DEPOK, Bisnistoday – Kemendikbudristek menyatakan dunia usaha membutuhkan pendidikan yang mengedepankan skill bekerja seperti Pendidikan vokasi. Dunia kerja sekarang tidak terlalu mengedepankan brand perguruan tinggi. Pendidikan vokasi harus mampu bertranformasi mempersiapkan diri untuk menyosong Indonesia emas 2045 mendatang.
“Dunia Pendidikan, bukan mengandalkan gelar, tetapi mengandalkan skill pada personelnya, bukan hanya brand,” tegas Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek, Kiki Yuliati, saat memberikan orasi dalam acara Wisuda ke 38 dan Dies Natalis ke 40, Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Sabtu (8/10).
Dirjen Kiki Yuliati mengutarakan, dalam kegiatan wisuda ini mengajak wusudawan untuk mengenang jerih payah dan kerja keras, serta kasih sayang orang tua, serta bagaimana hal tersebut dapat membanggakan para dosen. “Nanti pada alumni, jangan segan-segan menegur sapa dengan para dosen,” tutunrya.
Lebih lanjut Kiki Yuliati mengutarakan, tranformasi Pendidikan vokasi, mendapat perhatian khusus oleh Presiden Jokowi. Presiden, menurut Kiki, sangat memperhatikan keberlanjutan Pendidikan vokasi. Sejak tahun 2014 lalu, serta memberikan pernyataan penting pada tahun 2018 dan 2021 selalu mengingatkan kembali Pendidikan Vokasi.”Ini moment penting bagi Pendidikan vokasi dan menjadi perhatian Bapak Presiden Jokowi,” tuturnya.
Terdapat beberapa catatan penting, menurut Kiki, sekarang ini dunia tengah mengalami perubahan besar, terutama perubahan iklim. Ini berpengaruh terhadap ketahanan pangan, energi, dan daya dukung lingkungan. “Sekarang di hadapkan pengaruh lingkungan yang berat, sedangkan pengetahuan dan teknologi juga berkembang cepat. Pendidikan vokasi harus bersiap diri mengahapi hal tersebut untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
Calon Pemimpin Era 2045
Kiki Yuliati mengingatkan, generasi sekarang ini, merupakan calon pemimpin masa depan dalam Indonesia Emas 2045. “Anda jadi pemimpin bangsa, pemilik dan penggeak bangsa, maka Pendidikan tak boleh salah,”tegasnya. Pendidikan vokasi juga harus bertranformasi menyiapkan para pemimpin untuk kado Indonesia Emas. Sekarang baru 12,4 persen pekerja adalah lulusan perguruan tinggi, selain itu SLTP dan SLTA,”tuturnya.
Kiki mengingatkan adanya VUCA yang jangan direspon sebagai kondisi pesimistis. Volatility direspon sebagai vision, Uncertainty direspon understanding, Complexity bertranformasi sebgai clarity, serta Ambigue menjadi adaptability. “Kondisi yang serba dinamis ini, mengharuskan perencanaan tidak bisa berjangka panjang, dan Anda wisudawan menghadapinya sebagai bagian melukis masa depan, dan Anda yang memberi warna itu,” tuturnya.
Perkembangan TIK
Menurut Kiki Yuliati, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini sebuah keniscayaan dan mau tidak mau harus dilalui. Pemanfaatan TIK harus bijak, dan jangan sampai malah menurunkan kemampuan sebagai manusia. “Ingat human skill dan personel skill sangat menentukan,” tuturnya.
Dengan memberikan proporsi ke TIK berlebihan, menurut Kiki, berdampak terhadap hubungan sosial tak peka. Bagaimana membaca gerak gerik tubuh, serta kemampuan berinteraksi cenderung melemah. “Bahkan, personal skill-nya, tak bisa memahami siapa dirinya sendiri. Semua itu terprogram secara digital. Bahkan kehidupan manusia sudah bisa terpetakan secara digital, dan kita sebagai personel harus bisa keluar dari kungkungan pandangan digital itu,” terangnya.
Bahkan, Kiki mengutarakan, paparan TIK menjadikan sebagai bubble, menurut google, karena kurang mengedepankan personel kreatif karena diarahkah dalam homogenitas digital. “Anda tulis di google kata tertentu. tentu Anda diarahkan ke hal yang mendekati kata-kata pencarian itu. Padahal ada masih banyak refensi lainya yang seharusnya dibutuhkan. Kita butuh pandangan berbeda, jangan merasa benar seperti itu,” ujarnya.
Jaga Keseimbangan
Dirjen Vokasi ini mengutarakan, sebagai angkatan kerja harus mengingat juga what, how dan why. Untuk what, apa perubahan dunia kerja yang terjadi, dan selalu menjaga hubungan dengan who serta melalu bertanya why untuk mengasah kemampuan individu.
Terakhir, lanjut Kiki menyampaikan bahwa karakteristik Pendidikan vokasi, harus berpandangan global tidak mamandang sumber ilmu hanya mengacu sumber satu-satunya adalah dosen. Kedepan dosen, hanya bersifat membimbing dan bertugas untuk mengimplemasikan peta jalan Pendidikan nasional.
”Dosen bersifat seperti kurator, memberi jalan dan teladan serta fokus pelajaranya, dan bukan satu-satunya sumber keilmuan bagi para mahasiswa,”terangnya./
















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)






















