JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Kesehatan RI meminta semua pihak tidak terlalu tergesa-gesa menetapkan status sebagai fase endemik pada Covid-19 berbagai varian. Terpenting adalah upaya pengendalian, pre endemik baru selanjutnya dinilai perlu untuk masuk ke fase endemik. Hal tersebut ditegaskan oleh Jubir Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi kepada media secara daring, di Jakarta, Selasa (2/3).
“Kita jangan bicara fase endemic dululah, intinya sekarang terkendali kemudian masuk pre endemik, dan selanjutnya baru fase endemik. Terpenting adalah laju penularan ditekan, sebab, kemarin dalam kurun waktu September, Oktober, November , dan Desember tiba-tiba muncul varian baru,” terang Nadia Tarmizi.
Menurutnya, semua pihak melakukan pemantauan bersama ke depan dan mendorong proses vaksinasi, untuk memberikan proteksi secara individu dan komunitas. Cakupan vaksinasi juga harus ditingkatkan, dan booster didorong semua.”Tentu potensi mutasi virus bisa terjadi, namun dengan mencegah orang sakit tentunya sama saja mencegah mutasi terjadi,” tukasnya.
Nadia Tarmizi menuturkan, dengan melandainya kasus baru Covid-19 tentunya tidak serta merta melepas masker kesemuanya. Tentunya, aspek pengendalian sangat penting, sebelum masuk pra endemik dan menjadi fase endemik. “Saya pikir, buat kebijakan jangan terburu-buru, aspek kesehatan adalah yang utama dan kebijakan itu menyusul,” tuturnya.
Nadia Tarmizi mengharapkan pada ajang G-20 nanti sudah ada kebijakan yang bersifat universal bagi setiap negara. Hal tersebut sangat dibutuhkan dalam rangka melakukan perjalanan masyarakat dunia. “Untuk itu, kita harus genjot vaksin ke pelosok desa, dari pemda juga mendorong dengan ujung tombak yakni puskesmas di wilayah perbatasan dan terluar,” tuturnya.
Waspada Libur Panjang
Menurut Jubir Kemenkes ini, seperti biasanya setelah libur panjang terjadi peningkatan kasus Covid-19. Sebab, varian Omicron sangat cepat penularannya. “Deteksi dini sangat diperlukan dalam mengatasi lonjakan Covid. Isoman sangat penting, dan mengetahui gejala dininya,” tuturnya.
Kendati begitu, lanjut Nadia Tarmizi, pemerintah berupaya untuk menyiagakan rumah sakit, yang sekarang ini tingkat Bed Occupancy Ratio (BOR) rata-rata sekitar 30% di wilayah Jawa dan luar Jawa. Kalau pencegahan tidak dilakukan tentu beban BOR akan semakin meningkat.
“Liburan nanti, ada potensi lonjakan kasus. Dan pada 2 Maret 2022 ini, merupakan genap usia dua tahun Covid -19 melanda negeri ini. Diharapkan tahun ketiga bisa berdampingan , dengan protokol ketat, semoga segera masuk fase endemik,” harapnya./










































