www.bisnistoday.co.id
Kamis , 30 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa Awal Pekan IHSG Ditutup Menguat
Bursa

Awal Pekan IHSG Ditutup Menguat

IHSG menguat
Penguatan IHSG ditopang beli spekulatif saham./
Social Media

JAKARTA, Bisnistpday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan, Senin (13/05) ditutup menguat 10,46 poin ke posisi 7.099,25. Sementara indeks LQ45 naik 2,11 poin ke posisi 895,54.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, pada perdagangan hari ini sentimen eksternal dan internal mempengaruhi pergerakan IHSG.

Dari mancanegara, bursa regional Asia cenderung bergerak variatif yang tampaknya dipengaruhi oleh sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang akan mengumumkan tarif impor terbaru AS terhadap barang dari China untuk sektor-sektor strategis, termasuk kenaikan tarif kendaraan listrik (EV).

Selain itu, mempertahankan tarif yang sudah ada pada banyak barang China yang ditetapkan oleh mantan Presiden Donald Trump, namun dikabarkan akan menambah tarif baru untuk semikonduktor dan peralatan tenaga surya, serta menaikkan tarif kendaraan listrik, serta pasokan medis buatan China, seperti jarum suntik dan alat pelindung diri juga terkena tarif tambahan.

Dengan demikian, tarif tersebut akan mendorong pengaruh perdagangan internasional dan juga berpotensi muncul kembali perang dagangan, diantara kedua negara tersebut di saat dunia saat ini masih diselimuti ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global.

Dibuka melemah, IHSG bergerak ke teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dipimpin sektor teknologi yang naik 1,51 persen, diikuti sektor energi dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing turun sebesar 0,48 persen dan 0,40 persen.

Sementara itu empat terkoreksi yaitu dipimpin sektor kesehatan yang minus 0,48 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing turun sebesar 0,39 persen dan 0,29 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu LABA, FIRE, AHAP, DATA dan ATLA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni TUGU, MANG, BRIS, SMLE, dan IBOS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 984.829 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,43 miliar lembar saham senilai Rp12,90 triliun. Sebanyak 248 saham naik, 319 saham menurun, dan 216 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG Menguat 44,16 Poin

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 49,60 poin atau 0,13 persen ke 38.179,50, indeks Hang Seng menguat 151,38 poin atau 0,80 persen ke 19.115,06, indeks Shanghai melemah 6,53 poin atau 0,21 persen ke 3.148,02.dan indeks Strait Times menguat 10,02 poin atau 0,30 persen ke 3.300,70.

Rupiah Melemah

Di pasar uang, kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, ditutup melemah di tengah volatilitas di pasar uang yang dipengaruhi kebijakan Amerika Serikat (AS) terkait suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR).

Pada akhir perdagangan Senin, kurs rupiah melemah 34 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.081 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.047 per dolar AS.

“Volatilitas di pasar uang terutama dipengaruhi oleh kebijakan The Fed yang masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level yang tinggi di saat ini yakni dalam kisaran 5,25 persen sampai dengan 5,50 persen sejalan dengan tingkat inflasi AS yang masih sulit turun,” kata analis pasar uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri seperti dikutif Antara.

Reny menuturkan pascalibur bersama, pasar modal domestik masih diwarnai keluarnya aliran dana asing. Begitu pula dengan pasar valas, volatilitasnya masih tinggi setelah data cadangan devisa April 2024 dirilis turun. Cadangan devisa April 2024 mengalami penurunan sebesar 4,2 miliar dolar AS dibandingkan posisi bulan Maret 2024 yang sebesar 140,4 miliar dolar AS.

Penurunan posisi cadangan devisa pada April 2024 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Di sisi lain, penundaan penurunan suku bunga acuan AS mendorong terjadinya capital flight. Sejak awal tahun sampai 8 Mei 2024, capital outflow yang terjadi di pasar domestik yakni di pasar saham dan obligasi tercatat sebesar Rp48,5 triliun.

Penurunan Fed Funds Rate untuk pertama kalinya menuju ke level 5 persen hingga 5,25 persen diperkirakan baru akan terjadi menjelang akhir 2024 atau jika inflasi AS benar-benar turun menuju target 2 persen.

Market konsensus menunjukkan probabilitas pasar sebesar 62 persen untuk penurunan suku bunga bank sentral AS atau The Fed pada September 2024 dan 75 persen pada November 2024.

Rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) akan menjadi faktor penting yang diantisipasi investor global.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin tergelincir ke level Rp16.085 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.081 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Didi Max
Bursa

Perdagangan Berjangka : Didimax Broker Terbaik Menjadi Pilihan Banyak Trader

JAKARTA, Bisnistoday - Dalam dunia perdagangan berjangka, memilih broker terbaik Indonesia merupakan...

GEDUNG BEI
Bursa

Penguatan Pasar Sangat Dipengaruhi Sentimen Isu Makro Ekonomi Global pada Semester II 2026

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound,...

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...