JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (23/4) ditutup menguat 22,68 poin ke posisi 6.016,86. Sementara indeks LQ-45 naik 8,79 poin ke posisi 902,74.
Analis MNC Sekuritas, Herdiya Wicaksana mengatakan, terdapat beberapa sentimen dalam minggu ini yang mempengaruhi pergerakan IHSG salah satunya Presiden AS Joe Biden yang merencanakan kenaikan pajak capital gain untuk masyarakat kelas atas untuk mendanai stimulus bagi masyarakat AS.
Sentimen lainnya, yaitu data ekonomi AS dan rilis kinerja keuangan perusahaan di AS yang cenderung membaik, meskipun adanya kenaikan kasus Covid-19 secara global, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi pemulihan ekonomi global.
Dari domestik, suku bunga acuan Bank Indonesia BI 7-Day Reverse Repo Rate bertahan di level 3,5 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dibuka menguat, IHSG sempat melemah pada awal-awal perdagangan namun tak lama naik kembali dan terus bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor terkoreksi dimana sektor transportasi & logistik turun paling dalam yaitu minus 0,84 persen, diikuti sektor properti dan sektor kesehatan masing-masing minus 0,39 persen dan minus 0,32 persen.
Sedangkan tujuh sektor meningkat dimana sektor energi naik paling tinggi yaitu 1,36 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor perindustrian masing-masing 1,03 persen dan 0,97 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” sebesar Rp42,64 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 935.893 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,37 miliar lembar saham senilai Rp9,23 triliun. Sebanyak 189 saham naik, 282 saham menurun, dan 168 saham tidak bergerak nilainya.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.525 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.520 per dolar AS.
Analis pasar uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, memang masih minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat rupiah banyak dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kenaikan kasus baru Covid-19 global.
“Dolar AS juga cenderung menguat dalam dua hari terakhir, sedikit rebound setelah sempat menyentuh level terendah dalam beberapa pekan,” ujar Rully./


