www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 1 Agustus 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis IAI Mencatat Masih Sedikit Arsitek Indonesia yang Memiliki STRA
Ekonomi & Bisnis

IAI Mencatat Masih Sedikit Arsitek Indonesia yang Memiliki STRA

Ikatan Arsitek Ind
UNTUK bisa bersaing, IAI dorong arsitek Indonesia Miliki STRA./
Social Media

BANDUNG, Bisnistoday – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berharap, para arsitek di Indonesia mengurus dan memiliki surat tanda regulasi arsitek (STRA). Saat ini dari 26 ribu anggota IAI, baru sekitar 4.400 yang telah memiliki STRA, yang dikeluarkan oleh Dewan Arsitek Indonesia (DAI). selain itu arsitek juga harus memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi di tempat arsitek berkarya.

“Dua hal ini penting dimiliki oleh arsitek dengan tujuan utama nya untuk melindungi arsitek lokal. Izin diperlukan karena pemilik otoritas kawasannya adalah pemerintah provinsi. Misalkan bila seorang arsitek memiliki izin di Jawa Barat (Jabar), bila ia akan melakukan kegiatan di provinsi lain, Ia harus berpartner dengan kantor arsitek di daerah
tersebut,” kata Ketua Umum IAI Georgius Budi Yulianto melalui keterangannya Senin (19/2).

Georgius menambahkan dalam rangka mengamplifikasi peran serta arsitek dalam Masyarakat, serta kehadiran arsitek Indonesia di kancah Regional dan Internasional, IAI akan pada tanggal 22 hingga 25 Februari 2024, menyelenggarakan ARCH:ID ke 4. Sebagai even festival-eksibisi dan conference tahunan terbesar.

“ARCH:ID merupakan kegiatan pertama setiap tahun yang dilakukan dalam konteks 4 negara, Indonesia ARCH:ID- Februari 2024, Thailand ASA FORUM-Mei 2024. Malaysia DATUM -Juli 2024 dan Singapura ARCHI FEST –
September 2024.

Perkembangan Lambat

Menurut Georgius, di Indonesia regulasi yang dimiliki profesi arsitek sedikit terlambat, baru pada tahun 2017, Indonesia memiliki undang-undang arsitek yang memiliki konsekuensi hukum. Jadi seorang arsitek itu bukan hanya menggambar atau mendesain bangunan, tapi memiliki tanggung jawab atas hasil karyanya meliputi empat hal yakni
keandalan, keamanan, keselamatan dan kesehatan.

“Saat ini anggota IAI yang tercatat per Januari 2024 sebanyak 26.000, tapi sebagian besar berdomisili di kota-kota besar. Ini dikarenakan pembangunan lebih banyak di kota-kota besar terutama daerah Jawa. Tapi sekarang, kita bersyukur banyak pembangunan jalan tol seperti di Sumatera, Sulawesi, yang tentunya membutuhkan tenaga arsitek di tempat tersebut,” ujarnya.

Georgius menjelaskan, hingga hari ini pemilik STRA di Indonesia baru sekitar 4.400-an atau dengan ratio 1:80.000 orang, dibandingkan dengan China yang rasionya mencapai 1:15.000 orang. Tentu jauh sekali arsitek Indonesia tertinggal, jadi tugas IAI sekarang mendorong arsitek Indonesia memiliki STRA, agar juga bisa bersaing dengan arsitek asing.

Harus diakui lanjut Georgius, kehadiran arsitek asing ini merugikan banyak sisi, seperti dari sisi pajak, income untuk arsitek lokal. Bisa-bisa arsitek Indonesia hanya jadi penonton. Karena yang berkarya hanya arsitek asing. Selama ini arsitek Indonesia, hanya jadi maklum dari arsitek asing. Hal ini banyak terjadi di proyek proyek swasta. Di Indonesia arsitek asing selama ini banyak mengambil porsi di bangunan mega proyek seperti apartemen dan bangunan pencakar langit lainnya.

“Sebenarnya masyarakat kita kurang terinformasikan, bahwa arsitek Indonesia juga mampu untuk merancang bangunan seperti yang dihasilkan oleh arsitek asing. Kenapa arsitek lokal kalah bersaing dengan arsitek asing untuk mendapatkan proyek di daerahnya, terutama proyek dari pemerintah. Ini disebabkan banyak yang belum memahami, bahwa STRA bisa dipergunakan untuk semua prosedur konstruksi,” bebernya.

Praktik Arsitek

Saat ini kata Georgius, praktek arsitek asing di Indonesia ada tiga macam. pertama arsitek asing yang berkantor di Indonesia , namun memiliki proyek di seluruh dunia. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah di Indonesia. Dua, arsitek asing yang membuka kantor di Indonesia dan mencari proyek arsitek di Indonesia.
Alasannya karena di wilayah Asean, di Indonesia lah yang proyeknya masih sangat banyak, baik swasta ataupun proyek pemerintah.

“Ketiga, arsitek asing yang datang dari luar dengan membawa investor dari negara asalnya untuk membangun proyek di Indonesia. Ini banyak dilakukan karena tingkat pengawasan yang rendah, seharusnya arsitek asing itu juga seharusnya bekerjasama dengan arsitek lokal,” tuturnya.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Komitmen Jaga Integritas Anti Korupsi Guna Sukseskan Program KDKMP

JAKARTA, Bisnistoday –  Kementerian Koperasi menegaskan komitmennya menjaga integritas dan kepercayaan publik...

Gedung Kemenperin
Ekonomi & Bisnis

Permintaan dan Produksi Manufaktur Indonesia Tercatat Naik Per Juli 2026

JAKARTA, Bisnistoday –  Tercatat, dalam Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Juli 2026...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Puji Festival Bunga dan Buah Kabupaten Karo

JAKARTA - Menteri Koperasi Ferry Juliantono memuji Festival Bunga dan Buah Karo...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Nilai Minat Kalangan Muda Berkoperasi Semakin Tinggi

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan minat kalangan muda...