ekonomi. Sektor yang tumbuh tinggi jika menggunakan perbandingan dengan tahun tanpa pandemi (2018-2019), di luar jasa informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan yakni pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang (14,9%); jasa keuangan (11,9%); dan administrasi pemerintahan (10,4%). 

“Meski demikian, apabila kita bandingkan dengan kinerja tanpa pandemi (2018-2019) maka terlihat bahwa tekanan masih terjadi di sektor; (i) transportasi dan pergudangan (- 10,97%).” 

Terbatasnya mobilitas masyarakat (belum kembali ke base awal di Februari 2020) membuat sektor transportasi khususnya darat tertekan dan masih belum kembali pada kondisi normal; (ii) penyediaan akomodasi dan mamin (-2,58%). Protokol kesehatan seperti jaga jarak (social distancing) mendorong penyedia perhotelan dan restoran masih belum kembali ke kapasitas penuh (masih 50%).

Pada sektor industri, Leading indicator seperti PMI/Purchasing Manager Index Juli 2021 menunjukkan tiga negara Asia: Indonesia, Malaysia dan Vietnam melemah akibatnya penyebaran Covid—19 varian delta yang mana pada dua kuartal sebelumnya PMI mencatatkan capaian tinggi. Di sisi lain, saat ini kapasitas utilitas produksi industri manufaktur masih di level 72.3 persen. 

Angka ini masih berada di bawah level normal sekitar 76 persen di 2018 dan 2019. Dengan kebijakan PPKM Darurat akan ada penurunan dari pemenuhan kapasitas utilitas produksi. 

Sektor Pertanian Tertinggal 

Tauhid Ahmad mengatakan, sektor pertanian tumbuh paling kecil sebesar 0,38%. Sektor pertanian yang digadang menjadi sandaran hidup selama pandemi, menjadi sektor dengan tingkat pertumbuhan terendah yakni 0,38 % yoy. Pergeseran musim panen raya padi ke Maret 2021 (Kuartal I – 2021) menjadi sebab mengapa pertumbuhan sektor pertanian rendah. 

Pada 2019 dan 2020, panen raya terjadi pada Kuartal II (April) yang ditunjukkan oleh pertumbuhan sub sektor tanaman pangan masing-masing sebesar 5,31 % dan 9,23 %. Pada Kuartal I 2019 dan 2020, sub sektor tanaman pangan masing-masing tumbuh -5,14% dan -10,13%. Pada Kuartal I 2021, tanaman pangan tumbuh 10,23%. 

“Karena itu, pemerintah harus mengamankan stok pangan hingga akhir tahun guna mengantisipasi efek pandemi yang meluas ke daerah. Ketiadaan panen raya di akhir tahun, akan mendorong kenaikan harga beras di akhir tahun. Hal ini bisa semakin memberatkan masyarakat apabila pandemi belum mengalami pelandaian kurva, terutama di daerah.” 

Pengeluaran Tak Seimbang 

Labih jauh, Tauhid Ahmad menjelaskan, konsumsi membaik didorong kelas menengah ke atas. Konsumsi masyarakat membaik pada Q2 2021 yakni sebesar 5,93 % (yoy). Peningkatan konsumsi yang lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu banyak didorong oleh perbaikan penghasilan konsumen secara perlahan karena aktivitas ekonomi mulai membaik dan lapangan pekerjaan mulai terbuka. Ini tidak lepas dari peningkatan mobilitas konsumen karena kasus covid yang menurun hingga pertengahan Juni 2021. 

“Peningkatan konsumsi ini juga tidak lepas dari semakin tingginya kelas menengah (penghasilan diatas > 5 juta/bulan) melakukan belanja dalam tiga bulan terakhir, khususnya barang-barang durable goods. Rasio konsumsi terhadap pendapatan pada kelompok ini sebesar 72,5 % pada bulan Juni 2021 lebih tinggi dibandingkan Mei 2021 yang sebesar 69,7 % (BI, 2021),” terangnya. 

Direktur Eksekutif Indef ini menuturkan, konsumsi utama (makanan dan minuman) relatif rendah. Pertumbuhan konsumsi yang hanya 5,93 % diatas lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi Q2 2021 sebesar 7,07 % menandakan konsumsi masih relatif rendah. Apalagi pada konsumsi makanan dan minuman yang hanya tumbuh sebesar 3,89 %. 

Padahal kontribusi makanan dan minuman dalam konsumsi rumah tangga 41,45 % atau yang terbesar dibandingkan lainnya. Bila dilihat lebih dalam lagi maka pada konsumen dengan pendapatan rendah laju konsumsinya tertahan (penghasilan kurang dari < 5 juta/bulan). 

“Bantuan bansos yang diberikan pemerintah tidak cukup nyata mendorong konsumsi masyarakat jauh lebih tinggi, khususnya pada masyarakat bawah yang konsumsi makanan dan minumannya lebih besar proporsinya dibandingkan lainnya.” 

Disisi lain, belanja modal untuk investasi masih relatif rendah. Investasi tumbuh ini pada dasarnya banyak ditopang mesin dan perlengkapan yang tumbuh sebesar 19,05 % (yoy) dengan kontribusi terhadap PMTPB sebesar 10,24 % dan bangunan sebesar 4,36 % (yoy) dengan kontribusi terhadap PMTPB sebesar 75,9 %. Bangunan tumbuh lebih disebabkan belanja modal yang dilakukan masyarakat dan swasta untuk bangunan, maupun belanja modal oleh pemerintah. 

Namun demikian, belanja modal yang dibelanjakan pemerintah sebesar 29,03 % masih relatif rendah untuk satu semester di tahun 2021, termasuk belanja modal yang berasal dari Dana Alokasi Khusus Fisik sebesar 7,39 %. Implikasinya dorongan belanja bangunan tidak terlalu optimal. Justru diperkirakan, investasi swasta jauh lebih besar dibandingkan investasi yang dilakukan pemerintah. 

