www.bisnistoday.co.id
Rabu , 29 Juli 2026
Home HEADLINE NEWS Kenaikan PPN 12% Bakal Perburuk Tekanan Ekonomi Kelas Menengah
HEADLINE NEWS

Kenaikan PPN 12% Bakal Perburuk Tekanan Ekonomi Kelas Menengah

Gedung Ditjen Pajak
Gedung Direktorat Jenderal Pajak./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah bakal menaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dari 11% menjadi 12% pada tahun 2025. Apabila diterapkan, pengamat menilai akan memperburuk tekanan ekonomi kelas menengah yang sekarang sudah cukup berat.

“Dampak kenaikan PPN ini berpotensi menurunkan PDB sebesar 0,17%, yang dipicu oleh penurunan konsumsi, ekspor, serta daya saing sektor industri padat karya. Kondisi ini juga akan memperburuk tekanan terhadap kelas menengah yang telah menghadapi beban ekonomi yang signifikan,” ungkap . M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF di Jakarta, Senin (2/12).

Rizal mengatakan saat diskusi publik bertajuk “PPN 12%: Solusi atau Beban Baru?” yang diselenggarakan Universitas Paramadina bekerja sama dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Diskusi publik ini menghadirkan pakar ekonomi dan akademisi untuk membahas dampak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% yang akan diberlakukan mulai Januari 2025, diskusi diadakan pada Senin (2/12).

“Situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian memperbesar tantangan bagi Indonesia. Kenaikan PPN, selain mempengaruhi daya beli masyarakat, juga diperkirakan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan konsumsi rumah tangga, dan peningkatan inflasi” tegas Dr. M. Rizal Taufikurahman.

Sementara, Adrian A. Wijanarko, MM, Ekonom Universitas Paramadina  menyoroti dampak kenaikan PPN terhadap generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial. Menurutnya, kelompok ini telah menghadapi berbagai tekanan, baik internal seperti kebutuhan untuk mandiri secara finansial maupun eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global, persaingan kerja, dan kebijakan pemerintah.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan PPN akan menyebabkan harga barang dan jasa meningkat, sehingga Gen Z dan milenial cenderung mengurangi konsumsi dan lebih fokus pada menabung untuk pendidikan, properti, dan investasi. “Dari sisi perilaku keuangan, kenaikan PPN ini akan mempengaruhi pola konsumsi dan strategi finansial generasi muda ke depan” tuturnya.

Kondisi Fiskal Bermasalah

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengutarakan, kenaikan PPN menjadi 12% mencerminkan kondisi fiskal Indonesia yang tengah menghadapi tantangan besar. “Penurunan penerimaan pajak nasional hingga Oktober 2024 sebesar 0,4% dibandingkan tahun sebelumnya, rendahnya rasio pajak, serta meningkatnya utang negara menjadi sinyal serius terhadap keberlanjutan fiskal” ujarnya.

Ia juga menyoroti inkonsistensi kebijakan ekonomi Indonesia, yang di satu sisi mendorong penerimaan pajak rendah tetapi di sisi lain mengalokasikan belanja yang tinggi untuk subsidi dan program sosial. Menurutnya, kenaikan PPN ini harus disertai dengan reformasi menyeluruh, seperti mengatasi penyelundupan, memperbaiki tata kelola pajak, dan mengurangi insentif pajak berlebih untuk sektor tertentu.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Mirae Asset Sekuritas Akui Pergerakan IHSG Masih Terkendali

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik...

WARGA Cimahi
HEADLINE NEWS

Ribuan Sumur Bor Dioptimalkan Untuk Jangkau Wilayah Rawan Kekeringan

JAKARTA, Bisnistoday – Bencana kekeringan mulai dirasakan masyarakat khususnya daerah rawan ketersediaan...

BSPI 2030
HEADLINE NEWS

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo Resmi Mengundurkan Diri

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri...

Menteri PU
HEADLINE NEWS

Menteri Dody Pastikan Kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Sragen Jawa Tengah

SRAGEN, Bisnistoday - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau Sekolah Rakyat...