JAKARTA, Bisnistoday- Kebijakan yang arogan Presiden AS, Donald Trump membuat dunia terkaget-kaget. Kebijakan tarif reciprocal perdagangan Presiden Trump, tidak hanya membuat sinis lawan dagangnya seperti China, tetapi kawannya sendiri seperti Kanada, Mexico maupun Eropa juga geleng-geleng kepala.
Ternyata, sebenarnya kebijakan Presiden Trump ini juga ditentang warganya karena harga barang menjadi mahal. Perekonomian dunia yang belum pulih benar dari krisis Pandemi Covid-19, kini dihadapkan gejolak perang dagang AS.
Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina mengatakan, data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat tumbuh negatif sebesar -0,3% pada kuartal pertama 2025. Sementara JP Morgan memperkirakan potensi resesi mencapai 40% akibat imbas kebijakan perdagangan serta penurunan impor AS dari Tiongkok hingga 70–80%.
Begitupun, lebih lanjut, Wijayanto mengatakan, indeks kepercayaan konsumen AS turun ke angka 86, di bawah ambang normal 100. Namun, alih-alih mengakui krisis, Trump justru masih dalam kondisi penyangkalan dan terus menyalahkan Joe Biden atas kegagalan ekonomi ini. Wijayanto menguraikan saat diskusi publik bertajuk “100 Hari Trump: Tsunami Geopolitik dan Ekonomi Bagi Indonesia?” secara daring di Jakarta, Jumat (2/5).
Baca Juga : Tarif Reciprocal Trump, Indonesia Siapkan Langkah Jalur Negosiasi
Menurut Wijayanto, ada dua temuan utama dalam gaya kepemimpinan Trump. Pertama, Trump memandang dunia sebagai panggung reality show, dimana semakin kontroversial suatu isu, semakin menarik bagi dirinya. Kedua, ia bersama tokoh seperti Elon Musk menunjukkan kekhawatiran besar terhadap potensi kebangkrutan fiskal AS, yang menjadi dasar kebijakannya.
“Selama 10 tahun terakhir, defisit anggaran AS berkisar antara 3,1% hingga 5,8% terhadap PDB. Kenaikan tarif impor yang digagas Trump diklaim untuk melindungi industri dalam negeri dan mengurangi beban fiskal, namun kalkulasi yang keliru justru memperparah keadaan. Perang dagang Trump bergerak dalam tiga dimensi: mempertahankan hegemoni AS, mengurangi defisit perdagangan, dan menekan defisit anggaran” tegas Wijayanto.
Indonesia Mesti Respon Cepat
Bagi Indonesia, menurut Wijayanto, situasi ini berdampak langsung. Sekitar 45,4% dari surplus ekspor Indonesia berasal dari Amerika Serikat, menjadikan negeri ini sangat rentan terhadap gejolak ekonomi AS. Wijayanto menekankan pentingnya respons nasional yang terstruktur. Pemerintah, dalam keadaan darurat ini membentuk tiga satuan tugas sudah sangat baik yaitu satgas perundingan dagang, satgas perluasan kesempatan kerja, dan satgas deregulasi.
“Kita membutuhkan deregulasi total, full-blown deregulation. Saatnya Indonesia bersaing eye to eye dan neck to neck dengan Vietnam, yang kini menjadi outlier dalam menarik investasi global secara mengesankan” tutur Wijayanto.
Ekonomi Paramadina ini juga menyoroti Country Complexity Index yang menunjukkan rendahnya kecanggihan produk ekspor Indonesia. Sebagian besar ekspor unggulan Indonesia masih berupa komoditas primer seperti batu bara, CPO, tembaga, nikel, minyak, dan gas. Sekitar 40% nilai ekspor Indonesia berasal dari produk-produk ini.
Untuk bisa bersaing, Wijayanto menuturkan, Indonesia perlu melakukan reformasi struktural mendalam, termasuk pemberantasan premanisme ekonomi, penyederhanaan perizinan, efisiensi sektor keuangan, penguatan TKDN dan FTA, insentif pajak, penanganan ekonomi bawah tanah, perbaikan sektor ketenagakerjaan, dan penurunan biaya logistik.
Ia menambahkan, gejolak global harus dihadapi dengan strategi nasional yang solid dan proaktif. Indonesia tidak bisa hanya bereaksi biasa, tetapi harus menata ulang kebijakan agar tetap relevan dan kompetitif di tengah ketidakpastian dunia./