Sementara, ekspor dan impor menjadi booster pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekspor tumbuh sebesar 31,78 % (yoy) pada Q2 2021 dan impor tumbuh sebesar 31,22 % (yoy) pada kurun waktu yang sama. Ekspor tumbuh karena banyaknya permintaan negara mitra dagang seiring dengan pemulihan ekonomi dan juga mengamankan stok bahan baku untuk industri mereka ditengah ketidakpastian covid. Di sisi lain, impor meningkat karena kebutuhan industri mulai membaik, khususnya untuk kebutuhan bahan baku penolong. 

“Hanya saja, pada kurun waktu mendatang akan kembali turun mengingat covid varian Delta menyerang negara-negara mitra dagang sehingga diperkirakan pemulihan negara mitra dagang juga terhambat. “

Tantangan Kuartal III-2021

Direktur Eksekutif INDEF menuturkan, Penanganan Covid masih belum optimal. Faktanya hingga saat ini kasus Covid masih di atas 30.000 kasus per hari. Ini selain karena penanganan Covid yang tidak menyeluruh juga kesadaran masyarakat belum memadai. Apalagi kematian di sejumlah daerah masih relatif tinggi dan mulai menyebar di luar Jawa. Kalau ini dibiarkan maka keyakinan konsumen (masyarakat) akan melemah dan pasar juga akan melemah. 

Pelaku usaha juga tidak begitu yakin apa Covid bisa dihentikan hingga kuartal III 2021. Di sisi lain, implikasi yang besar adalah apakah kebijakan PPKM terus berlanjut atau bahkan lebih bertahan lama. Kalau hingga Agustus 2021 terus berlanjut maka mau tidak mau ekonomi kita akan jauh lebih lemah.

Varian Delta mulai menyebar ke negara mitra dagang. China, USA, Malaysia hingga India merupakan negara mitra dagang (pasar ekspor) terbesar dan negara tersebut saat ini mulai diserang varian delta. Implikasinya penggunaan masker diberlakukan dan pembatasan aktivitas mulai terjadi. Implikasinya ke depan, aktivitas ekonomi mulai menurun dan berimplikasi permintaan impor dari Indonesia akan cenderung melemah. 

Vaksinasi relatif lambat, hingga 4 Agustus Vaksinasi telah mencakup 8,1 % (total populasi) untuk vaksinasi lengkap dan 17,9 % untuk vaksinasi tahap 1. Padahal ini telah memakan waktu 6 bulan (Februari – Juli 2021) sehingga kalau laju vaksinasi masih seperti ini maka vaksinasi tidak akan selesai hingga tahun 2022, bahkan lebih panjang. Konsekuensinya, keyakinan masyarakat akan berkurang dan aktivitas ekonomi akan tidak bisa kembali seperti sediakala. 

Penyerapan dan efektifitas Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Penyerapan PEN hingga 5 Juli 2021 baru sebesar 36,1 % dimana untuk kesehatan baru sebesar 24,6 %, UMKM dan koperasi sebesar 29,8 %, Perlindungan Sosial sebesar 43,2%, Program Prioritas sebesar 35,7 % dan dunia usaha sebesar 71,7 %. Penyerapan yang rendah dalam kurun waktu 6 bulan dikuatirkan akan berimbas serapan total program ini. 

“Sebagai catatan bahwa tahun 2020 lalu penyerapan PEN sebesar 88 %. Jika ini terus terjadi maka daya dorong PEN masih kurang nendang. Belum lagi desain PEN yang masih dalam skenario tanpa Covid varian Delta sehingga desain PEN perlu dikaji ulang.” 

Sarankan Perbaikan 

INDEF, menurut Tauhid Ahmad, mengusulkan beberapa langkah kunci untuk segera keluar dari krisis, pertama, penanganan covid perlu dilakukan lebih kencang lagi, khususnya tracing pada kematian tinggi) dan vaksinasi (ketersediaan dan akses) menjadi kunci pemulihan ekonomi secara berkelanjutan. 

Kedua, antisipasi penurunan permintaan pada mitra dagang sebagai akibat Delta melalui diversifikasi produk ekspor maupun pasar. Ketiga, konsistensi menjaga mobilitas masyarakat tetap sesuai dengan rekomendasi PPKM berdasarkan level sehingga gap antara kebijakan PPKM dan implementasi di lapangan dapat dikurangi.

Selain itu, juga perluanya realokasi anggaran PEN dengan menekankan pada bantuan sosial, khususnya pada kelompok masyarakat bawah (pengeluaran di bawah Rp 3 juta) serta peningkatan efektifitas program PEN lainnya, termasuk untuk UMKM perlu segera dilakukan./ 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pengemudi Ojol Roda Dua Resmi Berstatus Pelaku Usaha Mikro

JAKARTA, Bisnistoday – Mulai 1 Juli 2026 pengemudi ojek online (ojol) roda...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Agrinas Palma Gandeng Pertamina Power, Reaktivasi Biodiesel dan Bangun Pabrik Bioetanol

JAKARTA, Bisnistoday - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) gandeng PT Pertamina Power...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Koperasi Masuk Sektor Strategis, Peluang Mahasiswa Berwirausaha

JAKARTA, Bisnistoday - Koperasi masa kini telah merambah berbagai sektor strategis, dari...

Platform Media Sosial (dok:Unsplash.cpm/Berke-citak)
EKONOMITrends & Mode

Manusia Semakin ‘Kecanduan’ Media Sosial

JAKARTA, Bisnistoday – Tahukah Anda tanggal 30 Juni diperingati sebagai Hari Media...