JAKARTA, Bisnistoday – Pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan mulai menguat pada awal 2026, seiring membaiknya optimisme konsumen dan meningkatnya dukungan pemerintah terhadap perekonomian.
Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita Situmorang menjelaskan perbaikan kepercayaan masyarakat menjadi kunci utama pemulihan permintaan kredit. Dukungan fiskal melalui penyaluran bantuan sosial, penempatan dana pemerintah, serta transmisi penurunan suku bunga turut memberikan dorongan positif bagi dunia usaha.
“Ketika pelaku usaha mulai melakukan ekspansi, penciptaan lapangan kerja ikut meningkat dan memperkuat keyakinan konsumen untuk kembali meningkatkan belanja. Ini yang diyakini akan mempercepat pertumbuhan kredit,” kata Hosianna dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Menurut Hosianna, indikator pemulihan seperti penerimaan PPN yang mulai tumbuh, dianggap sebagai sinyal paling awal dari membaiknya postur makroekonomi. Untuk proyeksi 2026, Bank Danamon mengidentifikasi pertumbuhan kredit yang sejalan dengan ekspektasi Bank Indonesia dan OJK.
Dengan pertumbuhan kredit nasional yang kini menuju kisaran 8 persen, Bank Danamon melihat peluang kuat untuk mendorong ekspansi menuju sekitar 9 persen, seiring menguatnya pertumbuhan uang beredar yang sudah mencapai dua digit.
Dari sisi sektoral, kebutuhan kredit modal kerja diperkirakan masih menjadi penopang utama. Sektor konsumsi juga dinilai akan kembali pulih, terutama ditopang industri makanan dan minuman (F&B), yang disebut sebagai kontributor paling signifikan dalam jangka pendek.
Selain itu, pembiayaan terkait komoditas seperti CPO juga diprediksi memberi dorongan tambahan terhadap penguatan kredit pada tahun mendatang.
Aktivitas belanja masyarakat pada periode libur akhir tahun pun diramalkan mencatat pertumbuhan positif. Hosianna menyebutkan bahwa data ritel menunjukkan peningkatan baik dari sisi volume maupun nominal transaksi, menandakan pola konsumsi yang kembali menguat menjelang pergantian tahun.
Pertumbuhan transaksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 5 persen, selaras dengan laju konsumsi rumah tangga Indonesia yang umumnya berada di kisaran 4,6–5 persen per kuartal. Namun, meski permintaan domestik menunjukkan tren membaik, sejumlah risiko tetap menjadi perhatian.
“Risiko kredit, khususnya NPL (Non-Performing Loan), saat ini sudah berada pada titik terendah. Stabilitas politik dan regulasi dalam negeri juga dinilai menjaga fondasi ekonomi tetap solid. Namun, faktor global dipandang sebagai sumber ketidakpastian utama,” terangnya.
Hosianna menambahkan keputusan The Fed terkait kebijakan suku bunga berpotensi memengaruhi ruang gerak Bank Indonesia dalam melanjutkan penurunan suku bunga, sehingga transmisi ke ekonomi domestik perlu terus dipantau.
Menjelang 2026, permintaan diperkirakan pulih bertahap karena likuiditas membaik, tetapi keberlanjutan konsumsi tetap bergantung pada pemulihan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, dan konsistensi dukungan fiskal pemerintah di tahun mendatang. (E2-Novita Lestari)




