JAKARTA, Bisnistoday – Pasar energi global kembali bergolak seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan di salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia.
Di Amerika Serikat, para pengendara sudah merasakan dampaknya. Harga eceran rata-rata bensin telah naik di atas US$4,00 per galon (3,78 liter), yang menurut American Automobile Association (AAA), merupakan kenaikan kedua berturut-turut dalam sepekan terakhir.
Kenaikan ini mencerminkan betapa cepatnya peristiwa geopolitik dapat membalikkan tren pasar. Publik khawatir ketegangan ini kembali akan mengganggu jalur disribusi seperlima pasokan minyak global di Selat Hormuz. Apalagi pejuang Houthi di Yamanmengancam akan memperluas serangan terhadap pelayaran di Laut Merah jika serangan terhadap fasilitas energi Iran terus berlanjut.
Pasar langsung merespons situasi ini. Minyak mentah Brent, misalnya, sempat melonjak di atas US$91 per barel sebelum turun menjadi sekitar US$88, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik ke level tertinggi dalam beberapa minggu sebelum sedikit turun.
Meskipun harga kemudian moderat, analis mengatakan pasar tetap sangat sensitif terhadap gangguan apa pun yang memengaruhi ekspor energi dari Teluk. Apalagi, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz telah melambat secara signifikan.
Data dari perusahaan pelacak maritim menunjukkan penurunan tajam jumlah kapal yang melewati jalur air tersebut selama akhir pekan, yang mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di antara perusahaan pelayaran. Operator kapal tanker Yunani, Dynacom Tankers, juga melaporkan bahwa dua kapalnya terkena proyektil yang tidak dikenal saat berlayar di dekat Pantai Oman.
Pasar keuangan
Ketidakstabilan yang kembali muncul telah mempersulit prospek ekonomi global. Menurut analis pasar, kenaikan biaya bahan bakar yang terus-menerus dapat memengaruhi keputusan kebijakan moneter di masa mendatang, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi kembali meningkat.
“Kenaikan harga energi tetap menjadi fokus, karena peningkatan kembali ketegangan di Timur Tengah menambah kekhawatiran bahwa data inflasi pekan lalu yang lebih rendah dari perkiraan mungkin tidak cukup untuk mencegah The Fed menaikkan suku bunga di akhir tahun ini,” kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, kepada kantor berita Reuters.
Pasar keuangan mencerminkan ketidakpastian ini. Meskipun saham teknologi mengangkat Nasdaq dan mendukung kenaikan moderat di S&P 500, Dow Jones Industrial Average merosot di tengah kehati-hatian investor. Emas, yang sering diuntungkan selama periode ketidakstabilan geopolitik, sedikit turun meskipun ada ketidakpastian pasar yang lebih luas.
Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak mentah, kenaikan harga yang berkepanjangan menimbulkan tantangan ekonomi yang signifikan. Harga minyak yang lebih tinggi biasanya berarti peningkatan biaya transportasi, manufaktur, dan logistik, yang pada akhirnya berdampak pada harga konsumen dan inflasi. //









































