BANDUNG, Bisnistoday – Masyarakat Indonesia kini semakin akrab dengan transaksi digital. Mulai dari membayar tagihan, berbelanja, hingga berinvestasi, berbagai aktivitas keuangan kini semakin mudah, cukup dengan beberapa sentuhan melalui ponsel transaksi sukses dilakukan.
Menjawab perubahan perilaku tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat layanan digital melalui BRImo dan QRIS untuk menghadirkan transaksi yang lebih mudah, cepat, dan aman.
RCEO BRI Region 9 Bandung, Dewi Hestiningrum S, mengatakan BRImo kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar aplikasi mobile banking. Menurutnya, BRImo menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI karena menghadirkan berbagai layanan keuangan dalam satu aplikasi, mulai dari transaksi harian hingga investasi.
“BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah kami. Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi—seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti,” kata Dewi.
“BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI,” sambungnya.
Ia menambahkan, QRIS menjadi salah satu pendorong utama percepatan transaksi digital di Indonesia. Menurutnya, QRIS tidak hanya membuat transaksi menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mencatat omzet secara digital dan mengakses layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan.
Di sisi lain, Dewi menegaskan bahwa transformasi digital harus diiringi dengan peningkatan literasi masyarakat. Karena itu, BRI terus mengoptimalkan edukasi melalui insan Brilian di kantor cabang dan Agen BRILink untuk mendampingi nasabah, khususnya pelaku usaha dan masyarakat yang belum terbiasa menggunakan layanan digital.
“Tantangan terbesar transformasi digital adalah menjaga keseimbangan antara percepatan inovasi teknologi dengan tingkat literasi digital masyarakat, sekaligus memitigasi risiko keamanan siber yang terus berkembang. Karena itu, inovasi teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan edukasi dan perlindungan nasabah,” tutupnya.
Sementara itu, perkembangan transaksi digital membawa perubahan besar bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Hal tersebut juga dirasakan Lita, pemilik Nasi Liwet Bu Lita Saparua, yang kini melayani semakin banyak pelanggan dengan metode pembayaran non-tunai melalui QRIS.
Menurut Lita, penggunaan transaksi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Semakin banyak konsumen yang datang tanpa membawa uang tunai dan lebih memilih melakukan pembayaran menggunakan ponsel.
“Sekarang tren masyarakat sudah cashless. Jadi kami juga harus mengikuti perkembangan itu,” ujarnya.
Meski pada awalnya membutuhkan proses adaptasi, Lita mengaku pembayaran digital memberikan banyak kemudahan dalam operasional usaha sehari-hari.
Selain mempercepat transaksi, penggunaan QRIS juga membantu pedagang mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian dalam jumlah besar.
Namun di balik kemudahan tersebut, Lita mengingatkan pentingnya ketelitian dalam memeriksa setiap transaksi yang masuk. Ia pernah mengalami kejadian ketika seorang pelanggan datang kembali setelah beberapa minggu untuk mengonfirmasi pembayaran QRIS yang ternyata belum berhasil masuk ke rekening.
Beruntung pelanggan tersebut bersikap jujur dan bersedia mengklarifikasi transaksi yang belum tercatat.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih rutin melakukan pengecekan mutasi rekening dan mencocokkan transaksi dengan catatan penjualan.
“Sebagai pelaku usaha kita harus teliti. Walaupun sedang sibuk, transaksi tetap harus dicek dan dicocokkan supaya tidak ada yang terlewat,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pelaku usaha untuk meminta bukti pembayaran dan melakukan pemeriksaan berkala agar meminimalkan potensi kesalahan transaksi.
“Digitalisasi memang penting karena mengikuti perkembangan zaman. Tetapi kita juga harus tetap teliti dan rutin mengecek setiap transaksi yang masuk,” kata Lita.E2









































