JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan kinerja impresif. Di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, pasar saham Indonesia justru mencatatkan rekor baru, menandai optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional ke depan.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai arah pasar saham sepanjang 2026 masih konstruktif. Perusahaan sekuritas asal Korea Selatan itu mematok target IHSG di level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta peluang kebijakan moneter dan fiskal yang lebih selaras.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan IHSG melanjutkan momentum penguatan sejak tahun lalu. Pada awal Januari 2026, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi dengan penutupan di level 8.944,8.
“Yang menarik, penguatan IHSG terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang menurun, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan negara yang masih lemah,” ujar Rully.
Tak hanya dari dalam negeri, tekanan eksternal juga membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda bahkan sempat ditutup di atas level Rp16.800 per dolar AS, tertinggi sejak April 2025.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi Rupiah memaksa Bank Indonesia bersikap ekstra hati-hati dalam menentukan arah suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun pasar saham tetap bergerak positif karena investor melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat berjalan seirama,” jelas Rully.
Pertumbuhan Meningkat
Mirae Asset memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat meningkat menjadi 5,3 persen, lebih tinggi dibandingkan estimasi 2025 yang berada di kisaran 5,1 persen. Kinerja tersebut akan sangat ditentukan oleh efektivitas belanja fiskal dalam mendorong sektor-sektor produktif.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi faktor kunci untuk menopang target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, fondasi pasar akan semakin kuat,” tambahnya.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun banyak ditopang oleh saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS. Tren ini dinilai masih berpotensi berlanjut seiring menguatnya harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital juga diproyeksikan menjadi motor penggerak pasar, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang terus meningkat.
Dengan kombinasi momentum pasar yang solid, prospek ekonomi yang membaik, serta peluang sinergi kebijakan yang lebih kuat, Mirae Asset tetap bullish terhadap kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026.//


