www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 2 Mei 2026
Home OPINI Profile Haji Chandra SH : Masa Kecil Saya Penuh Keprihatinan
Profile

Haji Chandra SH : Masa Kecil Saya Penuh Keprihatinan

Social Media

“Kalau diingat waktu kecil dulu, kami berasal dari keluarga yang tidak mampu. Kami bersaudara empat orang, dan saya anak tertua. Saya lahir tanggal 10-10-1964 di Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Pangkalan, Lima Puluh Kota. Saya memiliki satu adik lak-laki dan dua adik perempuan.”

Demikian Haji Chandra Datuak Bandaro, SH membuka pembicaraan dengan Bisnistoday.co.id di Jakarta, Agustus 2025.

Haji Chndra SH, yang saat ini berprofesi sebagai anggota DPRD Lima Puluh Kota, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan bahwa ayahnya bernama Masri, meninggal tahun 2000, sedangkan ibunya bernama Siti Malan, juga telah meninggal tahun 2023. Seperti laki-laki pada umumnya di Pangkalan itu, ayahnya berprofesi sebagai petani gambir dan ibunya berladang padi di hutan-hutan.

Pendidikan sekolah dasar (SD diselesaikannya di Gunung Malintang. Kemudian H Chandra SH terpaksa merantau ke Kecamatan Pangkalan untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP).

“ Di Nagari Gunung Malintang tidak ada SMP, kami merantau ke Pangkalan. sekitar 15 kilometer dari nagari kami.” Kata H Chnadra SH.

Karena tidak ada saudara di Pangkalan, H Chandra terpaksa indeskos di Jorong Lubuak Nago. Setelah tamat di SMP, H Chandra SH melanjutkan ke Pendidikan ke Padang, yakni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) selama 4 tahun.

“ Dalam proses pendidikan di SMSR itu muncullah berbagai kesulitan, terutama untuk biaya hidup sehari-hari,” tegas H Chandra SH.

Tapi H Chandra SH tidak mau menyerah. Kebetulan di sekitar tempat indekostnya itu ada seorang Ketua RT yang berprofesi sebagai polisi. Karena kesibukan pak RT itu ,mereka perlu bantuan untuk melaksanakan tugasnya sebagai Rukun Tetangga. Maka H Chandra ditunjuklah sebagai perwakilan RT di sana. Dari tugas sehari hari membantu pak RT itulah H Chandra SH memperoleh uang tambahan belanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari melengkapi kiriman uang dari ayahnya.

“Kadang – kadang saya membantu keluarga pak RT itu belanja ke pasar, antar anaknya ke sekolah, Uang kos pun akhirnya tidak bayar, jadilah mereka seperti orang tua angkat saya sampai tamat SMSR 1987-1988.” Kata H Chandra SH.

Setelah tamat SMSR di Padang, H Chandra SH kembali pulang ke kampung halaman di Pangkalan. Orang tua memaksa H Chandra SH untuk melanjutkan sekolah ke perguruan Tinggi, sehingga nanti bisa jadi pegawai negeri sipil (PNS0. Tapi saat itu H Chandra tidak pernah bercita-cita untuk menjadi PNS.

“ Maka berangkatlah saya ke Payakumbuh, menjadi guru honor di sejumlah sekolah. SMP Muhammiyah, di pondok -pondok,Tsanawiyah, sampai SMA,” ungkap H Chandra SH.

Kalau mengingat mas-masa itu, sangat sedih sekali, bisa menitikkan air mata. Honor mengajar di sekolah-sekolah waktu itu masih sangat kecil. Pergi mengajar naik angkot. H Chandra SH harus naik-turun angkot berganti-ganti untuk pindah dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mengajar.

“Ada empat sekolah tempat saya mengajar saat itu. Kadang tiga sehari ada dua, tapi rata-rata dalam seminggu ada empat sekolah saya mengajar,” ungkap H Chandra SH.

Selain mengajar di sejumlah sekolah, H Chandra SH juga dipercaya sebagai ketua organisasi pemuda di nagarinya di Gunung Malintang. Disinilah selama 6 tahun dia mengasah jiwa kepemimpinannya.

Dalam kepemimpinannya selama menjadi ketua pemuda, ada sebuah peristiwa yang tragis yang sulit untuk dilupakannya, yaitu konflik antara masyarakat nagari Gunung Malintang dengan PTPN IV (dulu PTPN VI).

“Di tahun itu di Gunung Malintang berdiri PTPN IV, ruang lingkupnya sampai ke Gunung Malintang. Terjadi benturan atau konflik antara pemuda dengan PTPN. 1982-1983 terjadi pembakaran terhadap asset PTPN, mobil, kantor, koperasi semua dirusak dan dibakar warga,” ungkap H Chandra.

Sebagai ketua Pemuda, H Chandra dipanggil bolak balik ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait dengan aksi mass aitu. “Kita dipanggil aparat dan saat itu banyak masyarakat yang dijatuhi hukuman sampai tujuh orang selama tujuh tahun,” ungkap H Chandra SH..

Karena tidak tahan dengan suasana di kampung, apalagi dirinya sudah berumah tangga, H Chandra SH memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, yakni berjualan gambir. H Chandra berjalan dari kampung ke kampung untuk mencari dan mengumpulkan gambir dari petani. (Bersambung)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Victor Hartono
Profile

Belajar dari Jejak Panjang Keluarga Hartono: Ketika Bisnis Bukan Sekadar Warisan, Tapi Perjuangan Zaman

JAKARTA, Bisnistoday - Kepergian Bambang Hartono beberapa waktu lalu bukan sekadar kehilangan...

Profile

Ini Isi Surat Megawati ke  Pemerintah Iran, Pasca Tewasnya Ali Khamenei

JAKARTA, Bisnistoday - Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof.Dr. Megawati...

Mantan Wapres RI
Profile

In Memoriam: Try Sutrisno, Suara Kritis di Senja Usia untuk Pancasila

JAKARTA, Bisnistoday - Indonesia kembali kehilangan seorang negarawan senior yang hingga akhir...

Profile

Selamat Ginting Raih Gelar Doktor Ilmu Politik 

JAKARTA, Bisnistoday – Universitas Nasional (UNAS)  menggelar Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor...