JAKARTA, Bisnistoday- Indonesia berada dalam level angka stunting yang mengkhawatirkan sehingga menjadi ancaman serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, prevelensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Artinya, sekitar satu dari empat anak balita (lebih dari delapan juta anak) di Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%.
“Seperti negara lain Jepang atau Korea, sudah mulai mengembangkan upaya berbasis kreatifitas. Berbasis kreatifitas ini relatif tidak bisa dikerjakan, oleh sumber daya manusia yang memiliki keterbatasan stunting. Ini negara harus hadir dan intervensi persoalan ini,” ungkap Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta, saat peringatan Hari Ibu 22 Desember 2021 sekaligus Peluncuran program Gerakan Gelorakan Gen 170 secara virtual dan offline di Kota Tangerang Selatan, Rabu (22/12).
Hadir dalam acara launching, yaitu Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwati dan tiga narasumber, yaitu Sandra Fikawati, Guru Besar Gizi Masyarakat FKM UI, Agung Tini, Tokoh Perempuan Penggerak Masyarakat Asal Bali dan Rina Adelina, Dokter Ahli Imunologi.
Lebih lanjut Anis Matta menegaskan, angka stunting akan semakin melebar ditengah tekanan ekonomi akibat pandemic. Karena itu, Partai Gelora mendorong adanya roadmap (peta jalan) pembangunan Indonesia kedepan menuju lima besar kekuatan ekonomi dunia. “Kita harus bentuk peta jalan baru menuju lima besar kekuatan ekonomi dunia,” terang Anis.
Menurut Anis Matta, partai Gelora akan mengelorakan program untuk mengejar ketertinggalan SDM Indonesia yang masih diwarnai tingginya angka stunting. Setiap bayi lahir harus mendapatkan gizi cukup hingga 1.000 hari pertama, bantuan gizi ibu hamil serta program makan siang sekolah.
“Kita luncurkan program GEN 170 dengan maksud tinggi badan rata-rata 170 cm bagi warga Indonesia. walaupun memang tinggi badan masih menjadi perdebatan,” tuturnya.
Anis mengatakan, dalam olimpiade seperti pertandingan bola tentu personel Timnas Indonesia kalah tinggi dengan pemain asing lainnya. Dengan modal begitu, hanya beberapa emas yang mampu diraih. Secara langsung atau tidak, tinggi badan juga merupakan bagian yang menentukan dalam pertandingan tersebut.
Ketum Partai Gelora ini mengharapkan bahwa setiap bayi lahir di Indonesia diterima sebagai lucky moment. Sejak dalam kandungan harus sudah ada sentuhan dari negara, kecukupan gizi hingga ke taraf dewasa. “Nantinya, masalah populasi tidak lagi menjadi beban, dan sebaliknya menjadi kekuatan sumber daya. Manusia unggul itu harus dipersiapkan sejak berada di dalam kandungan,” cetusnya.
Sandra Fikawati, Guru Besar Gizi Masyarakat FKM UI menuturkan, manusia dalam kondisi stunting kurang kompeititif, berisiko juga penyakit generative, produktifitas juga tidak sebaik manusia bergizi cukup. “Tentu perkembangan kognitif rendah, karena masa pertumbuhan 2 tahun pertama, otak berkembang dan postur tubuh berkembang sangat cepat. Masa ini butuh gizi cukup, kalau tidak akan sulit,” tuturnya.
Karena itu, menurutnya, selama pertumbuhan dua tahun pertama, pemerintah harus mengintervensi untuk kecukupan gizi. Dengan begitu angka 170 cm rata-rata warga Indonesia tersebut, akan menjadi realistis dapat dicapai.
“Anak stunting bisa saja karena penyakit, tetapi juga terpenting adalah kecukupan makan. Akses terhadap makan ini sangat mendasar, sedangkan asupan gizi terpenting adalah protein, karbohidrat, dan lemak. Untuk gizi yang sifatnya mikro seperti vitamin dan mineral, susu. Namun terpenting untuk pertumbuhan adalah kecukupan protein,” tuturnya.
Sementara. Rina Adelina, Dokter Ahli Imunologi menjelaskan selain faktor makanan yang memengaruhi tinggi badan seseorang adalah polusi. “Polusi udara juga secara ilmiah bisa memengaruhi tinggi badan,” katanya.
Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwati menuturkan, para perempuan Gelora sudah bergerak untuk masalah ini. “Partai Gelora sudah bergerak di seluruh provinsi dan akan kita lakukan secara terus menerus agar apa yang kita programkan berhasil,” kata model tahun 1990-an ini./



