www.bisnistoday.co.id
Selasa , 30 Juni 2026
Home EKONOMI Ekonomi Rakyat Desa Wantilan Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi, BUMDes Jawara Perkuat Pengelolaan Berbasis Masyarakat
Ekonomi Rakyat

Desa Wantilan Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi, BUMDes Jawara Perkuat Pengelolaan Berbasis Masyarakat

Desa Wantilan berhasil masuk 15 Besar Nasional Program Desa BRILiaN 2025 berkat komitmennya dalam mengembangkan BUMDes, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan inovasi pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.
Social Media

KAB. SUBANG, Bisnistoday – Desa Wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, membuktikan masalah sampah dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus solusi sosial. Melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Jawara, pemerintah desa mengembangkan program pengelolaan sampah yang tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Direktur BUMDes Jawara, Desa Wantilan, Dede Sulaeman, mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu program unggulan desa yang terus dikembangkan. Meski keuntungan usaha dari sektor tersebut belum besar, manfaat yang dirasakan masyarakat jauh lebih luas karena mampu mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

“Sampah memang belum memberikan keuntungan bisnis yang besar, tetapi mampu menyelesaikan persoalan sosial di desa. Itu yang menjadi semangat kami untuk terus mengembangkan program ini,” ujar Dede, kepada Bisnis Today, Selasa (30/6).

Sebelum mengikuti Program Desa BRILiaN, Desa Wantilan sebenarnya telah memiliki bank sampah. Namun, pengelolaannya masih dilakukan secara manual. Setelah bergabung dalam program tersebut, BUMDes memperoleh berbagai pelatihan mengenai digitalisasi, keuangan, hingga pengembangan usaha desa.

Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah penerapan sistem tabungan hasil bank sampah melalui Tabungan UMi BRI. Menurut Dede, sistem tersebut meningkatkan kepercayaan masyarakat karena hasil penjualan sampah langsung masuk ke rekening masing-masing nasabah.

“Dulu ada kekhawatiran uang tabungan tidak tercatat dengan baik. Sekarang masyarakat bisa langsung mengecek saldo melalui aplikasi sehingga lebih percaya untuk menabung sampah,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, warga diminta memilah sampah dari rumah. Sampah yang telah dipisahkan kemudian disetor atau dijemput oleh petugas bank sampah. Untuk jenis botol plastik PET, misalnya, warga diminta membersihkan botol, melepas label, dan memisahkan tutupnya agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Harga yang diterima warga berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan jika dijual kepada pengepul biasa.

Ke depan, BUMDes juga berencana memperluas manfaat bank sampah dengan menyediakan opsi penukaran hasil tabungan menjadi kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, maupun telur.

Meski demikian, Dede mengakui tantangan terbesar bukan terletak pada teknis pengelolaan sampah, melainkan mengubah pola pikir masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya memilah sampah masih terus dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye lingkungan yang melibatkan warga.

“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah, pekerjaan kami akan jauh lebih ringan. Yang sulit itu membangun kesadaran, dan prosesnya memang tidak bisa instan,” ujarnya.

Selain persoalan edukasi, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Jumlah relawan maupun pengelola bank sampah terus berkurang karena banyak warga usia produktif memilih bekerja di sektor industri.

Saat ini volume sampah komersial yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar satu ton per bulan. Sampah-sampah tersebut kemudian dijual ke pabrik atau melalui pengepul besar untuk didaur ulang.

Keberhasilan Desa Wantilan dalam mengembangkan pengelolaan sampah turut mengantarkannya masuk dalam jajaran 15 Besar Nasional Program Desa BRILiaN 2025. Selain memperoleh pendampingan dan pelatihan, desa juga mendapatkan bantuan modal operasional untuk memperkuat pengembangan usaha BUMDes.

Ke depan, Dede berharap Desa Wantilan mampu mengolah sampah residu menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif bagi industri. Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut akan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa.

Ia berharap BRI dapat terus mendampingi desa-desa yang memiliki komitmen terhadap pengelolaan lingkungan, tidak hanya melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, tetapi juga dengan membantu menjembatani kebutuhan investasi untuk pengadaan mesin, fasilitas pengolahan, hingga akses pembiayaan.

“Kami berharap BRI bisa menjadi jembatan agar desa mampu mengolah sampah menjadi RDF. Kalau fasilitas dan mesinnya tersedia, sampah tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sumber energi sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menilai Program Desa BRILiaN telah memberikan manfaat besar melalui pelatihan, pendampingan, jaringan, hingga bantuan modal. Karena itu, ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut agar desa-desa yang memiliki potensi serupa dapat berkembang lebih cepat.

“Harapan kami, suatu saat ketika melihat sampah, kami tidak lagi menganggapnya sebagai masalah, tetapi sebagai sumber energi dan sumber ekonomi bagi masyarakat,” tutup Dede.

