www.bisnistoday.co.id
Selasa , 30 Juni 2026
Home GLOBAL Nakba, Luka Sejarah Palestina, dan Amnesia Politik Amerika
GLOBALIndepth

Nakba, Luka Sejarah Palestina, dan Amnesia Politik Amerika

Pada Kamis (14/5/2026) bertepatan dengan 78 tahun Nakba, Perwakilan AS Rashida Tlaib mengajukan resolusi untuk secara resmi agar mengakui peristiwa pengusiran massal tersebut dan hak-hak pengungsi Palestina.

Seseorang mengibarkan Bendera Palestina (dok:Unsplash/Ahmed Abu Hameeda)
Seseorang mengibarkan Bendera Palestina (dok:Unsplash/Ahmed Abu Hameeda)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pada 1948, ribuan warga Palestina diusir paksa dari tanah kelahiran mereka. Peristiwa itu disebut Nakba yang dalam Bahasa Arab artinya bencana atau malapetaka. Sejak saat itu, warga Palestina telah mengalami puluhan kali pengusiran dan pembersihan etnis.

Namun, pemerintah Amerika Serikat, sekutu erat Israel, tidak mengakui peristwa itu. Para ahli mengatakan AS tetap mengalami amnesia politik dan malah makin memperkuat dukungannya kepada negeri zionis tersebut.

Di bawah pemerintahan periode kedua Presiden Donald Trump, AS bahkan mengambil peran yang lebih aktif dalam urusan Palestina dengan membentuk “Dewan Perdamaian” yang kontroversial untuk mengawasi rekonstruksi Gaza.

Khaled Elgindy, seorang peneliti senior di Quincy Institute, percaya AS tidak akan pernah mengakui Nakba. Menurutnya pendekatan pemerintah AS terhadap konflik Israel-Palestina tidak akan pernah berubah.

Selama beberapa dekade, AS selalu mendukung Israel, baik dalam bentuk bantuan luar negeri maupun bantuan militer, meskipun Israel secara tidak sah menduduki wilayah Palestina dan menerapkan sistem apartheid di wilayah itu.

Sejak 7 Oktober 2023, perang genosida Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 75.000 warga Palestina. Elgindy mengatakan AS telah memainkan peran kunci dalam membiayai konflik tersebut. “Baik atau buruk, sebagian besar buruk, Amerika Serikat terikat erat dengan isu Palestina,” kata Elgindy kepada Al Jazeera.

Pengajuan Resolusi

Pada Kamis (14/5/2026) bertepatan dengan peringatan 78 tahun Nakba, Perwakilan AS Rashida Tlaib mengajukan resolusi untuk secara resmi agar mengakui peristiwa pengusiran massal tersebut dan hak-hak pengungsi Palestina.

Ini adalah kali kelima berturut-turut ia mengajukan RUU tersebut, dengan versi terbaru membawa 12 sponsor bersama, meningkat dari enam ketika pertama kali diperkenalkan pada tahun 2022.

Dalam konferensi video minggu ini, ia menjelaskan bahwa perlu untuk menarik perhatian pada Nakba, mengingat pelanggaran hak asasi manusia terhadap Palestina terus berlanjut.

“Terlalu banyak kolega saya di kongres yang suka bertindak seolah-olah kekerasan negara terhadap rakyat Palestina dimulai dengan ulah Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu. Padahal kita tahu bahwa sejarah Palestina dan kampanye pembersihan etnis telah berlangsung sejak berdirinya [Israel] pada tahun 1948,” kata Tlaib.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Warga di Roma, Italia yang dilanda gelombang panas (dok; Antonio Masiello/Getty Images)
GLOBALKawasan Global

Gelombang Panas di Eropa kian Meluas, Ribuan Orang Tewas

JAKARTA, Bisnistoday- Gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa kian meluas. Selain...

Didier Deschamps (dokLInstagram/FFF)
IndepthSport & Health

Sang Legenda yang tak Pernah Kehilangan Cinta

JAKARTA, Bisnistoday - Sebelum melakoni laga melawan Norwegia, para pemain Prancis dan...

Asosiasi Pertekstilan Indonesia
Indepth

Ekonomi Kian Bergolak, INDEF Memberikan Sejumlah Saran Pemerintah

JAKARTA, Bisnistoday – Ekonomi global maupun nasional sedang tidak menguntungkan bagi pemerintah...

Ilustrasi Gempa (Freepik/brx)
GLOBALLingkungan

Setidaknya 32 Tewas dan 700 Terluka Akibat Gempa Venezuela

  JAKARTA, Bisnistoday- Dua gempa dahsyat mengguncang Venezuela, Kamis (25/6/2026), menewasan sedikitnya...