JAKARTA, Bisnistoday – Titimangsa kembali mempersembahkan Resital Kelas Akting Titimangsa 2025. Tahun ini, resital menghadirkan empat lakon klasik dunia yang dipentaskan dalam satu rangkaian.
Acara ini merupakan puncak dari kelas akting Titimangsa yang diampu Iswadi Pratama, sastrawan dan seniman teater yang sebelumnya telah mendirikan Teater Satu Lampung sejak tahun 1996.
“Ini adalah momen perayaan bagaimana orang mengekspresikan diri lewat keaktoran, dan bukan hanya orang yang ingin jadi aktor, tapi siapapun yang ingin memaknai dirinya, berekreasi dengan batinnya, mengenali teks hingga kedalaman,” ujar Happy Salma sebagai salah satu pendiri Titimangsa di Jakarta, beberapa waktu lalu
Kelas Akting Titimangsa adalah salah satu upaya untuk membentuk komunitas dimana seseorang jadi memiliki ruang untuk lebih kritis dalam menghadapi situasi apapun. Salah satunya melalui teks.
“Kami adalah ruang komunitas yang tidak mengikat, tapi punya rasa guyup didalamnya. Kelas Ini adalah salah satu upaya kita melawan berbagai berita yang dangkal yang berkntribusi atas kebodohan. Dengan kita punya pikiran kritis, membedah naskah, berkumpul, hingga berdikusi, kita jadi punya pandangan yang lebih solid dalam melihat masalah apapun dihidup,” tutur Happy.
Baca Juga : Galeri Indonesia Kaya Rayakan 12 Tahun Perjalanan
Sejumlah 25 peserta telah melalui proses intensif menggunakan metode Mixed Methods Acting. Metode ini dikembangkan dari prosedur kerja pemeranan yang diterapkan oleh Lee Strasberg, Stella Adler, Meisner, dan Stanislavski, juga prinsip-prinsip meditasi, yoga, dan bela diri.
Metode ini membimbing aktor untuk mampu menciptakan kehidupan lahir batin dari karakter yang mereka perankan, serta meraih kembali otentisitas dari individu. Kelas ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, diikuti oleh peserta dengan rentang usia yang luas, mulai dari 15 hingga 58 tahun.
Iswadi Pratama selaku pengampu kelas juga menyoroti keberlanjutan pembelajaran bagi peserta. Dirinya mengatakan, peserta sesudah kelas pasti butuh wadah atau arena untuk melanjutkan pelajaran yang telah mereka dapatkan selama kelas.
“Artinya mereka sebenarnya memiliki kesiapan untuk ditampung oleh kelompok-kelompok teater yang ada di Jakarta. Kehadiran mereka dapat menambah sumber daya manusia terutama di bidang keaktoran,” ujar Iswadi Pratama, pengampu kelas.
Dirinya menambahkan bahwa umumnya setelah kelas berakhir, peserta cenderung ingin membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melanjutkan studi mereka. Hal ini pada akhirnya memperbanyak komunitas teater, sehingga sebarannya menjadi lebih luas dan berpengaruh terhadap ekosistem teater secara keseluruhan.
Selain itu, Iswadi juga menyoroti bahwa menurutnya kehadiran peserta kelas turut mempengaruhi bertambahnya jumlah penonton teater.
“Mereka ini kan ada kebutuhan untuk tahu lebih jauh, lebih dalam tentang pertunjukan teater. Artinya, dari situ jumlah penonton bertambah. Kemudian ketika mereka menjalani studi peran, film menjadi satu-satunya media yang bisa diakses secara cepat dan bisa setiap saat. Itu artinya, penonton film juga ikut bertambah,” tuturnya.
20 Tahun Perjalanan Reza Rahadian
Tahun ini, resital juga menjadi bagian dari perayaan 20 tahun perjalanan karier Reza Rahadian di dunia seni peran dan film. Dalam semangat membuka akses yang lebih luas bagi talenta baru, Reza bersama Titimangsa menghadirkan program beasiswa penuh bagi sebagian peserta terpilih.
“Ada lima orang yang dipilih oleh reza untuk dapat beasiswa. Mereka berhak ikut workshop tanpa biaya. Mereka kini turut tampil dalam empat produksi bersama dengan para peserta reguler lainnya. Hal ini menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat fondasi regenerasi seni peran di Indonesia,” ungkap Happy.
Resital Kelas Akting Titimangsa 2025 menghadirkan empat pertunjukan yang semuanya bersifat absurd namun dengan ciri absurd yang berbeda. Tiga diantaranya ber-genre komedi dengan gaya dan bentuk yang berbeda: 1. Pesta para Penipu (Le Bal des Voleurs), karya Jean Anouilh, saduran Rachman Sabur 2. Pinangan (The Proposal), karya Anton P. Chekhov, saduran Jim Lim & Suyatna Anirun 3. Pencuri Berbudi Luhur (The Virtuous Burglar), karya Dario Fo, terjemahan Dian Ardiansyah 4. Pemberontak (Les Justes), karya Albert Camus, terjemahan Iswadi Pratama./










































