JAKARTA, Bisnistoday: Upaya gencatan senjata untuk meredam konflik di Timur Tengah, terancam berantakan. Pasalnya, salah satu pihak yang bertikai, Israel tetap memborbardir Libanon. Iran pun bereaksi dengan kembali memblokade kapal tanker di Selat Hormuz.
Padahal, sehari sebelumnya, AS dan Iran sepakat untuk menghentikan sementara perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Gencatan senjata ini berlangsung selama dua pekan. Mereka juga setuju untuk berunding di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2026).
Iran dan Pakistan (yang menjadi perantara gencatan senjata) pada menit-menit terakhir, sama-sama menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut, mencakup Libanon.
Namun, menurut Guardian, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak setuju. Pasukan Israel pun tetap melancarkan serangan mereka ke Libanon.
Begitu pula Donald Trump. Setelah awalnya bungkam, Presiden AS ini mengatakan Libanon adalah “konflik terpisah” dan bukan bagian dari kesepakatan.
PBB Mengecam
Skala serangan Israel ke Libanon pada Rabu (8/4) mendapat kecaman dari ketua hak asasi manusia PBB, Volker Turk.
“Pembantaian seperti itu, hanya beberapa jam setelah menyetujui gencatan senjata dengan Iran, sungguh sulit dipercaya. Hal ini mengganggu upaya proses perdamaian yang sangat dibutuhkan oleh warga sipil,” katanya.
Dalam pernyataan yang bernada keras, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Israel dan AS telah melanggar beberapa klausul gencatan senjata sementara.
Ia juga mengecam pemboman agresif Israel terhadap Libanon dan tuntutan AS bahwa Iran tidak berhak untuk memperkaya uraniumnya sendiri.
“Dalam situasi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak masuk akal,” bunyi pernyataan tersebut.
Meskipun pernyataan tersebut tidak mengumumkan penolakan Iran terhadap gencatan senjata, hal itu tetap mengindikasikan bahwa ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Kantor berita Fars mengatakan Iran telah menghentikan kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz sebagai akibat dari “pelanggaran gencatan senjata” Israel.
Iran seharusnya membuka kembali selat tersebut selama dua minggu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Harga minyak pun sempat turun tajam di bawah US$100 per barel dalam beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, yang memicu lonjakan pasar saham global.
Namun, kabar gembira tersebut tidak berdampak langsung bagi ratusan kapal tanker yang terjebak di Teluk akibat konflik. Mereka kini sedang menunggu persetujuan dari perusahaan asuransi sebelum mulai bergerak dan melaporkan gangguan berkelanjutan pada sistem navigasi satelit mereka.//


