Press "Enter" to skip to content

IHSG Melemah, Rupiah Menguat Tipis

IHSG pada perdagangan Senin (27/9) ditutupmelemah. Sementara kurs rupiah menguat tipis
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (27/9) ditutup melemah 22,32 poin ke posisi 6.122,5. Sementara indeks LQ45 turun 4,94 poin ke posisi 861,31.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, melemahnya IHSG pada perdagangan hari ini terpengaruh sentimen eksternal. Pergerakan pasar saham Asia yang bergerak fluktuatif, tampaknya terbebani kondisi di China saat ini di mana sebelumnya pasar mengkhawatirkan efek domino dari krisis utang Evergrande Group.

 
JP Morgan memprediksi otoritas China mengizinkan pengurangan utang atau deleveraging sektor properti untuk mengurangi moral hazard tetapi yakin mereka akan secara aktif mengelola restrukturisasi dan secara efektif membatasi dampak ke finansial.

Selanjutnya pasar dikejutkan krisis energi di China di mana provinsi utara kini dilanda pemadaman listrik. Pasar khawatir ini akan menjadi krisis baru di China dimana telah terjadi pemadaman listrik di Provinsi Guangdong, pusat industri, lalu Liaoning, Jilin dan Heilongjiang dan juga akan berdampak dengan pemadaman air. Kelangkaan energi yang terjadi tentunya ini akan mengganggu aktivitas produksi.

Selain itu, sikap pasar cenderung berhati-hati karena lonjakan harga minyak ke level tertinggi dalam tiga tahun yang mengobarkan ketakutan inflasi. Goldman Sachs mengatakan defisit pasokan-permintaan minyak global saat ini lebih besar dari yang diharapkan, dengan pemulihan permintaan global dari dampak varian delta bahkan lebih cepat dari perkiraan.

Dibuka melemah, IHSG tak lama menguat lalu turun kembali hingga akhir sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat dimana sektor transportasi & logistik naik paling tinggi yaitu 1,99 persen, diikuti sektor energi dan sektor perindustrian masing-masing 1,45 persen dan 0,91 persen.

Sedangkan tujuh sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 0,84 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor infrastruktur masing-masing minus 0,72 persen.

Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp355,71 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.401.298 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,75 miliar lembar saham senilai Rp11,65 triliun. Sebanyak 206 saham naik, 314 saham menurun, dan 148 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 8,75 poin atau 0,03 persen ke 30.240,06, indeks Hang Seng naik 16,62 poin atau 0,07 persen ke 24.208,78, dan indeks Straits Times meningkat 39,97 poin atau 1,31 persen ke 3.101,32.

Rupiah Menguat

Sementara itu kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.253 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.258 per dolar AS.

“Perkembangan rupiah masih cukup stabil pada perdagangan hari ini setelah pada akhir pekan lalu melemah. Pergerakan rupiah masih terpengaruh oleh sentimen global, yaitu meredanya kekhawatiran tapering dan krisis Evergrande,” kata analis pasar uang Bank Mandiri, Rully Arya seperti dikutif Antara.

Pelaku pasar masih menunggu apakah China Evergrande Group akan membayar bunga obligasi dolar yang jatuh tempo pada Kamis (30/9/2021) nanti. Perusahaan belum mengeluarkan pernyataan apapun mengenai pembayaran bunga obligasi dolar yang mayoritas pemegangnya adalah investor institusi asing.

Jika tidak ada pembayaran yang dilakukan pada Kamis ini, maka secara teknis Evergrande belum bisa dikatakan gagal bayar (default) kecuali gagal melakukan pembayaran dalam tempo 30 hari.

Bank Sentral Tiongkok (PBOC) menyuntikkan sekitar 100 miliar yuan (15,5 miliar dolar AS) ke dalam sistem keuangan setelah minggu lalu menyuntikkan 320 miliar yuan.

“Rupiah sepekan ini mungkin masih akan tetap stabil, meski agak sedikit melemah dibanding pekan lalu di kisaran Rp14.225 hingga Rp14.305,” ujar Rully.

Rupiah pada Senin pagi dibuka melemah ke posisi Rp14.261 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.253 per dolar AS hingga Rp14.265 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp14.258 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.250 per dolar AS./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *