JAKARTA, Bisnistoday- Aksi ambil untung kembali terjadi, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (19/10) ditutup melemah 2,77 poin ke posisi 6.656. Sementara indeks LQ45 turun 1,28 poin ke posisi 975,16
Tim Riset Indo Premier Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Selasa (19/10) menyebutkan penurunan barometer perdangangan di BEI kali ini dipengaruhi oleh ambil untung investor menjelang hari libur nasional.
Sedangkan sejumlah isu positif bagi IHSG antara lain dipertahankannya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 3,5 persen oleh Bank Indonesia
Selain itu katalis positif lainnya yaitu mulai dirilisnya laporan keuangan dalam negeri dan menguatnya mayoritas indeks di bursa Wall Street.
Dibuka menguat, IHSG tak lama melemah dan lebih banyak menghabiskan waktu di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tak mampu beranjak dari teritori negatif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dimana sektor barang konsumen nonprimer naik paling tinggi yaitu 0,9 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik serta sektor kesehatan masing-masing 0,79 persen dan 0,55 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi dengan sektor teknologi turun paling dalam yaitu 1,57 persen, diikuti sektor energi dan sektor properti & real estat masing-masing turun 0,59 persen dan 0,41 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp513,38 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.347.931 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,33 miliar lembar saham senilai Rp13,86 triliun. Sebanyak 247 saham naik, 262 saham menurun, dan 149 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 190,06 poin atau 0,65 persen ke 29.215,52, Indeks Hang Seng naik 377,46 poin atau 1,49 persen ke 25.787,21, dan Indeks Straits Times meningkat 25,19 poin atau 0,79 persen ke 3.199,01.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 34 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.076 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.110 per dolar AS.
“Ada perbaikan sentimen pasar terhadap aset berisiko hari ini terutama didukung oleh membaiknya laporan penghasilan perusahaan di tengah pandemi,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.
Selain itu, lanjutnya, terkoreksinya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS hari ini juga membantu penguatan rupiah.
Yield obligasi tenor 10 tahun bergerak turun ke bawah 1,6 persen. Menurut Ariston, hal tersebut mungkin juga disebabkan oleh pandangan pengetatan moneter oleh bank sentral negara lainnya selain The Fed.
“Bank Sentral Inggris menebar wacana kenaikan suku bunga tahun ini, ECB menyatakan ada potensi pengurangan stimulus. Bank sentral Selandia Baru dan Korea sudah menaikkan suku bunga,” ujar Ariston.
Dari domestik, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility juga dipertahankan masing-masing sebesar 2,75 persen dan 4,25 persen.
Rupiah pada Selasa pagi dibuka menguat di posisi Rp14.068 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.068 per dolar AS hingga Rp14.090 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa menguat ke posisi Rp14.080 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.096 per dolar AS./



