Press "Enter" to skip to content

Dukung Ketahanan Pangan, Kementerian PUPR Revitalisasi Saluran Irigasi Pertanian Seluas 87 Ribu Ha

Social Media

INDRAMAYU, Bisnistoday- Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk- Cisanggarung moderenisasi Saluran Irigasi Pertanian secara bertahap seluas 87.840 hektare dengan mengandalkan pasokan air baku dari Bendungan Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. Aliran air dari Bendungan Jatigede melalui sungai Cimanuk menuju bendung Rentang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.

Kabalai BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Ismail Widadi megatakan, cakupan wilayahnya cukup luas sekiatar 7.776 km2 yang berada di 7 kabupaten yakni Kab. Garut, Kab Sumedang, Kab.Majalengka, Kab. Indramayu, Kab. Cirebon, Kota Cirebon serta Kab. Kuningan. Terdapat dua sungai besar, yakni Sungai Cisanggarung sebelah barat dan sebelah timur sungai Cimanuk.

“Seperti diketahui sungai Cimanuk dan Cisanggarung debitnya luar biasa.Ketika hujan mendatangkan banjir, ketika butuh air sungai kering, maka dibendung di wilayah hulu yakni Bendungan Jatigede,” tutur Ismail dalam acara Press Tour, Fowapu bersama Birkom Kementerian PUPR, di Indramayu, Senin (27/9).

Ia menuturkan dari bendungan Jatigede melalui Sungai Cimanuk dialirkan masuk ke bendung Rentang, lalu dipisahkan menjadi dua saluran induk irigasi yakni Sindupraja dan Cipelang. Cakupan layanan irigasi pertanian aliran Sindupraja seluas 51 ribu ha,  sedangkan saluran induk cipelang memiliki cakupan irigasi seluas 36 ribu ha.

Berita Terkait : Bendungan Sadawarna Akan Layani Daerah Irigasi Kab. Subang

“Keseluruhan cakupan irigasi pertanian seluas 87 ribu ha sedangkan saluran irigasi ini terakhir direhab tahun 1981 dan sebelumnya dibangun tahun 1969 lalu.”

Dengan begitu, infrastruktur banyak yang sudah rusak. Padahal, wilayah layanan irigasi ini terbukti sebagai penyumbang produksi pangan nasional seperti Majalengka, Indramayu, Cirebon tercatat sebagai daerah utama produksi beras nasional.

“Rehabilitasi irigasi ini, termasuk bendung rentang telah dilakukan sejak tahun 2020 melalui proyek Rentang Irrigation Modernization Project (RIMP). Targetnya meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 130 menjadi IP 250 persen. dengan produksi pertanian dari 500 ribu ton menjadi 1,1 juta ton.”

Berita Terkait : Padat Karya Jaringan Irigasi Topang Daya Beli Warga Pedesaan

Ismail menuturkan  proyek RIMP dengan total sekitar Rp 5,5 triliun multiyear hingga tahun 2024. Proyek ini menggunakan dana pinjaman (loan). Untuk tahun 2021, sudah terkontrak untuk 10 kontraktor, 6 konsultan serta sub kontraktor sebanyak 52 perusahaan. Secara tertulis proyek ini melibatkan 2648 pekerja.

Terapkan Lima Pilar
Ismail Widadi mengatakan, pengelolaan wilayah sungai menerapkan prinsip lima pilar yakni pilar pertama, ketersediaan air yang seperti diketahui adalah pasokan Bendungan Jatigede. Kedua infrastruktur irigasi, ketiga pengelolaan irigasi atau manajemen irigasi,keempat, institusi atau kelembagaan hulu hilir, serta penguatan SDM atau manusianya.

“Kesemua ini yang dilakukan di proyek RIM. termasuk penguatan untuk para petaninya,” ujarnya.

Rohman, petani setempat mengatakan dengan proyek revitalisasi saluran irigasi di wilayahnya keberadaan air kian melimpah. Sebelumnya  ia mengakui harus membagi hasil antara petani dan pemilik pompa air atau pemasok air, sekarang tidak lagi.

“Kami sebelumnya harus membagi hasil panen 3 :1 , yakni 1 porsi dari empat porsi diserahkan pada pamasok air.” ujarnya./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *