www.bisnistoday.co.id
Rabu , 29 Juli 2026
Home HEADLINE NEWS Asia-Pacific Tax Forum ke-17 Bahas Tantangan Dinamika Kebijakan Perpajakan Regional dan Global
HEADLINE NEWS

Asia-Pacific Tax Forum ke-17 Bahas Tantangan Dinamika Kebijakan Perpajakan Regional dan Global

Forum Perpajakan
Malaysian Association of Tax Accountants (MATA) berkolaborasi dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyelenggarakan 17th Annual Asia-Pacific Tax Forum (APTF) 2026 pada 27-28 Juli 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia./
Social Media

KUALALUMPUR, Bisnistoday – Malaysian Association of Tax Accountants (MATA) berkolaborasi dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyelenggarakan 17th Annual Asia-Pacific Tax Forum (APTF) 2026 pada 27-28 Juli 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.

APTF merupakan forum akademik dan kebijakan strategis di bidang perpajakan yang mempertemukan pembuat kebijakan, otoritas perpajakan, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha dari kawasan Asia-Pasifik. Pada penyelenggaraan ke-17, MATA dan INDEF secara khusus mengangkat perkembangan geopolitik serta implikasinya terhadap perekonomian dan kebijakan fiskal kawasan.

Pendiri dan Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini mengatakan, negara-negara Asia-Pasifik, termasuk Indonesia dan Malaysia, menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama.

Pertama, penerapan Global Minimum Tax melalui kerangka Pillar Two menuntut negara-negara untuk meninjau kembali desain insentif fiskalnya. Daya tarik investasi ke depan tidak dapat hanya bergantung pada tarif pajak rendah, tetapi perlu ditopang oleh kualitas infrastruktur, kepastian kebijakan, tenaga kerja terampil, transfer teknologi, dan kekuatan rantai pasok domestik.

Tanpa perbaikan fundamental ekonomi, pemberian insentif pajak berisiko mengurangi penerimaan negara tanpa menghasilkan tambahan investasi, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja yang sebanding.

Kedua, pertumbuhan ekonomi digital menimbulkan tantangan baru dalam penentuan basis pajak, hak pemajakan, pertukaran data, dan perlakuan yang setara antara pelaku usaha digital dan konvensional.

Menurut Didik, modernisasi administrasi perpajakan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan pemerintah menghimpun penerimaan. Digitalisasi juga perlu menurunkan biaya kepatuhan serta memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha.

Ketiga, instrumen perpajakan semakin dibutuhkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Pajak karbon, cukai, dan insentif fiskal hijau dapat mendorong efisiensi energi, investasi rendah karbon, dan inovasi teknologi. Namun, penerapannya harus mempertimbangkan kesiapan industri dan dampaknya terhadap kelompok berpendapatan rendah.

“Transisi hijau harus menjadi transisi yang adil. Kebijakan fiskal jangan sampai menciptakan beban ekonomi baru atau memperlebar ketimpangan,” kata Didik.

Karena itu, Didik menekankan pentingnya kerja sama dan jejaring antar pemangku kepentingan di kawasan. Pertukaran informasi serta kolaborasi akademik dan kebijakan diperlukan agar negara-negara Asia-Pasifik dapat memahami persoalan bersama dan merumuskan mekanisme penyelesaian yang lebih konkret.

“Ketika kebijakan tarif, proteksionisme, dan fragmentasi perdagangan menciptakan ketidakpastian baru, koordinasi regional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis,” ujar Didik dalam forum APTF 2026, kemarin.

Kebijakan Pajak Perkuat Daya Saing

Didik menambahkan bahwa kebijakan pajak tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai instrumen penghimpun penerimaan negara. Pajak juga menjadi bagian penting dari strategi untuk memperkuat daya saing, mendorong investasi produktif, menjaga keadilan, dan membiayai pembangunan berkelanjutan.

Dalam keynote speech, Sekretaris Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Malaysia, YBhg. Tan Sri Johan Mahmood Merican, membahas tantangan pembangunan ekonomi dan perdagangan internasional serta kaitannya dengan tata kelola dan kelembagaan kebijakan fiskal di Asia-Pasifik. Ia turut menyoroti pentingnya keadilan ekonomi dan pemberdayaan umat melalui penguatan keterkaitan antara perpajakan dan instrumen filantropi Islam, seperti zakat, infak, dan sedekah, dalam kerangka pembangunan Malaysia Madani.

Forum ini dihadiri sekitar 150 delegasi dari 22 negara Asia-Pasifik serta US, Jerman, New Zeland. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama regional, pertukaran informasi, dan kolaborasi kebijakan dalam merespons perubahan ekonomi global yang berlangsung cepat dan semakin sulit diprediksi./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Mirae Asset Sekuritas Akui Pergerakan IHSG Masih Terkendali

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik...

WARGA Cimahi
HEADLINE NEWS

Ribuan Sumur Bor Dioptimalkan Untuk Jangkau Wilayah Rawan Kekeringan

JAKARTA, Bisnistoday – Bencana kekeringan mulai dirasakan masyarakat khususnya daerah rawan ketersediaan...

BSPI 2030
HEADLINE NEWS

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo Resmi Mengundurkan Diri

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri...

Menteri PU
HEADLINE NEWS

Menteri Dody Pastikan Kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Sragen Jawa Tengah

SRAGEN, Bisnistoday - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau Sekolah Rakyat...