JAKARTA, Bisnistoday – Kenaikan harga bensin memicu lonjakan inflasi di Amerika Serikat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Konflik AS-Israel dengan Iran membuat harga BBM melonjak 5,5 persen pada April lalu.
Pengeluaran konsumsi pribadi, yang nenjadi ukuran Bank Sentral AS untuk menilai inflasi, naik 3,8 persen selama setahun terakhir pada April, setelah kenaikan 3,5 persen pada bulan sebelumnya, menurut laporan Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan, Kamis (28/5/2026).
Lembaga itu menyebutkan, secara bulanan, PCE (Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi) juga naik 0,4 persen pada bulan April setelah kenaikan 0,7 persen pada bulan Maret.
Secara keseluruhan, harga barang naik 0,7 persen. Lonjakan terbesar terjadi pada harga bensin, naik 5,5 persen karena konflik AS dengan Iran menekan pasar energi global.
Harga rata-rata untuk satu galon bensin (3,78 liter) adalah US$4,42, naik dari US$4,17 pada bulan lalu, dan naik dari US$2,98 per galon pada 28 Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran.
Data itu menyebutkan harga makanan juga naik sebesar 0,5 persen, yang merupakan kenaikan harga bulanan terbesar sejak November 2022.
Biaya perumahan dan utilitas juga melonjak sebesar 0,6 persen. Pengeluaran konsumen juga meningkat sebesar 0,5 persen setelah kenaikan 1 persen pada bulan Maret.
Kini banyak warga AS menggunakan tabungan mereka. Berdasarkan data tingkat tabungan turun sebesar 2,6 persen pada bulan lalu.
Tekanan Bank Sentral
Meningkatnya Inflasi memberikan tekanan pada Bank Sentral menjelang pertemuan kebijakan pertama mereka di bawah ketua baru, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada 16-17 Juni.
“Gambaran inflasi semakin tidak nyaman bagi The Fed,” kata Olu Sonola, kepala ekonomi AS di Fitch Ratings, kepada kantor berita Reuters. “Tekanan harga kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan, dan meskipun The Fed tidak dapat memperbaiki guncangan pasokan, mereka tidak dapat mengabaikan guncangan yang memicu inflasi mendasar.”
Bank sentral diprediksi mempertahankan inflasi di kisaran 3,50-3,75 persen hingga tahun 2027. Analisis JPMorgan Chase baru-baru ini memproyeksikan suku bunga akan tetap stabil hingga pertengahan 2027.
Hal itu tercermin dalam risalah bank sentral dari pertemuan 28-29 April, yang menunjukkan para pembuat kebijakan cenderung menaikkan suku bunga.
Meskipun laporan menunjukkan inflasi yang meningkat, pasar saham di AS tetap naik. Nasdaq naik 0,6 persen dan S&P 500 naik 0,5 persen, sementara Dow Jones Industrial Average hampir datar — hanya naik 0,05 persen pada perdagangan tengah hari.//


