www.bisnistoday.co.id
Jumat , 26 Juni 2026
Home NASIONAL & POLITIK Negeri Tengah Didera Sakit Komplikasi
NASIONAL & POLITIKPolitik & Keamanan

Negeri Tengah Didera Sakit Komplikasi

FOTO ILUSTRASI Tindak Pidana Pencucian Uang, suatu negara.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Munculnya transaksi yang mencurigakan sebesar Rp349 triliun sebagai pertanda buruk terhadap kesehatan pengelolaan negara sekarang ini. Mega skandal ini tentu menyangkut berbagai entitas bisnis dan apabila dibiarkan akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Abdul Hamid, Ketua Pengurus LP3ES mengutarakan, bagaimana melihat kondisi dan masa depan birokrasi dan pemerintahan pada saat ini?  Hal ini tergantung pada kesehatan negaranya.  Jadi, birokrasi dan pemerintahan akan berkelanjutan tergantung negara makin sehat atau sebaliknya.

“Nampaknya, negara sedang mengalami komplikasi empat macam penyakit: sakit sembelit, sakit syaraf, busung lapar, dan sakit jantung,” cetus Abdul Hamid, saat diskusi publik yang dimotori, Paramadina Public Policy Institute (PPPI) dan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bertema; Masa Depan Reformasi Birokrasi dan Pemerintahan (Berkaca pada kontroversi 349T di Kementerian Keuangan RI) di Jakarta, Rabu (12/4).

Pertama, lanjut Abdul Hamid, kondisi negara seperti sakit sembelit,dengan faktanya sedang banyak penyakit selama 10 tahun terakhir ini.  Negeri ini sedang sakit sembelit karena ada polarisasi antara Cebong dan Kampret.

Abdul Hamid mengatakan, kedua, sakit syaraf. Negara sudah mati rasa terhadap soal keadilan dan tuntutan rakyat atas berbagai aspirasinya, sperti soal tuntutan pembatalan uu cipta kerja dan lain sebagainya.

“Ketiga, busung lapar dimana berkah durian runtuh penerimaan negara tidak menjadikan rakyat semakin sejahtera. Negara punya duit banyak tetapi rakyat tetap melarat,” ujarnya yang menyedihkan.

Abdul Hamid menuturkan, skandal atau peristiwa kasus transaksi aneh Rp349 triliun menunjukkan negara banyak duit. Tetapi apakah dana itu mengalir mensejahterakan rakyat bawah? “Inilah persoalannya,” tukasnya.

Bisa Mati Mendadak

Persoalan keempat, lanjut Abdul Hamid, seperti penyakit jantung yang bisa menyerang mendadak negara ini sampai collaps. Apakah kondisi ini hanya perlu obat warung atau gawat perlu siap-siap dipanggilkan ambulan, maka yang bisa jawab adalah dokter yang menjadi nara sumber seminar.

“Apakah kondisi yang berjalan seperti ini cukup dengan obat warung atau perlu dibawa ke rumah sakit segera? Ini memerlukan jawaban dan penting. Artinya kita perlu mendeteksi penyakit-penyakit itu, agar ada jawabannya.”

Ia menuturkan, jangan sampai negeri ini masuk pada pada siklus tak berujung, yakni kekerasan yang terjadi terus-menerus serta permusuhan. Polarisasi tanpa berhenti karena kita bersama tidak mampu memperbaikinya.  “Jika terus terjadi maka tidak bisa lain kecuali  panggilkan ambulans untuk dioperasi,” tuturnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Politik & Keamanan

Megawati Gelar Silaturahmi Kebangsaan Bersama Tokoh Gerakan Nurani Bangsa

JAKARTA - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan,...

Fahri Hamzah
Politik & Keamanan

Fahri Hamzah: Banyak Orang Kaget Transformasi Besar-besaran yang Dilakukan Prabowo

JAKARTA- Bisnistoday - Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus...

Menteri Nusron
Politik & Keamanan

Dengarkan Aspirasi, Menteri Nusron Rangkul Mahasiswa Bersinergi Dalam Perbaikan Kebijakan

YOGYAKARTA, Bisnistoday – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN),...

Ketum Gelora
Politik & Keamanan

Anis Matta: Tugas Para Pemimpin Dengarkan Suara Rakyat

JAKARTA, Bisnistoday - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta...