BANDUNG, Bisnistoday – Bagi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mengembangkan bisnis bukan hanya soal produk dan konsumen. Ketersediaan modal juga kerap menjadi tantangan yang harus dihadapi, terutama ketika usaha mulai berkembang dan membutuhkan tambahan biaya untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun memperluas pasar.
Di tengah tantangan tersebut, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI hadir sebagai solusi bagi pelaku usaha untuk mendapatkan tambahan modal. Pengalaman itu dirasakan Engkar Kardiah, pelaku UMKM asal Kota Bandung, yang merasa sangat terbantu oleh KUR.
Perempuan yang akrab disapa Eka itu mengawali usahanya dari berjualan kue kering sejak 2018. Seiring berjalannya waktu, ia mengembangkan berbagai produk, termasuk Telur Gabus Keju Raffasa yang kini menjadi salah satu andalannya.
“Saya juga memanfaatkan KUR. Sejauh ini saya sudah beberapa kali melakukan pengajuan dan bahkan beberapa kali mendapatkan penawaran untuk menambah plafon pinjaman,” ujar perempuan yang akrab disapa Ibu Eka.
Menurut Eka, program KUR BRI sangat membantu UMKM dengan bunga yang ringan, proses yang cukup mudah dan aman. Di tengah upaya memperluas usaha, kebutuhan modal menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha.
Meskipun awalnya mengaku sempat ragu untuk mengajukan pinjaman, keputusan tersebut kini diakuinya membawa dampak positif bagi bisnis yang dijalankannya.
“Awalnya saya juga berpikir tidak perlu pinjaman karena usaha masih bisa berjalan. Tapi setelah mencoba, ternyata sangat membantu,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu keunggulan program tersebut adalah bunga yang ringan sehingga tidak terlalu membebani pelaku usaha. Selain itu, pengajuan juga dinilai mudah selama usaha yang dijalankan benar-benar ada dan aktif beroperasi.
“Kalau memang benar-benar punya usaha dan usahanya berjalan, menurut saya tidak dipersulit. Tinggal menunjukkan bukti usaha yang kita jalankan, produk, dan aktivitas penjualannya. Kalau saya tinggal tunjukan saya ini jualan saya, ini catatan penjualannya semua ada,” katanya.
Eka mengaku telah beberapa kali memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut. Baginya, keberadaan KUR menjadi salah satu solusi yang memudahkan pelaku UMKM memperoleh akses permodalan untuk mendukung pengembangan usaha.
Apalagi, verifikasi yang dilakukan dinilai cukup sederhana dan berfokus pada kondisi usaha yang sebenarnya.
“Saat survei saya tidak khawatir karena usaha memang ada dan berjalan. Tinggal menunjukkan produk, stok barang, dan aktivitas usaha sehari-hari,” ungkapnya.
Ia menilai program pembiayaan seperti KUR dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk naik kelas, terutama bagi pelaku usaha yang ingin memperluas kapasitas produksi atau mengembangkan produk baru.
Meski demikian, Eka mengingatkan bahwa pinjaman tetap harus dimanfaatkan secara bijak. Menurutnya, dana yang diperoleh sebaiknya digunakan untuk mendukung perkembangan usaha sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Menurut saya sayang kalau ada fasilitas yang bisa membantu UMKM berkembang tetapi tidak dimanfaatkan. Yang penting digunakan sesuai kebutuhan usaha dan dikelola dengan baik,” tuturnya.
Dengan dukungan akses permodalan yang semakin mudah, Eka optimistis pelaku UMKM memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh. Ia berharap semakin banyak pelaku usaha kecil yang berani memanfaatkan fasilitas pembiayaan produktif untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.
Makin Kompetitif
Senada dengan itu, Dewi Hestiningrum S, RCEO BRI Region 9 Bandung, mengatakan bahwa kendala utama UMKM dalam mengakses KUR biasanya bukan terletak pada kelayakan usahanya, melainkan pada aspek teknis, seperti belum adanya pencatatan keuangan yang rapi, dokumen legalitas yang belum lengkap, serta literasi perbankan yang masih terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BRI menerjunkan Mantri ke lapangan guna memberikan literasi keuangan, membantu UMKM menyusun pencatatan arus kas sederhana, serta membimbing proses pengajuan agar memenuhi standar kelayakan. Pada banyak kasus, peran Mantri tidak berhenti saat pencairan dana, tetapi berlanjut sebagai mitra diskusi yang mendampingi UMKM agar dapat terus berkembang melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Menurut Dewi, dampak KUR terhadap pertumbuhan dan proses “naik kelas” UMKM sangat terukur dan dapat dipantau secara berkelanjutan.
“Kami melihat peningkatan kapasitas produksi yang signifikan di kalangan penerima KUR, perbaikan legalitas usaha, kemampuan menyerap tenaga kerja lokal yang lebih besar, serta pertumbuhan kemandirian finansial. Indikator yang paling membanggakan bagi kami adalah ketika UMKM yang dahulu menerima KUR akhirnya bertransisi ke kredit komersial. Itu artinya mereka benar-benar berhasil naik kelas,” pungkasnya.E2









































