www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home EKONOMI Masih Ada Kesenjangan Gender Dalam Dimensi Ekonomi
EKONOMI

Masih Ada Kesenjangan Gender Dalam Dimensi Ekonomi

Asdep Peningkatan Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Eko Novi Ariyanti menyatakan, masih ada kesenjangan gender dalam dimensi ekonomi, di mana status perempuan masih lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Asdep Peningkatan Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Eko Novi Ariyanti menyatakan, masih ada kesenjangan gender dalam dimensi ekonomi, di mana status perempuan masih lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Tingkat pengeluaran per kapita perempuan dan tingkat angkatan kerja perempuan masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. “Kita melihat bahwa pengeluaran per kapita perempuan masih lebih rendah daripada laki-laki. Data BPS tahun 2018, perempuan pengeluarannya hanya Rp9,04 juta per tahun, sedangkan laki-laki Rp15,55 juta per tahun,” kata Novi Ariyanti dalam webinar tentang Peran Perempuan dalam Memajukan Koperasi dan UMKM di Jakarta, Rabu (22/12).

Sementara, lanjutnya, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan jauh lebih rendah, bahkan mengalami penurunan sebesar 0,94 persen dari Februari 2019 sebesar 55,50 persen menjadi 54,56 persen pada Februari 2020.

Selain itu Novi juga mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) bahwa partisipasi perempuan semakin mengecil pada skala usaha yang lebih besar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh LPEM FEB UI, partisipasi perempuan dalam usaha mikro sebesar 30,46 persen, pada usaha kecil 35,13 persen, dan pada usaha menengah 21,88 persen.

“Pelaku usaha perempuan menurun di skala usaha yang lebih besar. Makin ke atas, makin sedikit mereka yang bergerak di usaha tersebut,” kata Novi.

Selain di sisi usaha, Kementerian PPPA juga menyebutkan bahwa distribusi perempuan dalam pembangunan belum optimal. Sebagai contoh dalam angkatan kerja, dari setiap tiga laki-laki yang bekerja terdapat dua perempuan yang bekerja. Kondisi ini tidak berubah semenjak 10 tahun terakhir.

Novi juga mengungkapkan keterlibatan perempuan di ruang publik juga masih rendah, masih jauh di bawah batas afirmasi keterwakilan 30 persen. Kementerian PPPA juga menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan, serta perempuan yang bekerja sebagai tenaga profesional masih di bawah 50 persen./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Para pengunjuk rasa menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pada Oktober lalu. (dok: Peerapon Boonyakiat/Sopa Images/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Utang Luar Negeri Semakin Mencekik Negara Miskin

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Negara-negara miskin kini semakin sulit untuk berinvestasi untuk masa...

Pemilu Sela di AS (dok: The GuardianSteven Garcia/NurPhoto/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Demokrat Menangi Pemilu Sela di AS, Apa Dampaknya bagi Asia?

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Suku Bunga Mekaar 8 Persen Resmi Berlaku

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pembahasan RUU Perkoperasian Capai 80 Persen, Ditargetkan Rampung Tahun Ini

JAKARTA, Bisnistoday – Sekretaris Kementerian Koperasi (Kemenkop) Ahmad Zabadi menyampaikan pembahasan Rancangan...