Perkuat Kemandirian Desa 

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis desa melalui Program Desa BRILiaN.

Program ini dirancang untuk menciptakan desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing dengan memperkuat kelembagaan ekonomi desa, memberdayakan pelaku UMKM, serta mendorong digitalisasi di tingkat desa.

Regional CEO (RCEO) BRI Region 9 Bandung, Dewi Hestiningrum S, mengatakan Desa BRILiaN tidak hanya berfokus pada pengembangan potensi desa, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan agar desa mampu menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat.

“Visi Desa BRILiaN adalah menciptakan desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing. Tiga pilar utamanya adalah penguatan kelembagaan ekonomi desa, khususnya BUMDes, pemberdayaan UMKM lokal, serta digitalisasi tata kelola dan transaksi di tingkat desa,” ujar Dewi.

Menurutnya, melalui program tersebut BRI ingin mendorong desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang aktif, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat.

Dalam menentukan desa peserta, BRI menerapkan proses seleksi yang mengacu pada empat indikator utama. Pertama, keberadaan BUMDes yang aktif dan beroperasi. Kedua, inovasi desa dalam menyelesaikan persoalan ekonomi lokal. Ketiga, tingkat digitalisasi, khususnya pemanfaatan layanan perbankan dalam tata kelola desa. Keempat, keberlanjutan program ekonomi yang telah dijalankan.

Selain indikator tersebut, komitmen pemerintah desa serta partisipasi aktif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam penilaian.

“Kami percaya, tanpa kepemimpinan lokal yang kuat, program apa pun akan sulit berkelanjutan,” katanya.

Dewi menjelaskan, implementasi Desa BRILiaN telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Salah satunya adalah meningkatnya kapasitas produksi UMKM berkat kemudahan akses pembiayaan dan berbagai pelatihan yang diberikan BRI.

Program tersebut juga mendorong terciptanya lapangan kerja baru di desa sehingga mampu mengurangi tekanan urbanisasi. Di sisi lain, tata kelola keuangan BUMDes menjadi semakin profesional dan akuntabel seiring meningkatnya pemanfaatan layanan perbankan dan digitalisasi.

Tak hanya itu, Desa BRILiaN turut memperkuat integrasi rantai pasok lokal, mulai dari produsen, pengolah, hingga pemasaran produk. Dengan demikian, perputaran ekonomi desa menjadi lebih cepat dan nilai tambah tetap dinikmati oleh masyarakat setempat.

Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, BRI menerapkan pola pendampingan secara konsisten. Mantri BRI berperan sebagai pendamping yang membantu desa dalam pengelolaan keuangan, peningkatan literasi perbankan, hingga membuka akses pembiayaan.

Selain pendampingan, BRI juga menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta membuka peluang pemasaran produk unggulan desa melalui berbagai pameran, platform digital, maupun jejaring mitra BRI.

“Kami ingin Desa BRILiaN tidak berhenti sebagai desa binaan, tetapi berkembang menjadi sentra ekonomi yang mandiri dan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” jelas Dewi.

Di wilayah kerja BRI Regional Office Bandung, saat ini terdapat 495 Desa BRILiaN yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Mayoritas desa tersebut mengembangkan potensi di sektor pariwisata serta industri pengolahan yang menjadi kekuatan ekonomi Jawa Barat.

Pada 2026, BRI kembali menambah 17 desa baru yang sedang mengikuti tahapan pelatihan Program Desa BRILiaN. Desa-desa tersebut berasal dari Kabupaten Ciamis, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Tasikmalaya.

Seluruh proses implementasi dilakukan secara bertahap melalui pendampingan langsung oleh Mantri BRI bersama tim Ultra Micro Business Region 9 Bandung. Melalui pendekatan tersebut, BRI berharap semakin banyak desa yang mampu mengembangkan potensi lokalnya, memperkuat kelembagaan ekonomi, serta menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.E2

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi Rakyat

Sarmini Ceu Odah, Camilan Tradisional yang Lahir dari Ketidaksengajaan

BANDUNG, Bisnistoday - Berawal dari ketidaksengajaan, siapa yang menyangka Ai Mulyani (56)...

Ekonomi Rakyat

Bertahan Lewat Inovasi dan Digitalisasi, Kisah Eka Mengembangkan Usaha Telur Gabus Keju

BANDUNG, Bisnistoday - Ketergantungan pada penjualan musiman membuat Engkar Kardiah harus memutar...

Ekonomi Rakyat

KUR Dorong UMKM Tumbuh Lewat Akses Permodalan yang Mudah dan Aman

BANDUNG, Bisnistoday - Bagi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),...

Pelaku UMKM
Ekonomi Rakyat

Awalnya Kebutuhan Sendiri, Akhirnya Mampu Ekspor Produk Anti Hama

BOGOR, Bisnistoday - Di tengah ramainya Campuspreneur Expo, stan SanGreat Natural Indonesia...