www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 13 Juni 2026
Home OPINI Gagasan Basmi “Rent Seeking”, Saatnya Reformasi Kelembagaan Badan Gizi Nasional dan Tata Kelola Program MBG
GagasanOPINI

Basmi “Rent Seeking”, Saatnya Reformasi Kelembagaan Badan Gizi Nasional dan Tata Kelola Program MBG

Program MBG
Social Media

RAKYAT mengharapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berkembang dari sekadar program bantuan makan menjadi instrumen pembangunan manusia dan ekonomi lokal, seperti yang terjadi di Brasil dan Jepang. Apabila tidak dilakukan reformasi kelembagaan maka tata kelolanya lemah sehingga risiko moral hazard, pemborosan anggaran, dan ketidakefisienan akan terus menjadi sumber masalah dari program ini.

Ada masalah besar di BGN setelah diketahui banyak moral hazard dan korupsi di lembaga, yang kontroversial ini.  Presiden melakukan pembersihan swecara tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di BGN. Ini patut dihargai sehingga program MBG, yang banyak kritik ini, menjadi jauh lebih baik ke depan.  Seperti pengakuan sendiri, Presiden mendengar kritik dan menerima laporan adanya penyimpangan di BGN, maka tindakan hukum segera dilakukan dengan menangkap langsung kepala BGN.

Saya yakin korupsi MBG tidak hanya berhenti di level kepala dan wakil kepala MBG. Itu hanya puncak gunung es, yang di bawahnya tersimpan lebih banyak lagi moral hazardnya.

Banyak kritik yang diterima oleh pemerintah kini sudah dijawab langsung, yang korupsi dan menyimpang ditangkap.  Tetapi langka ini belum cukup sehingga harus dilanjutkan dengan Keharusan Reformasi kelembagaan dan tata kelolanya.  Tujuan MBG saya pandang sangat mulia. Kritik masyarakat tidak terletak pada tujuannya melainkan pada desain kelembagaan, tata kelola, pengadaan, pengawasan, dan kapasitas implementasi.

Dalam ilmu kebijakan publik, program yang sangat besar, menyentuh jutaan penerima manfaat, dan melibatkan rantai pasok pangan yang kompleks memang rentan mengalami masalah tata kelola (governance failure).  Karena itu, reformasi kelembagaan BGN dan tata kelola MBG menjadi suatu keharusan.

Sekarang saatnya mengambil momentum ini sebagai peluang emas  untuk melakukan reformasi kelembagaan BGN dan tata kelola MBG agar menjadi jauh lebih baik ke depan.  Reformasi harus dilakukan dengan memisahkan fungsi regulator.  Pemerintah harus membangun model kelembagaan yang lebih kuat dan lebih baik dimana BGN berperan sebagai regulator, bukan operator utama.

BGN fokus pada standar gizi, standar operasional, sistem data nasional, dan evaluasi. Sedangkan operasional dilakukan oleh pemerintah daerah, sekolah, koperasi, dan UMKM pangan lokal. BGN ke depan sebagai Negara mengarahkan, bukan mengerjakan semuanya.

Meskipun selama ini sudah mereformasi kelembagaan dan tata kelolanya, sistem pengawasan harus dibangun.  Karena magnitute progam ini besar dan luas, maka harus dibangun  dewan atau komite atau apa pun namanya yang Independen.

Anggota dewan pengawas ini mewakili banyak elemen, seperti ahli gizi, akademisi, BPKP, masyarakat sipil, dan organisasi profesi. Fungsinya jelas, yakni audit kualitas, audit anggaran, danaudit kepatuhan.  Model sepeerti  ini cocok dipakai dalam program sosial besar.

Sekarang jaman teknologi maju sehingga sudah sepatutnya menerapkan transparansi digital penuh, yang dapat dilihat oleh publik karena jumlah anggaran negara yang sangat besar.  Referomasi dengan dimensi teknologi ini akan lebih menjamin transparansi ini sekaligus menjadi proses demokratisasi program pemerintah dan rertanggungjawaban tamabahan kepada publik. Teknologi digital dapat membantu perbaikan kelembagaan BGN dan Tata kelola MBG.

Reformasi yang substansial lagi adalah desetralisasi pelaksanaan program agar semakin banyak yang terlibat dimana pemerintah daerah menjadi ujung tombaknya. Jangan lagi melanjutkan program yang tersentralisasi, yang hanya dikendalikan oleh pusat dengan “span of control” sangat luas dan mustahil mampu diawasi.

Program MBG sudah saatnya mengambil momentum ini melibatkan pemerintah daerah secara nyata di lapangan, kemudian memberikan tugas  dan kewajiban dengan menghubungkan MBG dengan petani, peternak, koperasi, dan UMKM lokal.  Sekarang masih banyak kasus seperti peternak rugi  karena kelebihan pasokan dan kemudian membagikan ratusan ribu dan jutaan produk telurnya gratis kepada masyarakat karena BGN tidak menyerap maksimal.

Kelemahan yang sangat mendasar dari  tata kelola MBG adalah sentralisasi yang terlalu kuat. Perencanaan dan target ditentukan dari pusat, pemerintah daerah dan ekosistem sekolah dan elemen masyarakat menjadi pasif. Mekanisme dilaksanakan dengan cara bisnis murni sehingga biaya kelembagaan, organisasi dan pengelelolaannya lebioh mahal dari biaya makanannya. Potensi pemborosan logistik menjadi tinggi dan marak dengan moral hazard.

Dalam teori ekonomi politik, semakin besar anggaran MBG, maka semakin besar peluang perburuan rente (rent seeking).  Saya yakin korupsi MBG tidak hanya berhenti di level kepala dan wakil kepala MBG. Itu hanya puncak gunung es, yang di bawahnya tersimpan lebih banyak lagi moral hazardnya.

Apabila reformasi ini berhasil, MBG dapat berkembang dari sekadar program bantuan makan menjadi instrumen pembangunan manusia dan ekonomi lokal, seperti yang terjadi di Brasil dan Jepang. Jika tidak dilakukan reformasi kelembagaan maka tata kelolanya lemah sehingga risiko moral hazard, pemborosan anggaran, dan ketidakefisienan akan terus menjadi sumber masalah dari program ini.

Jakarta, 5 Juni 2026

Oleh : Prof. Didik J Rachbini, Ph.D., Ekonom Senior Indef dan Rektor Universitas Paramadina

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

KTT BRICS+
Gagasan

Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

JAKARTA, Bisnistoday - Pada penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di...

Krisis
Gagasan

“Sense of Crisis” Lemah Ditengah Tekanan Berat Ekonomi

JAKARTA, Bisnistoday – Pasar modal terjungkal habis dan sudah mendekati krisis 2008....

Logo BGN
Gagasan

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

JAKARTA, Bisnistoday - Belakangan ini publik disuguhi sejumlah kabar yang menimbulkan pertanyaan...

Bandara Kertajati
Gagasan

Dilema Pengoperasian Kembali Bandara Husein Sastranegara Antara Kenyamanan Turis dan Nasib Bandara Kertajati

KEBIJAKAN transportasi dan tata ruang di Jawa Barat kembali menemui titik balik...